Pernikahan Yang Sempurna

1008 Kata
Sebulan kemudian, acara pernikahan Bella dan Reynold pun dilangsungkan. Para tamu undangan mulai berdatangan memenuhi seluruh ruangan. Ballroom bernuansa putih dengan hiasan bunga mawar putih. Lampu kristal besar dan mewah terlihat menghiasi langit-langit ruangan. Mempelai pria mulai masuk ke ballroom. Reynold berjalan di damping kedua orang tuanya. Acara pengucapan janji suci pun di mulai. Penghulu yang menikahkan mereka pun sudah masuk ke tempat yang sudah disediakan. Sambutan dari pembawa acara membuat suasana menjadi sedikit lebih hening. “Selamat pagi semua, hari ini kita akan mendengarkan pengucapan janji suci dari dua insan manusia yang hendak menyempurnakan separuh agama. Mari kita mulai acara ini. Hadirin dimohon untuk tidak berbicara selama pengucapan janji suci berlangsung, terima kasih.” Pembawa acara tersebut kemudian turun dari mimbar. Pengucapan janji suci pun telah diikrarkan, kini Reynold dan Bella sudah sah menjadi pasangan suami istri. Mempelai wanita kemudian masuk ke area ballroom. Sorot lampu kini tertuju pada sosok wanita muda cantik, dengan gaun pernikahan yang mengembang dengan taburan swarowski. Semua tamu menjadi riuh karena penampilan Bella sungguh berbeda dari biasanya. Kecantikan Bella yang mirip seperti mendiang ibunya membuat Jason kesal. Lelaki tua itu sangat mencintai mendiang istrinya, tetapi maut memisahkan cinta mereka yang begitu dalam. Bella berjalan sambil menatap sosok Reynold yang tengah duduk sambil memandanginya. “Andaikan saja, lelaki itu adalah Alex,” batin Bella. Reynold berdiri lalu menjemput wanita yang sudah resmi menjadi istrinya. Reynold menyematkan cincin pernikahan ke jari manis Bella. Semua riuh bahkan saat bibir Reynold mendarat di kening Bella. “Terima kasih, sudah mau menjadi wanita pertama dan terakhir dalam hidupku,” ucap Reynold tulus dari dalam hati. Bella langsung berlinang air mata. Biasanya kata-kata itulah yang diucapkan oleh Alex. Kata-kata itu sudah seperti mantra di dalam pikirannya. “Aku juga beruntung telah menjadi wanita pertama dan terakhir dalam hidupmu,” balas Bella. Sedari tadi dia harus berpura-pura bahagia meskipun dalam hatinya dia bersedih. Para tamu undangan riuh bertepuk tangan, mereka sangat terharu melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Bella dan Reynold. Jason sedari tadi terus memperhatikan putrinya karena takut melarikan diri. Setelah acara resepsi selesai, Reynold dan Bella pergi ke kamar hotel sambil berpegangan tangan. Bella berusaha untuk bersikap baik dan penurut. Reynold terlihat sangat senang karena telah menikah dengan wanita yang disukainya. Di dalam kamar, Reynold memperlakukan Bella seperti gelas rapuh. Dia membantu melepaskan sepatu yang dikenakan Bella. “Bella, apa ada yang kamu butuhkan sekarang? Aku akan membuatmu hidup seperti putri raja,” tanya Reynold sambil menenteng sepatu Bella. “Terima kasih atas perhatiannya. Maaf kalau aku belum bisa menjadi apa yang kamu harap,” jawab Bella sambil tersenyum simpul. Reynold meletakkan sepatu Bella, dia pergi mencuci tangan lalu mengeringkannya. Dia melihat Bella tengah berdiri sambil menghadap ke luar jendela. Reynold sebenarnya merasa ada yang janggal dengan sikap Bella selama ini. “Apa kamu lelah?” tanya Reynold sambil mengusap pipi Bella. Reynold sangat terkejut saat tangannya merasakan pipi Bella yang basah oleh air mata. Bella menoleh ke arah Reynold, dia berusaha untuk menghentikan air matanya. Wanita itu menarik napas panjang. “Aku lumayan lelah. Kamu bagaimana?” balas Bella berusaha mengukir senyuman. Reynold mengerutkan keningnya. Netranya mendelik tajam. “Apa kamu menangisi pria lain, hah?” tanyanya dengan nada meninggi. Bella menelan salivanya. Tatapan Reynold berhasil membuatnya gugup setenga mati. “Ti—tidak, aku hanya masih tidak percaya kita sudah menikah,” jawab Bella sedikit terbata.   “Bohong!” teriak Reynold sambil menjauh dari Bella. Napasnya mulai berat dengan wajah yang mulai memerah. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Lelaki itu melucuti pakaiannya satu per satu. Dia lempar pakaiannya asal hingga berserakkan di lantai. “Aku tidak bohong,” jawab Bella sedikit gemetar. Jemarinya menggenggam seprai dengan sangat kencang. Teriakkan Reynold itu sungguh membuat Bella kembali teringat pada perlakuan Jason kepadanya. “Lepaskan bajumu sekarang!” perintah Reynold dengan kasar. Bella tidak bisa menahan ketakutannya. Sifat Reynold langsung berubah ketika melihat dia menangis. Wanita berambut coklat kemerahan itu langsung menanggalkan pakaiannya satu per satu. Dengan tangan yang gemetar, Bella terus melepaskan semua aksesoris yang dipakainya. “Ke sini!” Reynold menyilangkan tangannya. Matanya tertuju pada satu titik yaitu Bella. Wanita cantik itu bergerak sangat lambat, membuatnya kehabisan kesabaran. Wanita itu berjalan mendekati Reynold. Dia tidak bisa menolak perintah suaminya. Sudah tidak ada jalan kembali. “Lambat!” kesal Reynold dengan mata yang membulat sempurna. Bella berdiri di hadapan suaminya yang sudah cukup mengintimidasi. Mata mereka saling beradu. Reynold terus menelusuri tatapan Bella. Dari pancaran sinarnya Reynold yakin, Bella tidak pernah menganggapnya ada. “Cepat bersihkan tubuhku sekarang!” "Apa?" Reynold membawa paksa Bella masuk ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuh lelaki itu. Canggung itulah yang dirasakan oleh Bella. Tangannya gemetar saat mengoleskan tubuh Reynold dengan sabun. “Astaga, kamu itu bisanya apa sih. Sini sabunnya.” Reynold merampas sabun yang ada di tangan Bella. Dia mulai memperlakukan Bella dengan kasar. Perubahan sikap Reynold membuat Bella tidak bisa menahan air matanya . Wanita itu tidak menyangka, lelaki yang pada awalnya bersikap manis berubah menjadi kejam. Reynold memegang rahang Bella dengan kasar. “Aku paling benci wanita yang cengeng. Jangan pernah menangis di hadapanku atau tidak kamu akan menerima akibatnya, mengerti!” Reynold kemudian membilas seluruh tubuhnya dan juga tubuh Bella. Dia gendong tubuh Bella membawanya ke kamar. Tubuh wanita itu hanya dibalut dengan selembar handuk lebar. Lelaki itu mendudukkan Bella di depan meja. Dia ambil hairdryer lalu mulai mengeringkan rambut Bella dengan telaten. Sikap Reynold yang seperti ini sungguh sangat berbeda saat di kamar mandi tadi. Dia begitu telaten dan cukup mahir melakukannya. Perasaan Bella sedikit lebih baik, saat Reynold mulai melunak. “Terima kasih,” ucap Bella sambil malu-malu. “Bolehkah aku mengeringkan rambutmu juga?” tanyanya dengan hati-hati. “Hmm.” Reynold duduk menggantikan posisi Bella. Bella kemudian memulai mengeringkan rambut Reynold. Dia tidak boleh mengenang masa lalu atau apa pun di depan Reynold. Terlebih lagi, lelaki itu meminta untuk tidak menangis ketika berhadapan dengannya. Setelah cukup kering, Bella berinisiatif untuk memijat Reynold. Sikap Bella ini dianggap hal lain oleh Reynold. Dia mengimplementasikannya dengan cara yang berbeda. "Apa yang akan kamu lakukan? Mau mencoba merayuku atau apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN