Pertanyaan dari Gwen belum Ben jawab. Wanita itu sepertinya masih menuntut informasi tersebut.
“Aku sudah menguak semuanya, termasuk aib keluargaku sendiri. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi, Ben Hardy. Cepat atau lambat, aku akan mengetahuinya.”
Imbuhan kalimat barusan kian menyudutkan Ben.
Akhirnya, dengan terbata-bata, detektif itu menceritakan semua kisah hidup tragisnya. Gwen terperangah, sementara menutup mulut rapat-rapat.
“Liam Dixon adalah pria yang kebetulan menolong persalinan istriku, sementara dia mengalami gangguan pada otaknya saat melahirkan. Tanya memang lumpuh sebelah kiri tubuhnya, namun setidaknya dia selamat akibat operasi yang Liam lakukan. Aku tidak menyangka, jika pria yang menyelamatkan istriku ternyata menyimpan kekelaman.”
Kepala Ben tertunduk dengan sikap serba salah.
Ruangan itu menjadi hening. Hanya bunyi detak jam di dinding yang terdengar.
“Banyak kisah yang terselubung. Liam meninggal seminggu setelah perceraian dan aku tidak percaya jika itu terjadi karena kondisi jantungnya.” Gwen tampak berkaca-kaca kembali.
“Jangan menyalahkan situasi yang kebetulan, Gwen! Dad meninggal karena tidak mampu menerima kenyataan kau berselingkuh!” cecar Lexi tidak lagi bisa menahan kekecewaan yang mengumpal.
“Lexi!” Tyrex berseru pada wanita yang menurutnya sangat keterlaluan kali ini.
Lexi pun membuang muka. Tiba-tiba Gwen bangkit dan masuk ke kamar. Tidak lama, ia kembali dan menyerahkan map plastik dengan logo rumah sakit Wellness Grace di ujung kanan atas.
“Ini adalah rekam medis ayahmu selama menjadi suamiku. Tidak ada gejala atau gangguan pada jantungnya!”
Lexi terpaksa menerima dokumen tersebut dan mulai membaca. Semua adalah benar yang dikatakan ibunya.
“Dan ini adalah jejak digital yang berhasil kuambil dari catatan pager dan telepon kantor Liam.” Kembali Gwen menyerahkan bukti yang kedua.
Kini Ben dan Tyrex mencondongkan tubuh untuk melihat semua catatan tersebut.
“Ada beberapa panggilan dan itu dari nomor yang tidak diketahui. Pesan yang tertulis, lima pesan terakhir, adalah berisi ancaman singkat dengan inisial BD di akhir kalimat!”
Tangan juga tubuh Lexi mulai gemetar. Ternyata ayahnya benar-benar terlibat dengan Black Domino!
Sekian lama ia menganggap pria itu adalah pahlawan yang tidak memiliki cela!
Namun yang terungkap saat ini, begitu menjijikkan sekaligus membuat perutnya mual!
“Bencilah aku karena menjadi orang yang membuat sosok Liam tidak lagi sempurna di matamu. Aku bisa menerima kebencian terhadap perselingkuhan yang telah aku lakukan. Tapi bagaimanapun juga, aku tidak pantas menerima tudingan selama bertahun-tahun.” Gwen mencoba menegarkan hati.
Lexi mulai terisak dengan bahu terguncang. Akhirnya dengan langkah cepat, Lexi berlari keluar menuju balkon. Mereka membiarkan gadis itu menata kembali hati, yang pasti terpukul atas semua yang ibunya paparkan.
“Ben, mendiang Liam jelas-jelas mencoba untuk berpaling dari Black Domino saat menyadari jika rumah tangganya hancur. Tapi tidak ada siapa pun yang bisa melarikan diri dari mafia monster itu. Jadi, selain karena aku ingin meluruskan pada putriku, ada hal lain yang ingin kucapai.”
Ben mengangguk dengan wajah penuh simpati.
“Katakan, Gwen. Aku pikir kita bisa menjadi tim dalam menyelesaikan ini semua,” sambut Ben.
Gwen memberikan ponsel canggihnya pada Ben.
“Kualitas video itu tidak begitu bagus. Tapi cukup mengenali sosok di dalamnya. Itu adalah pertemuan Liam, pada malam kematiannya. CCTV dari perpustakaan tua yang ada di kota ini menangkap dengan jelas.”
Ben mengamati dengan seksama, lalu memberikan pada Tyrex.
“Bukankah ini markasmu? Aku pernah meringkusmu di halaman itu bukan?” tanyanya.
Tyrex yang selama ini bungkam, mengangguk dengan cepat.
“Bagus, karena mungkin kita akan memulai dari sana. Kedua, aku ingin membalas kematian Liam. Meski dia pernah berlaku buruk, pria itu adalah ayah dari putriku. Aku pernah mencintainya. Entah apa yang Black Domino lakukan hingga mengubah Liam menjadi sosok yang beringas, aku ingin mencari tahu!” Gwen mengucapkan dengan penuh kegeraman dan juga dendam.
“Tentu! Kita bisa saling membantu, Gwen!” tanggap Ben kian antusias.
“Tapi aku tidak ingin polisi mengetahuinya, Ben. Karena bukan pengadilan yang akan memberi hukuman pada monster itu! Kau paham maksudku, Ben?” tanya Gwen.
Pria itu tampak terkesiap.
“Bukankah kau sendiri memiliki ambisi itu? Membalas semua yang telah monster itu renggut?”
Dengan sungkan Ben pun mengangguk.
Gwen tampak puas dan tersenyum pahit.
Sebagai wanita yang cukup berkuasa, Gwen jelas terlihat menguasai keadaan dengan baik. Sikapnya selalu anggun dan tenang. Emosi yang sempat meledak, tidak membuatnya goyah dan tetap melanjutkan dengan penuh fokus dan ketegasan.
Gaun hijau lumut panjang yang wanita itu kenakan memang menunjukkan tingkatan sosial, tapi Gwen bukanlah wanita lembek yang tidak mampu membela diri sendiri.
“Nah, Tuan Muller! Aku perlu mendapatkan beberapa informasi darimu. Terutama mengenai hilangnya para remaja atau pemuda dewasa yang kau kenal. Bisakah kau mengingat atau mengetahui dengan pasti mengenai lenyapnya mereka?” tanya Gwen kembali bersikap tegas.
Tyrex tergagap dan meminta waktu untuk berpikir.
“Bill, pemilik minimarket yang menyelamatkan diriku meninggal pada hari berikutnya. Mengenai hilangnya para gelandangan aku pikir mereka raib karena pertengkaran antar geng.” Tyrex kemudian menceritakan mengenai Wilson, penjual sarapan pagi yang akan memberikan informasi banyak pada mereka.
“Dia mengetahui hal apa saja yang ada di daerah ini. Pria itu bahkan menebak apa yang akan terjadi padaku,” sambung Tyrex.
Kening Gwen juga Ben berkerut.
Tyrex menambahkan kejadian pada pagi hari, hingga akhirnya memutuskan untuk bunuh diri pada hari yang sama. Semua terhenyak saat mendengar apa yang Wilson katakan, terutama Gwen yang sebelumnya tidak mengetahui jika Tyrex memiliki kekuatan!
“Maukah kau berjanji akan selalu melindungi putriku?” Sebuah pertanyaan yang sangat menyentuh hati siapa pun juga!
“Tentu, Nyonya Dixon. Lexi sudah menyelamatkan hidupku. Pasti aku akan berbuat hal yang sama,” sambut Tyrex dengan senyum menawan.
Gwen meraih tangan Tyrex tanpa segan dan meremasnya dengan lembut.
“Mungkin kehadiranmu adalah sosok yang Tuhan utus untuk membantu kami,” ucap wanita itu dengan suara sengau.
“Ya, aku pun berpikir demikian!” imbuh Ben sepakat.
“Benarkah? Ak-aku hanya pria gelandangan yang kacau!” Tyrex menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Gwen tersenyum dan menepuk pipi pemuda itu dengan pelan.
“Jika kriminal dan gelandangan setampan dirimu ada di mana-mana, aku yakin banyak perempuan yang merelakan diri untuk menjadi kekasihmu!”
Wajah Tyrex merona. Kulitnya yang cokelat terang dan indah seperti pria yang terawat kini memerah.
“Aku bahagia bisa mencapai titik ini!” seru Gwen tampak lega dan memejamkan mata dengan senyum.
“Bagaimana dengan Lexi?” tanya Ben seraya menunjuk ke arah balkon.
Gwen menoleh dan menatap putrinya.
“Dia akan terluka untuk sesaat. Tapi anakku tidak akan terpuruk dalam waktu lama.” Wanita itu membalikkan badan kembali.
“Wanita dalam keluargaku sangat tangguh. Ibuku, Jude Hawking, adalah yang terhebat,” sambung Gwen kini mulai meneguk kembali minumannya.
“Mendiang Jude Hawking, hakim yang terkenal itu?” seru Ben dengan mata terbeliak.
Gwen tertawa dan mengangguk. Ben terperangah. Kini ia mengerti dari mana semua kekayaan Gwen tersebut. Selain sebagai putri tunggal, Gwen juga mendapatkan akses yang mudah sebagai putri seorang hakim hebat di kota New York!
“Makanan itu akan terbuang sia-sia jika kita tidak segera menyantapnya,” ajak Gwen meminta keduanya menuju ke meja perjamuan. Dengan dua tepukan tangan, dua orang housekeeping kembali muncul dan melayani ketiganya.
Malam semakin larut. Tapi kepuasan yang mereka dapatkan malam itu membuat beban terasa ringan. Sementara Lexi duduk termangu di balkoni yang menghadap pusat kota New York, ia memikirkan semua perkataan ibunya baik-baik.
Mungkin semua yang telah mereka lalui harus berakhir dengan damai malam ini.