Selama bekerja, Lexi tidak bisa memusatkan konsentrasi sama sekali. Berkali-kali ia melakukan kesalahan, hingga akhirnya Chloe menegurnya.
“Dua perawat mengeluh padaku mengenai kinerjamu hari ini, Nona Dixon!” bisik Chloe dengan geram.
Lexi terdiam dan tidak menyangkal. Pertama ia gagal memasukkan jarum infus, yang kedua pasiennya mengeluh sakit saat Lexi menjahit tangan mereka.
Ternyata Lexi lupa membius lebih dulu dan itu sangat fatal.
“Aku butuh pergi dari shift-ku, Chloe. Bisakah kau mengambil alih semua pasienku?”
Temannya menatap dengan pandangan menyelidik.
“Tolong, please?” ulang Lexi.
“Apakah ini ada hubungannya dengan kasus tadi malam?”
Kepala Lexi mengangguk gugup. Ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari wanita yang selalu ingin tahu segala hal tersebut.
Setelah menimbang, akhirnya Chloe menyanggupi.
“Jangan lupa, kabari aku dan mungkin begitu selesai, aku akan menyusul!”
Tanpa berpikir lagi, Lexi mengiyakan.
Dengan dalih tidak enak badan, akhirnya Lexi berhasil meminta izin dari dokter residen yang cukup ketus tersebut.
Lexi berjalan cepat keluar dari rumah sakit untuk menemui Ben dan Tyrex.
**
Syal merah yang menyelubungi lehernya terlepas dan Lexi membetulkan buru-buru. Di taman kota itulah dia akan bertemu dengan Ben dan Tyrex. Derai salju memang turun dengan ringan, namun itu tidak mengurangi rasa dingin yang menggigit.
Jam menunjukkan pukul delapan malam lebih sepuluh menit. Tidak lama, mobil ford hitam milik Ben muncul dan Tyrex melambaikan tangan padanya.
Setelah masuk, Lexi meminta untuk menuju ke apartemen di tengah kota New York, milik Gwen, ibunya.
Dalam perjalanan, Lexi menceritakan semuanya dan Ben tertegun. Hampir saja ia melewatkan lampu merah, jika Tyrex tidak buru-buru menggunakan kekuatannya!
“Kau bisa menghentikan mobil?!” pekik Lexi dengan takjub.
“Ya. Ba-baru saja aku mengetahui, kemarin tepatnya,” sahut Tyrex dengan canggung.
“Wow! Telekinesis, superpower, dan indera keenam. Apalagi yang akan muncul nanti, Trey?” puji Lexi merangkum kekuatan yang Tyrex miliki.
“Kuharap cukup sampai di situ. Karena aku mulai tidak nyaman,” tukas Tyrex dengan senyum kecut.
Lexi mengangguk cepat-cepat, seketika rasa iba mengisi relung hatinya. Mungkin ini akan berat untuk Tyrex terima dan adaptasi. Menjadi manusia yang memiliki kemampuan, seperti dalam waktu semalam, tidaklah mudah.
Jika itu terjadi pada dirinya, mungkin Lexi juga akan terguncang.
“Kembali pada pernyataan ibumu, apakah itu berarti Liam Dixon terkait?” Ben mengajukan pertanyaan setelah menguasai diri.
“Kita akan cari tahu hari ini, Ben. Aku sendiri juga masih buta akan semuanya,” balas Lexi.
Ben mengangguk dan kembali melaju menuju apartemen Red Square.
Sepuluh menit, tanpa kemacetan, mereka berhenti di depan lobi apartemen yang dituju. Bangunan itu lebih mirip hotel bintang lima dengan petugas valet dan bellboy di pintu lobi.
Baik Ben maupun Tyrex berdecak kagum.
“Aku tahu jika Gwen sangat sukses dalam berkarir, tapi tidak menyangka jika tempat tinggalnya setaraf dengan miliuner negeri ini,” puji Ben dengan terkesima.
Lexi terdiam dan tidak berkomentar, keluar dari mobil tersebut buru-buru. Sikap itu menggelitik Ben untuk mengulik.
“Berapa kekayaan ibumu, Lexi? Kupikir kau tidak perlu susah payah menjadi dokter jika orang tuamu sekaya ini?” Sembari masuk ke dalam, Ben mencoba menggali informasi lebih.
“Tanpa harta ayahku, sekitar seratus juta dollar, in cash! Aku tidak bisa menghitung nilai lima mansion, dan dua yacht miliknya,” sahut Lexia dengan ringan.
Petugas valet memberi hormat dan menyapa Lexi dengan ramah. Mereka bahkan menyebut nama keluarganya!
Tyrex mendadak merasa kecil hati saat berjalan berdampingan dengan gadis itu. Ben membeliakkan mata dan mengangguk kikuk begitu Lexi memaparkan kekayaan ibunya.
“Dan kau masih memilih naik kereta untuk bekerja?” sindir Ben tidak memahami sikap dan keputusan dokter muda tersebut.
Mereka berhenti di depan lift dan Lexi pun menoleh pada Ben.
“Ada banyak hal yang menyenangkan dan aku merasakan kenikmatan menjadi manusia yang berjuang keras, hanya untuk bisa membayar tagihan dari keringatku sendiri, Ben. Jangan sama ratakan satu dengan yang lain.”
Ucapan itu cukup menohok Ben, sementara Tyrex mulai mengagumi wanita yang selain cantik ternyata juga memiliki prinsip yang luar biasa.
Lift dengan dinding kaca itu membawa mereka ke atas. Tyrex melihat pohon natal yang telah terpasang begitu tinggi di tengah, hingga hampir mencapai lantai lima.
Pohon yang begitu megah dan mewah itu laksana lambang dari kaum elit penghuni apartemen tersebut.
Sambutan Gwen sangat hangat dan ramah. Ia telah menyiapkan makanan kecil juga berbagai macam minuman di meja. Dua orang housekeeping terlihat bersiaga dan menata makanan yang entah kapan akan berhenti.
“Apakah akan ada pesta?” tanya Lexi terkesan sinis. Ia meletakkan tas murahnya di atas karpet, yang nilainya mungkin beratus kali lipat.
“Aku suka menjamu tamu dan berusaha menjadi tuan rumah yang baik, Lexi! Berhentilah bersikap seperti itu!” Gwen tampak kesal dan menggelengkan kepala.
Ben dan Tyrex mengambil dua gelas sampanye yang pelayan tawarkan, lalu Gwen mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.
Ukuran ruang tamu tersebut mungkin sebesar apartemen Lexi. Ibunya menikmati gaya hidup fantastis dan itu mungkin suatu keharusan, mengingat profesinya sebagai pengacara kelas atas.
“Kami datang memenuhi undanganmu, Nyonya Dixon ….”
“Gwen saja. Jangan terlalu formal. Lanjutkan,” pinta Gwen dengan sikap santai, memotong ucapan Ben.
“Baiklah, Gwen. Semua sudah kami dengar dari Lexi dalam perjalanan menuju ke tempat ini. Dan … mungkin kau bisa membantu menjelaskan mengenai asumsi sebelumnya?”
“Bukan lagi asumsi karena aku memiliki bukti dari kasus yang kutangani sepuluh tahun yang lalu.” Gwen bangkit, lalu menuju ke arah meja panjang yang menempel di dinding. Tangannya meraih tumpukan dokumen, lalu berjalan mendekat dan menyerahkan pada Ben.
“Bukalah, sebelum aku melanjutkan semuanya,” ucap Gwen.
Sementara Ben, Lexi dan Tyrex mengamati semua bukti yang Gwen sodorkan, wanita itu meminta dua housekeeping untuk meninggalkan ruangan.
Begitu usai, ketiganya menatap Gwen dengan wajah syok.
Dengan menumpangkan kaki, Gwen meneguk minuman.
“Dua anak kembar, putra dari Senator, telah terbunuh dan mayatnya dibuang begitu saja. Polisi menemukannya dalam gorong-gorong perbatasan kota. Pembunuhan yang cukup sadis karena meninggalkan kesan yang membuatku masih bergidik hingga saat ini. Dua remaja itu seperti merenggut sendiri jantungnya, dengan pisau yang masih tergenggam di tangan masing-masing.” Gwen mengatur emosi yang sepertinya mulai tidak menentu.
Semua menunggu dengan tegang dan detak jantung yang terpacu.
“Aku menangani kasus tersebut dan mengalami kebuntuan. Tidak ada sidik jari atau petunjuk. Bersih dan seperti tindakan bunuh diri. Dua remaja dilaporkan hilang selama tiga bulan dan aku mulai mencari tahu alasannya. Ternyata mereka terjebak dengan n*****a dan memilih pergi saat kedua orang tuanya hendak mengirim ke rehabilitasi. Yang menarik lagi, setelah aku meminta salah seorang sahabatku yang ahli syaraf untuk meneliti, dalam otak dua remaja itu tertanam chip!”
“Apa?!” seru Ben tidak percaya.
Gwen meletakkan gelas dan membuka halaman kesekian di dokumen tersebut. Telunjuknya menunjuk pada daftar dalam kertas yang mulai menguning.
“Empat puluh remaja raib dan tujuh belas di antaranya ditemukan meninggal dalam kondisi sama, dan aku juga menemukan chip yang sama!”
Tangan Gwen meraih plastik dari bawah meja dan meletakkan di atas.
“Aku tidak memiliki keberanian untuk meneliti, begitu menemukan fakta yang lebih mengejutkan lagi.” Kali ini Gwen menoleh pada putrinya.
Lexi kian gelisah karena merasa inilah waktu yang Gwen pilih untuk menguak tentang ayahnya.
“Selama bertahun-tahun, aku begitu tersiksa menjalani pernikahan dengan seorang pria yang kupikir begitu hebat dan sempurna. Tapi begitu berjalan dua tahun, tepatnya setelah kau lahir, Lexi, ayahmu mulai berubah kasar dan sering memperlakukan diriku begitu buruk. Tidak hanya kekerasan, tapi juga intimidasi yang membuatku seperti wanita yang tidak berguna.”
Kalimat Gwen bercampur tangis dan ia bahkan tidak menyeset tisu untuk menyingkirkan air matanya.
Posisi Ben dan Tyrex dalam situasi yang serba salah. Tidak seharusnya mereka mendengarkan drama keluarga ini!
Lexi mematung dengan rasa malu sekaligus penasaran akan kalimat selanjutnya.
“Aku terjebak dalam lingkungan yang begitu penuh toxic, karena Liam, ayahmu tidak ingin melepaskan diriku. Bersyukur karena nenekmu akhirnya memaksa untuk menarikku keluar dan mulai merintis karir sendiri. Tapi begitu aku berhasil menata kembali hidup juga mental, penemuan kasus sepuluh tahun yang lalu mengungkap siapa Liam Dixon yang sebenarnya!”
Detik itu juga Lexi merasakan mual.
“Dia adalah ahli syaraf terbaik di kota ini yang bekerja untuk Black Domino dan mengambil andil dalam menanamkan chip tersebut!” Gwen mengucapkan kalimat terakhirnya dengan penuh kebencian.
“Aku rusak karena kupikir semua salahku yang tidak memahami Liam. Tapi ternyata itu disebabkan oleh kegilaannya yang mengabdi pada seorang monster!”
“Maaf, memotongmu, Gwen. Bagaimana kau mengetahui jika Liam terlibat?” tanya Ben.
Gwen terdiam dan menoleh pada Lexi yang menatapnya dengan berkaca-kaca.
“Richard Potter, atasanmu, adalah polisi sekaligus kepala detektif yang menangani kasus tersebut. Dari situlah perselingkuhan Gwen dan Richard dimulai!” ucap Lexi dengan suara tajam.
Baik Tyrex maupun Ben terhenyak.
Ibu dan anak itu saling berpandangan dengan sikap saling bertentangan. Pada sisi Lexi, ia tidak percaya begitu saja mengenai hal tersebut. Sementara Gwen, ingin meyakinkan dan lelah menjadi pihak tertuduh selama ini.
“Tunggu! Jika benar Richard Potter, akulah yang menjadi bawahannya saat itu! Dan bisa aku katakan, tidak ada yang menyinggung mengenai chip!” cetus Ben kebingungan.
Gwen akhirnya menunduk dan mengambil tisu untuk menyusut air matanya.
“Ya, dalih suksesnya penggerebekan n*****a memang menjadi topik tepat untuk menghindari tudingan kegagalan, atas fakta yang jauh lebih mengerikan,” sahut Gwen. “Mereka memilih mundur saat itu, Ben. Kepala polisimu meminta Richard untuk melupakan dan menyerahkan pada FBI atau CIA. Entah bagaimana kelanjutannya, tapi kurasa sekarang kita tahu. Apa yang telah terhenti sepuluh tahun lalu, kini dimulai kembali.”
Ben membenarkan pernyataan Gwen dengan anggukan kagum.
“Aku tidak pernah melihat wajahmu sebelumnya. Daya ingatku sangat bagus, apa yang terjadi, Ben?”
Pertanyaan Gwen barusan sempat membuat Ben bimbang. Haruskah dia menjawab?