44. Malam Pertama Upacara adat yang super ribet dan bikin capek itu akan segera berakhir. Ajeng masih mencoba mengulas senyum ketika tamu kloter terakhir memberikan ucapan selamat. Sudah pukul sebelas malam. Tujuh puluh persen tamu undangan sudah meninggalkan ballroom. Kaki Ajeng rasanya ingin copot gara-gara berdiri seharian. Ajeng melirik Naren yang juga terlihat kelelahan. Tapi pria itu tetap mengulas senyum saat tamu meminta foto. Ya, nyaris semua tamu undangan yang hadir tidak ada yang Ajeng kenal—kecuali saudara-saudaranya. Rata-rata tamu hari ini adalah kerabat dan orang-orang penting yang mengenal Eyang, mulai dari kalangan pejabat hingga rakyat biasa. Ajeng sendiri heran bagaimana cara Eyang mempersiapkan pesta pernikahan semegah ini dalam waktu yang relatif singkat? “Sashi. K

