Fixing the Broken Bonds

1158 Kata
Setelah Ben dan Tyrex berpamitan, Lexi tetap memutuskan untuk tinggal. Masih banyak yang harus ia bicarakan dengan ibunya. Gwen baru selesai membereskan sisa perjamuan bersama kedua housekeeping yang bekerja untuknya. Lexi duduk di sofa bulat, menghadap ke arah jendela. Sembari memegang segelas sampanye, Lexi termenung dalam pikiran yang benar-benar berubah total. Ibunya baru selesai berganti baju dan berjalan mendekat, lalu duduk di salah satu sofa. “Dad pernah memberiku sebuah kado, pada hari terakhirnya. Hingga detik ini, aku tidak pernah membuka, karena keberanian itu lenyap setiap mengenangnya.” Suara putrinya terdengar sengau dan kering. Ada hantaman keras yang membuat mental juga jiwa Lexi terpukul dan Gwen tahu itu. Tapi kebohongan apa pun, harus terkuak, karena wanita tersebut tidak ingin putrinya hidup dalam kesemuan. Terlebih lagi, kematian Liam pantas mereka balas dan Black Domino harus dilenyapkan dari muka bumi. “Apakah kau ingin membukanya sekarang?” tanya Gwen dengan pelan. Lexi menghela napas. Apartemen mewah ini masih menyediakan kamar yang ia tempati dari remaja dulu. Karena kesibukan ayahnya, begitu Gwen merintis karir kembali, mereka memutuskan untuk membeli apartemen tersebut demi mobilitas yang masih mudah. Beberapa barang-barang masa remaja Lexi masih tersimpan di kamarnya, termasuk kado tersebut. “Kenapa kau tidak pernah menyerah untuk merengkuhku kembali, Gwen?” Lexi menoleh dan menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. Wanita yang masih rupawan di usia empat puluh lima tahun itu tersenyum sendu, penuh keibuan. “Kau adalah putriku, bagaimana aku bisa berhenti menyayangi dan pergi begitu saja?” “Tapi selama yang bisa aku ingat, kau tidak pernah memperhatikanku! Kau sibuk dengan mengasihani diri!” Emosi Lexi pun meledak. “Aku tahu! Itulah sebabnya, aku ingin kesempatan kedua.” Gwen menelan ludah dengan gugup, lalu menunduk dengan mata terpejam. “Aku dididik oleh seorang hakim yang tidak mengenal kehangatan. Nenekmu tidak pernah mengajariku tentang bagaimana menjadi seorang ibu. Hidupku jauh lebih menyakitkan dari yang kau alami, Lexi. Tidak mengenal ayah, dan tidak ada pelukan.” Lexi menatap ibunya dengan mata berlinang. “Apa pun yang akan kukatakan, tidak cukup bagus untuk alasan mengabaikan dirimu. Oh, Tuhan. Kau tidak tahu, betapa aku menyayangimu dan ingin menjadi ibu yang jauh lebih baik dari Jude Hawking!” Ibu dan anak, tenggelam dalam penyesalan yang disebabkan oleh sikap yang salah. “Ayahmu, sebelum semua memburuk, adalah pria paling baik dan lembut. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa terjebak dengan Black Domino, tapi hingga sekarang yang aku ingat hanyalah Liamku yang sempurna.” Gwen mengusap air matanya, namun tetes demi tetes terus mengalir, seakan tidak akan berhenti. “Aku berselingkuh ….” “Aku tidak mau mendengarnya!” tangkis Lexi dengan sinis dan wajah memerah. “Kau harus mendengar dan tahu apa yang terjadi, supaya konflik dan salah paham kita selesai!” tegas Gwen tidak kalah tajam. Putrinya membuang muka dan mencibir dengan penuh kebencian. Ingatan akan perbuatan ibunya yang b******a dengan Richard Potter kembali mengisi benak Lexi. “Richard Potter adalah kekasihku sebelum Liam. Mereka bersahabat dan akhirnya Liam berhasil menawanku. Aku yang salah, karena kupikir Liam adalah pilihan yang terbaik. Semua baik-baik saja, hingga ayahmu mengancamku dengan kalimat-kalimat yang keji!” Lexi meneguk minumannya dengan gugup. Betapa banyak hal yang dia belum ketahui hingga sekarang ini. “Liam mengancam jika aku tidak kembali padanya, maka kematian Richard akan menjadi resiko yang harus kutanggung! Katakan, Lexi! Apakah kau masih bisa bertahan dengan pria seperti itu? Kau tidak tahu, apa yang harus kau lewati selama proses setelah perpisahan menuju perceraian! Teror yang tidak berhenti, dan dia bahkan ingin menyakitimu dan nenek!” “Kau bohong! Dia ingin kau membatalkan perceraian, namun dengan kejamnya kau menolak!” teriak Lexi dengan tangis histeris. Gwen berdiri dan berjalan menuju ke kamar. Dua menit kemudian, ia kembali dan melemparkan amplop putih yang mulai menguning tersebut. “Baca semua isi surat yang Liam kirimkan setelah perceraian kami!” Lexi dengan kasar menyambar amplop tersebut dan menarik kertas. Tangannya terlihat gemetar begitu membaca baris demi baris kalimat yang ia kenali sebagai tulisan Liam Dixon! 19 Januari, 2000 Gwen, kau bisa meruntuhkan hidup dengan meninggalkan aku. Kembalilah padaku, Gwen. Aku berjanji akan berubah dan tidak menyentuhmu dengan cara kasar lagi. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian! Atau, apakah kau memilih aku melenyapkan putri kita, agar tahu seberapa sakit kehilangan? Aku menuju kehancuran dan kalian pergi begitu saja! 22 Januari, 2000 Kau pikir bisa begitu leluasa menjalani hubungan dengan Richard? Aku bisa memotong tubuhnya menjadi kepingan kecil! Marilah kita rujuk kembali, Gwen, aku berjanji akan berhenti dari semuanya! Karir, keterlibatanku dengan dia, bahkan kita bisa pindah kota dan memulai hidup baru. 24 Januari 2000 Gwen, sudah berapa kali kukatakan jika aku ingin Lexia ada dalam asuhanku?! Kau pikir keluargamu bisa menggunakan kekuasaan kalian dengan menjauhkan diriku dengan putri sendiri? Aku bisa mencelakai Jude atau siapa pun yang ada di antara kita! Akan kupastikan kita adil mendapatkan Lexi. Perlukah aku membelahnya menjadi dua? Jangan abaikan permintaanku, Gwen. Aku akan membuktikan semuanya!! Lexi meremas surat, sementara bahunya terguncang begitu hebat. Liam, ayah yang selalu ia puja, ternyata tidak sebaik yang ia pikirkan! Betapa sosok pria yang selama ini tampil sebagai ayah yang lembut dan penyayang, ternyata menyimpan kepribadian yang ia tidak pernah ketahui. Sisi gelap yang begitu menakutkan! Kado yang ayahnya kirimkan lewat kurir, menjadi benda terakhir yang Lexi dapatkan. Hingga dua hari yang lalu, Lexia masih mengenang Liam sebagai pahlawan dan Gwen adalah penjahat dalam kehancuran keluarga mereka. Semua berbalik dengan cepat dan kini Lexi tidak lagi tahu, harus mempercayai yang mana? “Setelah surat terakhir, ayahmu tidak muncul lagi. Malam tanggal 25 Januari, aku menerima kabar kematiannya. Liam tidak meninggal karena serangan jantung. Setelah dia berpamitan dan mengakui terlibat dengan sosok yang Liam sebut ‘DIA’, aku mencurigai bahwa itu adalah Black Domino.” Ruangan tengah menjadi hening. Yang terdengar hanyalah isak dari Lexi yang kian lirih. “Keluarga kita hancur karena manusia monster tersebut, Lexi. Jadi, mari kita lupakan semua tentang kesalahan di masa lalu, dan menuntut balas Black Domino,” bujuk Gwen dengan putus asa. “Setelah ini semua selesai, aku berjanji akan menjauh selamanya dari hidupmu. Tidak akan ada lagi Gwen yang membayangi dan membuatmu muak. Aku berjanji ….” Suara Gwen bergetar, penuh emosional. Lexi memejamkan mata dan akhirnya bangkit berdiri. “Kita akan membuka kado bersama.” Gwen mengangguk dan Lexi pun melangkah menuju ke kamar. Kado yang terletak di atas meja belajarnya tersebut masih ada di sana. Ruangan itu juga tampak bersih, tanpa debu. Dengan hati berdebar, Lexi meraih kotak sedang dengan kertas pembungkus berwarna merah. Begitu kembali ke ruang keluarga, Lexi duduk, dan mulai merobek kertas kado dengan tangan yang kian gemetar. Sebuah kotak hitam dengan kartu kecil di atasnya. Lexi menarik kartu yang tertempel lalu membukanya. Gunakan semua informasi di dalam, untuk mencari manusia yang bernama: Black Domino. Ps. Aku menyayangimu, tapi ibumu adalah benar. Berhentilah menyalahkan dia dan semoga hidup kalian jauh lebih baik setelah aku pergi. LD. Lexi menutup mulutnya dan memandang Gwen dengan mata berair. Ia menyerahkan kartu tersebut dan ibunya membaca dengan wajah terhenyak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN