"aaaaaaa.... tidak aku kesiangan" meloncat dari tempat tidur setelah melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul 06.30. Akupun bergegas ke kamar mandi untuk membasuh tubuhku yang sudah lengket karena tidak mandi sejak kemarin.
Setelah bersiap dengan seragam dan tas yang ada di punggungku akupun turun kebawah untuk memberi makan cacing-cacing di perutku yang sudah mulai bernyanyi ria. Alisku sedikit bertaut saat melihat hanya ada bunda di meja makan dengan segudang pekerjaannya.
"bunda mana ayah?" kataku sambil duduk dan bersiap makan
bunda hanya menoleh sebentar lalu berkata "ayah ada meeting di luar kota, tumben nyariin biasanya kalau ketemu berantem terus!"
"ya karena tidak melihat ayah jadi aku bertanya, kalau lihat ya ngapain tanyak" mendengus kesal
"bunda nantik ada rapat ya, jadi pulangnya agak telat" serunya sambil membereskan berkas laporan yang berantakan di meja makan. "bunda berangkat dulu ya, ada audit mendadak, bunda tadu udah sarapan duluan, bay sayang" sambungnya sambil mencium keningku.
Aku diam saja saat melihat punggung bundaku mulai menjauh dari pandangan, tak berkomentar apapun karena bagiku ini sudah biasa terjadi.
"ini sepatunya non" seru bik inem kepadaku
"aah ya ,, bik mungkin nanti aku pulang sorean ya, mau jalan sama temen-temen"
"baik non" jawabnya saat aku mulai berdiri dan keluar untuk berangkat ke sekolah.
......
ting tong ... ting tong ...
huuuuuft ... helaan nafas panjang keluar dari bibirku saat mendaratkan tubuhku di kursi.
"untung gue gak telat" kataku sambil mengatur nafas setelah berlari karena hampir saja aku terlambat.
" tumben loe telat? biasanya paling rajin dari kita-kita" ujar Sabila sambil menautkan alisnya
"kesiangan gue"
"beb tadi di cariin sama temen loe yang namanya Ben dari kelas sebelah" kata Ziza tanpa menatapku karena sedang asik dengan ponselnya.
"ngapain dia nyariin gue?"
"kayaknya sih mau nanya sesuatu ke loe deh, soalnya tadi gue tanyain dianya gak jawab, katanya nunggu ketemu loe langsung aja" jawab Fani yang mulai fokus melihat seorang guru menjelaskan.
Begitulah aku dengan para sahabatku yang terkadang masih mengobrol seru meskipun sudah ada guru yang memberikan materi di kelas.
Di ruang kelas lain
"Ben giman udah dapet nomer ponselnya belum?" tanyaku sedikit memaksa
"gue punya nomer ponselnya, tapi gue harus ijin dulu ke orangnya" tegas Ben yang melihat agra tidak sabaran.
sedangkan ketiga temannya yang lain sedang bernyanyi ria karena kebetulan kelas mereka jam kosong. Sesosok siswi bertubuh tinggi datang menghampiri Agra dengan senyum menawan.
"Gra lagi bahas apasih seru banget?" tanya siswi itu penasaran
"gak lagi bahas apa-apa" jawabku singkat.
"em tugas kamu yang kemarin udah selesai, nih bukunya" kata Ratih sambil memberikan buku yang di pegangnya.
"hm" sahutku malas.
Siswi itu adalah Ratih. Kekasih Agra yang satu kelas dengannya, Agra slalu bersikap cuek dan datar, bahkan sangat irit bicara. Dia akan berbicara dengan intonasi yang lebih halus dan merayu ketika membutuhkan bantuan Ratih.
Mata elang agra menangkap sosok cantik yang tengah berjalan di depan kelasnya. Seakan terkesima melihat rambut nan indah yang dibiarkan terurai dan melambai tertiup angin. eaak sok puitis authornya ..
"tuh orangnya, buruan nanyak" kesal agra pada Ben yang tak kunjung memberinya nomor ponsel gadis itu.
Ben pun berlari tanpa menjawab perkataan Agra. karena ia tau sahabatnya tidak akan diam kalau belum mendapatkan apa yang dia mau
"Yunda tunggu!" pekik Ben yang mengagetkan Ayunda
"loe bisa nggak sih gausah tetiak. gue nggak budek Ben!" sarkas Ayunda
"temen gue minta nomor ponsel loe bolehkan?"
"temen yang mana?"
"yang lagi liatin loe dari dalem kelas, noh orangnya" tunjuk ben pada agra yang menampilkan senyum termanisnya.
"oh boleh silahkan" jawab ayunda sambil berlalu pergi dari hadapan Ben. Karena memang tujuannya adalah ke kantor TU untuk mengambil absensi kelasnya yang lupa di ambil petugas piket hari ini.
Sesampainya di kelas Ayunda di kagetkan dengan dengan ponselnya yang bergetar berkali-kali.
unkwon number
"hay"
"hallo"
"boleh kenalan kan?"
pesan singkat yang mampu mendebarkan hati Ayunda.
balasan ayunda
"hai juga"
"tentu saja boleh"
"ini aku Agra, yang kemarin menciummu"
"ah iya, aku Ayunda, hahaha lupakan saja" entah seperti apa wajah ayunda yang kini sudah kian memanas.
Ketiga sahabatnya hanya bisa saling pandang melihat Ayunda yang senyum-senyum sendiri.
Kenapa Hatiku jadi berdebar tidak karuan begini sih ..., gumamnya pelan.
______ ____
jangan lupa tekan love dan berikan komentar kalian ya,, masukkan library agar tidak ketinggalan update berikutnya ..