"Apa yang kamu lakukan?" tanya Reynold penuh curiga.
"Eng ... aku hanya ingin berbuat sebagaimana mestinya," jawab Bella.
Reynold mengajak Bella untuk melakukan hubungan suami istri. Dia membuat istrinya sedikit lebih santai. Perlakuannya yang lembut membuat Bella melupakan segala ketakutannya. Namun, itu hanyalah sementara.
Bella mengerang kesakitan saat Reynold melakukannya dengan buru-buru. Bella yang tidak tahan, langsung meneteskan air mata. Sontak sifat kejam Reynold bangkit kembali.
“Bisakah sedikit lebih lembut?” rintih Bella menahan sakit.
“Sudah kubilang kamu jangan menangis!” bentak Reynold sambil melayangkan telapak tangannya yang besar ke pipi Bella.
Bella yang tidak kuat menahan perih tamparan keras dari suaminya, kembali meneteskan air mata. Lelaki itu seperti kehilangan kesadaran. Dia pukul Bella bertubi-tubi hingga wanita itu babak belur.
“Ampun … aku sudah tidak kuat,” rintih Bella dengan darah yang menetes dari hidungnya.
“Jangan menangis. Apa kamu bisa sedikit menurut saja, hah!” kesal Reynold.
Dia tidak merasa bersalah telah membuat memar di wajah Bella. Reynold merasa tidak puas karena Bella masih saja meneteskan air mata. Lelaki bertubuh kekar itu lantas membenturkan kepala Bella hingga tidak sadarkan diri.
Di saat itulah Bella putus harapan. Dia tidak sanggup untuk meneruskan kembali hidupnya. Tubuhnya bergetar, seperti ada sesuatu yang menariknya. Bella merasakan tubuhnya melayang. Dia melihat raganya yang terbaring dengan berlumuran darah di wajahnya.
Reynold melihat Bella tidak bergerak sedikit pun. Dia sedikit terkejut dan langsung menghubungi sekretarisnya.
“Brian, tolong panggilkan ambulans datang ke kamar hotel saya sekarang juga!” perintah Reynold pada sekretarisnya.
“Baik, Pak. Ada pesan lagi?”
“Jangan sampai ini jadi berita. Kamu urus masalah ini dengan pihak hotel dan mereka harus mematikan sementara CCTV. Buat serapi mungkin. Jangan sampai ada celah dan polisi mengetahuinya,” jelas Reynold.
“Baik, Pak. Sekitar setengah jam lagi sampai,”
Reynold kembali memastikan keadaan Bella. Jemarinya mengecek nadi Bella yang terasa masih berdenyut walau lemah. Dia ambil ponsel lalu mendekatkan layarnya ke hidung Bella. Terlihat masih ada uap walau tidak banyak. Bella masih bisa diselamatkan meskipun tidak tahu seberapa parah lukanya.
Tidak lama ambulans dari rumah sakit milik keluarga Reynold datang. Mereka tidak hanya berbisnis di bidang textile saja. Mereka juga membangun rumah sakit super elit untuk keluarga kaya.
Brian datang dengan sembunyi-sembunyi. Dia melihat istri bosnya tergolek lemah dengan wajah babak belur.
“Pak, saya sudah memberitahukan pihak hotel untuk tutup mulut. Semua sudah dilakukan sesuai dengan arahan Bapak. Sekarang kita bawa Nyonya masuk ke ambulans,” papar Brian.
Reynold membersihkan darah di wajah Bella, kemudian dia menggendong istrinya menuju ambulans yang sudah tersedia. Brian berjalan di belakangnya mengawasi semua pegawai hotel yang bisa saja membocorkan masalah ini. Manager hotel memberikan akses jalan khusus untuk Reynold agar tidak banyak orang yang melihatnya.
“Kalian jangan sampai membocorkan hal ini, mengerti!” ancam Reynold pada pegawai hotel dan juga semua orang yang berada di dekatnya.
“Baik, Tuan,” ucap paramedis dan manager hotel tersebut dengan gemetar.
Diam-diam Bella di bawa ke rumah sakit, Wanita itu masuk ke ruang VVIP tanpa masuk IGD terlebih dahulu. Dokter kepala yang biasa mengurusi masalah kesehatan keluarga Reynold sedikit terkejut melihat wajah Bella yang babak belur.
Dokter itu segera memeriksa Bella secara menyeluruh. Tindakan MRI dan CT scan dilakukan oleh dokter tersebut. Reynold merasa bersalah karena dia telah membuat Bella seperti ini. Kesadaran Bella terus menurun. Dokter mengatakan jika Bella sedang dalam kondisi kritis dan hampir koma.
Bella melihat tubuhnya sendiri dipasangi dengan alat medis. Dia menyadari jika tubuh dan jiwanya terpisah. Dari arah samping, tiba-tiba terlihat sebuah portal yang bersinar terang. Bella memasuki portal tersebut dan merasa kalau tempat itu adalah sebuah alam lain yang berbeda dengan alam dunia yang dia tempati dulu. Tempat kosong dan sepi tidak ada siapa pun di sana.
Lama Bella berjalan, dia menemukan sosok wanita tua. Semakin lama jarak mereka semakin mendekat. Bella menyapa nenek tua itu dengan sopan.
“Maaf, Nek. Saya mau tanya, kenapa Nenek bisa ada di sini? Apa Nenek baru meninggal sama seperti saya?” tanya Bella dengan sedikit keraguan.
“Saya Julie, kamu itu adalah cucu buyutku. Apa kamu pernah mendengar silsilah keluarga Duncan, pasti kamu akan mengenalinya,” tutur Julie bersikap ramah.
“Cucu buyut, jadi saya harus panggil apa?” tanya Bella.
“Nenek saja. Saya tahu, kamu pasti tidak menginginkan kehidupanmu. Sebenarnya ini bukanlah saat kamu untuk pergi ke alam baka. Akan tetapi, kamu enggan untuk kembali ke sana, ‘kan,” terka Julie.
Bella mengangguk, sambil membelalakkan mata. Dia tidak menyangka Julie bisa tahu alasannya datang ke alam ini.
“Saya sudah tidak mau kembali, lebih baik saya di alam baka saja,” jawab Bella penuh keyakinan.
“Bagaimana kalau saya membantumu membalas perbuatan suami dan juga ayahmu itu?” tawar Julie sambil tersenyum manis. Dia merangkul Bella sambil mengusap punggungnya lembut.
“Apa yang akan Nenek lakukan?” tanya Bella penasaran.
“Kalau kamu mengizinkannya, maka Nenek bisa masuk dan ke luar dari ragamu sesuka hati. Setelah mereka mendapat balasannya, kamu bisa kembali masuk ke ragamu dan berbahagia,” terang Julie.
Bella terdiam, ini adalah keputusannya untuk tidak melanjutkan hidup. Hatinya memang belum ikhlas untuk meninggalkan dunia karena dia selalu menderita. Dia juga ingin medapatkan kebahagiaan.
“Baiklah Nek, jika sudah selesai, bagaimana cara saya kembali ke tubuh saya sendiri?” tanya Bella.
“Kamu hanya perlu memasuki tubuhmu sendiri,” ucap Julie.
Bella mengembangkan pipinya. Dia lalu mengulurkan tangan, tanda mereka melakukan sebuah transaksi antar ruh. Bella merasakan ada cahaya terang menyilaukan mata. Dia tidak bisa melihat kemudian dia berada di tempat lainnya lagi.
Sementara itu, tubuh Bella sudah menjalani serangkaian proses cek tubuh. Dia harus menjalani operasi otak karena ada sedikit pendarahan. Jika tidak ditangani dengan cepat maka Bella akan mati begitu saja.
Reynold merasa ketakutan menjadi pembunuh jika Bella sampai meninggal dunia. Dia berharap istrinya segera bangun lalu dia akan merubah sifat yang temperamental ini.
Setelah satu minggu berlalu, Julie berhasil merasuki tubuh Bella. Dia membuka matanya perlahan. Ada sorot kebahagiaan akhirnya dia bisa menghirup udara yang sudah lama tidak dia hirup. Namun, dia tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya.
Pada saat Bella membuka mata, Reynold segera memanggil dokter. Lelaki itu senang bukan kepalang karena akhirnya Bella membuka mata.
“Bella, akhirnya kamu bangun. Apa yang kamu rasakan saat ini?” tanya Reynold menarik garis bibirnya lebar-lebar.
“Lelaki berengsek!” umpat Bella sambil memicingkan matanya ke arah Reynold.
Reynold tidak percaya dengan kata yang terlontar dari bibir tipis Bella. Ada perasaan bersalah tetapi dia juga penasaran. Tidak lama, dokter segera memeriksakan keadaan Bella. Semua organ sudah mulai berfungsi dengan normal.
“Kondisi Bella sudah lebih baik dari sebelumnya. Dia sudah bisa merespon.Sekarang tinggal pemulihannya saja,”ucap Dokter tersebut.
“Apa dia bisa bergerak normal setelah terbentur seperti itu?” tanya Reynold.
Dokter meminta Bella melakukan apa yang diperintahkannya. Semua gerakannya sudah bekerja sesuai dengan arahan dokter. Semua perawat dan juga dokter pergi meninggalkan ruang rawat Bella.
Kini tiba saat Bella dan Reynold sendirian. Tatapan Reynold tidak sekejam saat dia melakukan perbuatan buruk itu kepada Bella. Julie melihat ada kelemahan di mata lelaki tampan itu. Dia akan menggunakannya sebagai taktik untuk menaklukannya.
"Suamiku, kapan kita akan pulang bersama?"