5

671 Kata
Alma memicingkan matanya melihat nama yang ada di batu nisan. 'Vanya Hayes' Tak lagi kemudian Eric mengirim pesan yang isinya lokasi dimana pemakaman itu berada. Setelah berterima kasih pada Eric lantas Alma meletakkan ponselnya di ranjang. Wajah Alma berubah sendu, dia teringat dengan sesuatu yang janggal beberapa bulan yang lalu. Davin pergi ke luar negeri untuk satu Minggu lamanya, David bilang ingin menemui adiknya yang sudah lama jarang pulang karena sekolah di luar negeri, sekalian mengurus pekerjaan yang juga membuka cabang disana. Tapi setelah pulang dari negeri Utara, Davin tampak selalu murung dan lebih banyak diam. Saat Alma bertanya, Davin bilang dia sedang banyak sekali pekerjaan yang harus diurus dan Alma percaya begitu saja Memikirkan sampai kesitu Alma mencoba menghubungkan berbagai peristiwa yang mungkin terjadi. "Lebih baik aku bertanya pada Billy, bukankah waktu itu dia yang pergi menemani Davin ke negeri Utara." Alma lantas segera menelepon Billy, di berharap supaya Billy bisa memberinya sedikit informasi tentang misteri kematian Vanya. "Ya hallo, ada apa nyonya Alma?" Suara Billy diseberang sana terdengar agak gugup. Sepertinya dia cenderung kaget saat menerima telepon dari Alma. "Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu, Billy." "Ini mengenai mendiang Vanya,adiknya Davin. Apa kamu bisa memberitahukan sesuatu tentang penyebab kematian Vanya?" Billy tercekat mendengar pertanyaan istri bosnya, tenggorokannya mendadak terasa kering. "Nyonya, Saya bingung mengungkapkannya karena hal ini bersifat rahasia dan menyangkut kepentingan tuan Davin." Alma menghela nafas panjang, dia sudah menduga bahwa Billy akan tidak semudah itu memberinya jawaban. "Setidaknya beri aku petunjuk walaupun sedikit, Billy." Alma terus mendesak dengan nada suara pelan dan menghiba, membuat Billy menjadi tidak tega mendengar suara Alma yang begitu memohon. "Aku tahu hal ini akan menyulitkan dirimu, tapi aku sudah tidak punya cara yang lain." "Davin tidak mau mengatakan apa-apa. Ayahku beras saja dioperasi dan masih belum sadar sekarang kondisi keluargaku sudah merosot jadi seperti ini, semua petunjuk pun tidak bisa ditelusuri sekalipun mati aku hanya ingin mati dengan tenang itu lebih baik daripada terus disiksa olehnya siang malam." Suara alamat penuh keputus asaan dan memang itulah yang terjadi sebenarnya, Alma sangat frustasi. "Nyonya, Tuan Davin melarangku membicarakan masalah ini jadi kami juga tidak tahu banyak." Billy sepertinya menyadari bahwa Alma akan terus memohon kepada dirinya sehingga dia pun langsung menuliskan serangkaian petunjuk berupa alamat, yang dikirim melalui pesan w******p. "Nyonya kita sudah lama saling kenal dan bersahabat aku hanya dapat membantu nyonya sampai di sini." Billy segera menutup sambungan telepon dengan Alma. Dia melihat dari kejauhan Davin melambaikan tangan kearahnya. "Semoga saja tak terjadi apa-apa dengan nyonya Alma, yang kutahu dulu tuan Davin mulai berubah saat pergi ke luar negeri dan mengidentifikasi jenazah," gumam Billy dalam hati. Sementara Alma tertegun membaca pesan yang dikirim Billy rupanya lokasi pemakaman itu adalah sama yang diinformasikan oleh Eric. Hari menjelang siang dan Alma sudah sampai di area pemakaman. Tempat itu adalah sebuah pemakaman keluarga yang mewah di mana orang-orang yang dimakamkan di sana adalah orang kaya dan berpengaruh termasuk Liana neneknya Davin. Alma membeli bunga kamboja favoritnya Liana. Beberapa saat kemudian Alma menemukan sebuah kuburan baru yang dikelilingi oleh pohon plumeria sudah berbunga dan akan segera mekar tidak lama lagi. Batu nisan yang dingin itu terukir dengan nama yang sudah dikenal Alma sebelumnya,"Makam Vanya Hayes." Dia tahu bahwa Davin sangat mencintai adik perempuannya. Tapi sejak Davin pulang dari luar negeri, dia menjadikan adiknya itu menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan. Alma berjongkok dan melihat foto di batu nisan tersebut. Sepertinya itu adalah foto Vanya ketika berusia remaja sekitar 15 tahun wajahnya masih tampak cerah dan imut. Alma lantas meletakkan bunga kamboja yang awalnya dia beli untuk Liana, lalu berlutut di depan batu nisan Vanya dan berkata. "Vanya, namaku Alma jika kamu masih hidup kamu seharusnya memanggil aku sebagai kakak ipar. Oh tidak aku tidak tahu sampai kapan perkawinanku dan kakakmu akan berlangsung. Aku minta maaf karena harus mengenalmu dengan cara seperti ini. Aku yakin aku akan menemukan pelaku sebenarnya yang membunuhmu..." Alma tak menyadari bahwa di jalanan menuju area pemakaman, Davin berada di dalam mobil dengan membawa seikat bunga, dia bermaksud mengunjungi makam adiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN