Clue Inside Black Box

1512 Kata
Tiba di rumah Ben sudah hampir mendekati pukul dua dini hari. Tidak banyak yang ada di rumah itu, selain perabotan dasar. Sebagai pria yang membujang, Ben juga jarang menerima tamu. Keduanya menyempatkan duduk di ruang makan dan Tyrex mulai terlihat termenung. “Kenapa, Trey? Masih memikirkan mengenai pembicaraan kita tadi?” tanya Ben seraya menawarkan minuman padanya. Tyrex mengangkat wajah dengan ragu. “Apakah mungkin kita mendatangi dua polisi yang nyonya Dixon katakan dalam pengaruh hipnotis itu, Ben? Pasti ada sesuatu yang bisa kita dapatkan.” Detektif itu termenung dan menghela napas berat. “Ya, tidak pernah terpikirkan. Begitu mereka menyerahkan kasus ini padaku, Jack Winsley dan rekannya, Burt Cooper, dimutasikan ke daerah lain. Aku sempat bertanya pada Richard, tapi dia mengatakan perintah atasan. Kini aku baru ketahui jika itu hanya sebagai dalih saja.” “Mereka tahu jika musuh yang dihadapi sekarang adalah Black Domino. Itukah maksudmu?” “Ya. Aku akan ke kantor besok. Sebaiknya kau tinggal di rumah. Gelang keamananmu akan kubuat nonaktif, bisakah aku mempercayaimu, Trey?” Pemuda itu terkejut, lalu mengangguk buru-buru. “Aku tidak memiliki tujuan hidup yang lain. Melarikan diri juga bukan pilihan bagus, bukan?” Ben tersenyum dan menepuk bahunya. “Setelah ini semua selesai, mungkin kau dan aku bisa menjadi rekan. Kita berdua akan menjadi tim yang luar biasa!” sambut Ben dengan senyum hangat. Tyrex tertawa kecil. “Aku tidak pernah sekolah. Bagaimana bisa menjadi rekanmu?” “Kepolisian bisa merekrut seseorang sebagai tenaga ahli, meski bukan kesatuan seperti kami, polisi dan detektif. Itu bisa saja. Kenapa tidak?” “Semoga. Aku menyukai itu.” Ada harapan yang mulai tumbuh dalam hati Tyrex dan itu ternyata menyenangkan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa dihargai. Ben berpamitan tidur, dan Tyrex pun masuk ke kamar. Sementara berbaring, pemuda itu mulai berpikir keras. Begitu banyak hal yang berubah dalam dirinya dan itu mengejutkan. Tidak ada kesinisan dan ia mulai bisa mempercayai seseorang. Dua hal yang hampir tidak pernah ia miliki selama ini. ‘Tuhan, semoga apa yang Wilson katakan menjadi kenyataan. Aku ingin mendapatkan hidup yang lebih baik.’ Mata Tyrex kian terasa berat, dan ia pun terlelap dengan hati yang jauh lebih damai. ** Gwen meletakkan kartu kecil, pesan dari Liam dengan gamang. “Maukah kau membukanya?” tanya Lexi. Ibunya mengangguk dan mengambil alih kotak hitam tersebut. Begitu penutupnya terbuka, ia melihat ada tiga benda di dalam. Sebuah buku jurnal bersampul hitam, sekeping disket dan kunci yang entah akan digunakan untuk apa. “Aku tidak yakin kita akan bisa membuka disket ini. Semoga tidak berjamur dan masih bisa terbaca semua data-datanya,” gumam Gwen dengan kening berkerut. “Seandainya saja, aku membuka sepuluh tahun yang lalu, mungkin misteri ini sudah selesai,” sesal Lexi. Gwen menggelengkan kepala. “Kita belum memiliki Ben dan Trey. Siapa yang akan berpihak pada kita berdua? Richard terikat oleh tugas dan mustahil menentang atasannya,” tukas Gwen. “Tuhan menguak semua pada waktu yang paling tepat.” Tangan Gwen memberikan jurnal itu pada Lexi. “Maukah kau membaca bersama?” Tawaran itu membuat wanita yang menjadi ibunya terharu. “Tentu saja, Lexi. Kemarilah.” Dengan duduk berdampingan, mereka membuka lembaran pertama. Isi pada halaman satu dipenuhi dengan catatan-catatan kecil yang menampilkan proyek yang dinamai, BLACK ARMY. Hingga pada sepuluh halaman berikutnya, berbagai macam rumus dan formula yang Gwen tidak pahami tertulis berantakan juga penuh coretan. “Apakah kau tahu arti dari semua ini?” tanya ibunya. Lexi mengangguk. “Rumus-rumus itu tidak ada kaitannya dengan ilmu sains. Ini lebih kepada energi neuro magnetic yang biasa para dokter gunakan untuk mendeteksi dini penyakit tumor. Tapi dengan susunan yang lebih kompleks dan rumit, pemancar neuro magnetic juga bisa ditanamkan dalam otak untuk mengontrol sesuatu.” Gwen melirik pada Lexi dengan penuh kebanggaan. Kecerdasan Lexi memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Kembali mereka menelusuri dan menemukan beberapa target yang akan dijalankan dalam proyek tersebut. “Jadi benar. Ini berkaitan dengan chip yang aku temukan dari korban-korban mereka. Proyek tersebut gagal sepuluh tahun yang lalu, karena Liam meninggal dan Ben menguak mereka, walau akhirnya tertutup dengan penemuan n*****a. Sekarang kita harus mencari tahu dokter atau ilmuwan yang menggantikan ayahmu, Lexi.” Mata Lexi terus membaca dengan seksama tiap halaman. Informasi mengenai kontribusi ayahnya lengkap ada di dalam. Ini bisa mereka jadikan bukti untuk menjerat Black Domino. Akan tetapi, bukan itu yang Gwen ingin capai. Monster mafia tersebut harus dilenyapkan dengan bantuan Tyrex! “Gwen, disket itu mungkin berisi formula terakhir yang berhasil. Aku tidak tahu mengenai kunci tersebut, tapi ini bisa kita gunakan untuk mencari jejak Black Domino.” “Kau tidak berpikir akan menyerahkan semua ini pada polisi, bukan?” tanya ibunya. Lexi menoleh ke samping dan menatap Gwen dengan seksama. Manik mata ibunya yang biru, mengingatkan Lexi akan dirinya sendiri. Meski kulit mereka berbeda, namun rambut dan matanya mewarisi Gwen. Rambut pirang dan mata biru abu-abu yang indah. “Ben juga memiliki kepentingan. Kurasa kita semua sepakat untuk mengejar Black Domino lalu melenyapkannya. Tapi, apakah menurutmu kekuatan kita bisa sebesar itu?” “Trey pasti bisa, Lexi. Bukankah kalian menceritakan tentang kekuatan yang ia miliki?” Meski tidak yakin mereka mampu, namun Lexi pun memiliki harapan yang begitu besar pada pemuda tersebut. “Ya. Semoga dia mampu.” Gwen tersenyum samar dan keduanya melanjutkan membaca hingga tuntas. Tidak banyak yang mereka temukan lagi, selain beberapa penelitian yang melibatkan para remaja juga gelandangan sebagai bahan uji coba. Tidak ada informasi lokasi, daerah atau bahkan lab yang mereka pergunakan. Sejauh mereka menelusuri, hanya data-data yang menunjukkan mengenai jenis chip yang mereka ciptakan untuk ditanam ke dalam otak. Tujuan dari proyek tersebut juga tidak disebutkan sedikit pun. Kebuntuan kembali melanda. “Kita simpan semua ini. Besok aku akan meminta Trey untuk menemui Wilson. Semoga Ben memiliki waktu luang,” pungkas ibunya dengan wajah lelah. Lexi menutup kotak dan mengembalikan semua ke dalam. Keduanya berpisah untuk tidur dan dini hari itu masing-masing merebahkan diri dalam kelegaan. ** Rumah sakit tempat Lexi bekerja dipenuhi oleh pasien yang menderita luka ringan. Tapi ia tidak memiliki kesempatan untuk mengajukan izin malam nanti, karena kebanyakan dokter senior mengajukan cuti natal lebih awal. Chloe bahkan mengatakan jika salah satu residen mulai mencari keberadaannya. Tanpa memiliki pilihan lain, Lexi terpaksa menghabiskan siang hari itu untuk menemani ibunya ke rumah Ben. Begitu pintu terkuak, Tyrex menyambut mereka dan mengatakan jika Ben ada di kantor polisi. Setelah menyampaikan maksud dari kedatangannya, Lexi meminta padanya untuk menemui Wilson, sekaligus menceritakan tentang penemuan mereka tadi malam. Tyrex mengangguk dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Benaknya kini penuh dengan rangkuman yang ia rekam dan serap dengan baik. Tidak ada yang menyadari jika Tyrex adalah pemuda yang sangat cerdas juga memiliki memori audio juga visual yang luar biasa. Kebiasaan tidak menonjolkan diri, apalagi jarang bicara jika tidak diminta, menutupi kelebihan yang Tyrex miliki. “Kalian harus meminta izin terlebih dahulu pada Ben. Aku telah berjanji untuk tidak meninggalkan rumah hari ini,” tutur Tyrex dengan wajah serba salah. “Tidak masalah. Aku akan menelepon Ben sekarang juga!” ucap Gwen dan meraih ponsel lalu berdiri menjauh. Sementara ibunya melakukan panggilan, Lexi merasa ini waktu yang tepat untuk mengatakan sesuatu. “Maaf, Trey, kau harus terlibat dalam drama keluargaku,” ucap wanita muda itu dengan sungkan. Tyrex tersenyum hangat dan menggelengkan kepalanya. “Ini adalah kesempatan yang baik buatku menjalin persahabatan dengan kalian. Aku beruntung bisa dipertemukan dengan manusia-manusia hebat. Tidak pernah terpikir sebelumnya, mengenal sosok yang jauh dalam jangkauanku.” “Bisakah kau tidak mengatakan hal seperti itu? Kita semua sama!” “Ya, kecuali cara menjalani hidup selama ini, bukan?” Balasan yang terdengar getir tersebut membuat Lexi terpaku. “Anggap ini kesempatan kedua!” Akhirnya Lexi melontarkan kalimat itu dengan penuh keyakinan. Tyrex memandang ke arah Lexi dengan mata birunya. Sebuah warna mata yang jauh lebih indah dari yang Lexi miliki. Siapa pun akan meleleh dan luruh dalam pesonanya. “Kau tidak mengenal diriku yang dulu, Lexia. Sangat memalukan dan seorang pecundang sejati.” “Kita berdua sama, Trey. Yang membedakan adalah; kau mengkhianati orang lain, sementara aku, Ibuku sendiri.” Senyum itu terukir di bibir pemuda yang begitu Lexi sukai. “Jadi kita berada dalam dimensi yang sama?” “Kurang lebih. Apakah kau membutuhkan teman? Aku bisa menjadi rekan pecundang yang seimbang.” Wajah Lexi tampak jahil dengan kerlingan menggoda. Tyrex tersipu dan Lexi kian dibuat gemas olehnya. “Boleh. Kenapa tidak?” Tyrex terkekeh dan Lexi pun menimpali dengan tawa. Dari jauh, Gwen menatap keduanya dengan senyum. Betapa serasinya mereka jika menjadi pasangan. Meskipun berasal dari kalangan jetset, namun Gwen bukanlah orang yang kolot. Dia mampu menerima siapa pun yang bisa membahagiakan putri tunggalnya. “Ben memberi izin! Bisakah kita pergi sekarang?!” seru Gwen. Keduanya mengangguk dan bersiap pergi. Setelah mengunci rumah, Tyrex menerima lemparan kunci dari Gwen dengan ekspresi terkejut. “Kau yang mengemudi, Anak Muda!” ucap Gwen dengan senyum. Merasa mendapatkan kehormatan yang tidak layak, Tyrex buru-buru menolak. “Ak-aku tidak memiliki kartu mengemudi, Nyonya Dixon!” “Tidak masalah. Aku bisa menjaminmu jika tertangkap!” tukas Gwen sembari masuk mobil. Lexi terkekeh kembali dan meyakinkan dengan anggukan kepala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN