Makam Liana tidak jauh dari sana. Foto Liana terlihat ramah dan penuh kasih sayang senyumannya tetap sama seperti dulu.
Alma menyapu sedikit debu yang ada di atas batu nisan membersihkannya dengan sapu tangan kecil, lalu dia berkata.
"Nenek aku datang menjenguk nenek sekarang sudah memasuki musim dingin lagi, aku ingat dulu nenek suka membuatkan aku sup jahe merah untuk mengusir rasa dingin. Tapi sekarang bahkan rasa sup itu sudah tidak ada rasanya lagi bagiku.
Karena agak lelah setelah berdiri terlalu lama dia pun duduk di samping batu nisan Alma memperlakukan Liana seolah-olah masih hidup dan bernostalgia.
"Aku dan Davin baru saja menikah tapi dia sudah berubah dia bukan lagi orang yang ku kenal,dulu dia selalu bilang kalau dia akan melindungiku dari badai dan hujan."
"Tapi sekarang semua badai yang aku hadapi ini adalah badai yang dibawa olehnya. Jika Nenek masih hidup Nenek pasti tidak akan membiarkan dia memperlakukan aku seperti itu."
Alma tersenyum terpaksa dan berkata,"Nenek, rupanya Davin menikahiku bukan karena cinta, dia dendam pada aku dan keluargaku. Dulu nenek pernah bilang jika dia berani menindasku nenek akan merangkak keluar dari peti mati dan meledakkan kepalanya meskipun nenek sudah meninggal."
"Aku pun sekarang merasa hidup ini sudah tak lagi indah seperti dulu, mungkin aku ingin mati saja bagaimana kalau kita meledakkan kepalanya bersama-sama."
"Nenek, aku merindukan nenek!"
Alma terus mengoceh tanpa menyadari ada bayangan tinggi besar yang berdiri di belakangnya, tapi suara patahan ranting yang terinjak telah membayarkan lamunannya.
Alma mendongak dan terkejut melihat ternyata Davin telah berdiri di belakang dirinya. Tetapan mata pria itu dingin dan wajahnya menampilkan aura gelap yang menakutkan.
Tiba-tiba Alma merasakan pusing yang luar biasa dan kepalanya terasa berputar, hampir saja dia tersungkur ke depan makam neneknya Davin.
"Apa yang kamu lakukan di sini ingin membuat keributan atau bermaksud mencari masalah baru denganku?!"
"Kamu tidak pantas datang kemari dan mengunjungi makam Vanya."
Rupanya dari tadi Davin memperhatikan apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Bila kamu ingin membuat keonaran disini, percaya atau tidak aku akan menyuruh seseorang untuk mencabut tabung oksigen Riky."
Suara Davin yang berat dan mengintimidasi terdengar seperti guntur di telinga Alma. Alma menoleh dan menatap wajah datar sang suami yang tanpa ekspresi bersalah sama sekali.
Alma mencoba berdiri dan melangkah mendekati Davin.
"Kamu sungguh sudah berubah, Davin."
Alma meneteskan air mata tanpa bisa ditahan lagi. Tangan Alma mencengkeram erat pakaian Davin, air matanya pun membasahi kemeja Davin. Jelas-jelas pernah mengatakan bahwa dia tidak akan pernah membiarkan Alma meneteskan air mata lagi, tapi sekarang jelas-jelas dia penyebab Alma menangis.
"Aku hanya ingin berdoa didepan makam adikmu karena kau tak pernah memberitahuku dengan jelas apa yang terjadi, suratnya beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa kakakku tak bersalah."
Davin mendengus kesal, tapi dia membiarkan lengan Alma terus memegangi kemejanya, terbersit rasa pilu di hati Davin melihat wajah Alma yang kuyu dan sembab. Tapi setelah mengingat lagi kondisi Vanya yang mengenaskan saat dia menemukannya hati Davin kembali mengeras.
Davin mendorong tubuh Alma dengan keras sehingga gadis itu terhuyung ke belakang. Alma merasa kepalanya sangat pusing sampai rasanya dia ingin muntah. Dia berjongkok dan memegangi kepalanya.
Davin memicingkan matanya dia heran dengan perilaku Alma.
"Jangan bersandiwara di depanku Alma, aku tahu kamu gadis yang mempunyai fisik yang kuat bukankah dari dulu kamu sering berolahraga dan berlatih bela diri."
"Sekarang juga cepat pergi dari tempat ini atau pengawalku yang akan menyeretmu pergi Alma!"
Alma memaksakan diri untuk bangkit, pandangannya buram dia hendak berjalan melangkah tapi ponselnya berbunyi.
Rupanya itu adalah panggilan dari rumah sakit yang bertanya pelunasan biaya ayah Alma, karena sebentar lagi tindakan operasi akan segera dilakukan.
Alma menutup telepon dengan wajah yang penuh kekhawatiran mau tidak mau dia pandangi wajah Davin dan berharap bisa meminta bantuan dari pria itu.
"Davin, aku mohon pinjami aku uang untuk melunasi biaya pengobatan Ayahku, aku berjanji akan berusaha membayarnya padamu kembali."
Davin menyeringai dingin, rasanya dia begitu menikmati segala kesulitan yang dialami oleh Alma baik itu kesedihan ataupun kegalauan hatinya.