Mengingkari

1337 Kata

33. Mengingkari   Dua manusia berbeda jenis itu duduk bersisian di sebuah bangku kayu di taman kota. Si gadis tampak gelisah di tempatnya, sedang si pria begitu nyaman dan santai dengan kedua lengan menyangga kepala dan punggung bersandar. Sejak lima menit lalu, belum ada satu pun kalimat pun yang terlontar di antara mereka. Akhirnya Naren yang buka suara lebih dulu. Tatapannya lurus pada dedaunan yang mulai jatuh berguguran. “Kamu nggak laper? Tadi rencananya aku ke luar karena pengen makan siang. Tiba-tiba pengen beli mie ayam.” Ajeng mengambil napas dalam dan menatap Naren. “Gue mau ngomong sesuatu.” “Kok jadi lo-gue lagi?” Kali ini Naren menegakkan punggung, balas menatap Ajeng lekat. “Kemarin aku nggak mimpi kan dengar kamu ngomong pake aku-kamu?” Ajeng memalingkan wajah. Mendada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN