Keesokan paginya, Diogo terbangun dengan perasaan sedikit linglung. Melihat Lili dalam pelukannya dan punggungnya menempel pada anggota tubuhnya, dia segera menjauh. Dia mengusap wajahnya dan menghela napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya dari pikiran dan sensasi yang menguasainya. Namun, dia tidak dapat menghilangkan ingatan akan sensasi saat bulatan wanita itu menyentuh kulitnya dan betapa menariknya benda itu. Ukurannya sedang, bulat, kencang, dengan ujung berwarna merah muda. Membayangkannya saja sudah membuat air liurnya keluar. Ketika Lili terbangun, dia menyadari bahwa Diogo sedang berbaring di tempat tidurnya, tampak sibuk dengan ponselnya. Dia meregangkan badan dan kemudian mendekatinya, memberinya ciuman selamat pagi di pipi. "Selamat pagi, Diogo." "Selamat pagi, b

