“Kamu tidak takut kepadaku?” tanya Reynold dengan alis yang mengerut. Dia hampir tidak percaya sikap Bella berubah drastis.
“Takut? Apa yang harus ditakutkan? Kamu itu suamiku, ingat,” sahut Bella yang dirasuki Julie.
Reynold mengulum senyum. “Tunggu dokter izinkan kamu pulang. Mungkin nanti kamu akan mengalami rasa sakit setelah obat biusnya hilang,” tuturnya.
“Baiklah. Tolong ambilkan aku minum!” perintah Julie seenaknya.
“Sejak kapan kamu berhak menyuruhku seperti itu, hah?” tanya Reynold mulai terpancing emosinya.
Julie mendelik tajam. Dia harus membalas pria itu, tetapi jiwanya terperangkap oleh tubuh ringkih Bella.
“Sejak kamu melakukan tindakan kekerasan itu kepadaku. Sebaiknya jangan membantah, cepat lakukan!” balas Julie penuh penekanan.
Mau tidak mau, Reynold mengambilkan minum untuk Julie. Di matanya Bella sudah berubah menjadi sosok yang lain. Wanita penurut dan penakut itu berubah menjadi tegas dan pemberani.
“Ini minum untukmu.” Reynold memberikan gelas berisi air mineral kepada Bella. Netranya tidak bisa lepas saat melihat istrinya itu baru tersadar dari operasi besar yang dilakukannya tadi subuh.
“Terima kasih.” Julie meminum air itu hingga tak bersisa.
Reynold melihat cara meminum Bella yang sangat cepat seperti orang kehausan. Dia pikir Bella adalah tipe wanita yang akan melakukan segala hal dengan anggun.
“Kenapa lihat-lihat? Terpesona dengan istrimu sendiri, hah?” tanya Juli dengan ketusnya. Matanya mendelik seolah dia ingin menelan lelaki itu bulat-bulat.
Reynold menelan salivanya. Baru kali ini ada perempuan yang baru saja selesai operasi kepribadiannya berubah begitu saja. Lelaki itu terpukau dengan sosok Bella yang sekarang.
“Ah, mana mungkin aku terpesona dengan wanita lemah sepertimu!” tampik Reynold sambil menyilangkan tangannya. Satu kakinya dia angkat lalu bertumpu di kaki lainnya.
Julie tertawa sangat keras. Dia sampai lupa kalau tubuh Bella baru saja mengalami operasi besar.
“Kamu tidak percaya, hah? Tunggu saja, aku bisa membuatmu bertekuk lutut, meminta cinta dan perhatianku.” Juli mengulas senyuman licik di depan Reynold.
Reynold memalingkan wajahnya dengan perasaan tidak percaya. Satu hal yang dia tahu jika Bella lebih banyak diam dari pada mengeluarkan sebuah kalimat panjang bernada sarkas.
Diam-diam Julie menerawang isi dalam pikiran Reynold. Perempuan itu ingin menyelami apa saja hal yang disukai dan tidak disukai suami Bella itu.
Sementara itu arwah Bella sedang berdiri di ruangan yang sama dengan tempat Julie dan Reynold. Perempuan pendiam itu merasa heran dengan sikap Julie yang begitu berani menantang Reynold yang kekar dan dominan.
Ternyata Julie bisa melihat arwah Bella yang bergentayangan di sana. Perempuan itu berkomunikasi dengan batinnya.
Julie yang sejatinya adalah seorang arwah berusia ratusan tahun, bisa dnegan mudah menguasai tubuh Bella. Dia bisa menerawang dan juga berkomunikasi dengan jiwa yang tersesat seperti Bella.
“Bella, bagaimana denganku hari ini? Apa kamu mau bertukar tubuh sekarang?” tawar Julie dalam alam ruh.
“Aku tidak mau bertukar sekarang. Lelaki itu masih belum berubah. Dia bersikap seperti itu karena kamu yang memainkan perannya, bukan aku. Kalau jiwaku kembali, tubuhku bisa saj musnah begitu saja,” jawab Bella sambil memainkan jarinya.
“Baiklah kalau begitu, aku akan membuat suamimu itu bersikap baik dan mencintaimu,” pungkas Julie yang kembali kea lam dunia nyata.
Berkali-kali, Julie memerintah Reynold untuk mengurusnya. Lelaki itu menurut saja seperti orang yang terkena hipnotis. Tubuhnya megikuti permintaan Julie tanpa harus mengadu kata.
“Kenapa aku terus saja tidak bisa menolak permintaan Bella? Padahal dia hanya memerintah dan aku selalu menurut saja,” batin Reynold.
Seminggu sudah Bella di rumah sakit, akhirnya dia sudah bisa menggerakkan tubuhnya meskipun terbatas dengan tubuh yang terasa linu.
Selama di rumah sakit, arwah Bella tidak terlihat lagi. Julie sempat ingin mencari arwah tersebut, hanya saja Itu bisa berakibat fatal jika tidak ada satu pun jiwa yang bersarang di tubuh Bella. Malaikat maut bisa segera mengambil nyawa Bella yang sedang berkelana dan itu tidak bagus untuknya.
Reynold membawa Julie pulang ke kediamannya. Sebuah rumah berukuran besar, terlihat megah dengan pagar pembatas yang begitu panjang. Alangkah senangnya Julie bisa kembali ke dunia nyata dan menghirup udara bebas.
“Selamat datang di kediamanku,” sambut Reynold sambil menggenggam jemari istrinya menuju pintu besar terbuat dari kayu jati mengkilat berwarna walnut.
Para pelayan berderet menanti seorang permaisuri baru tuannya.
“Selamat datang, Nyonya Bella,” sapa seluruh asisten rumah.
Senyum mengembang langsung tergambar di wajah Julie. Dia menundukkan sedikit kepalanya lalu kembali ke posisi tegak. Reynold memimpin jalannya sedang Juli melangkah seirama dengan langkah suami Bella.
Ukuran pintu masuknya saja sudah lebih dari dua meter. Tubuh Bella yang tidak terlalu tinggi membuatnya seperti kurcaci yang memasuki rumahnya.
“Wah kamu kaya sekali,” puji Julie dengan mata yang mengelilingi seantero ruangan yang berisi sofa berukuran besar.
Gaya rumah itu ala mediterania, membuat kesan mewahnya semakin terpancar.
“Rumahku memang besar. Suamimu ini orang kaya. Jangan kamu remehkan kekuasaanku!” Reynold besar kepala dengan hanya menunjukkan rumah megahnya saja sudah membuat istrinya kagum.
“Rumahku juga besar!” tampik Julie sambil mendelik ke arah suaminya.
Reynold tidak suka, Bella terus membantah kekuasaannya. Perempuan itu dengan cepat melepaskan genggaman tangan suaminya. Dia berputar mengelilingi sudut rumah yang jaraknya sangat jauh tiap sudutnya.
“Jangan berkeliaran seperti kucing yang baru dikeluarkan dari sangkarnya. Kamu harus ikut denganku pergi ke kamar utama!” perintah Reynold sambil berkacak pinggang.
Bukan Julie kalau tidak membantah. Perempuan itu tidak mau menuruti perintah suami Bella. Dia tarik dasi suaminya dengan cukup keras. “Antar aku ke singgasanamu!”
Reynold terkesiap melihat Bella menarik dasinya begitu saja. Perempuan itu terlihat lebih berkuasa dari pada dirinya.
Lelaki itu menurut saja dengan apa yang dilakukan oleh Bella. Dia berjalan kemudian menunjukkan arah menuju kamar utama.
Mereka lalu berhenti di sebuah ruangan dengan pintu dua. Dilengkapi kunci layaknya di hotel mewah, Reynold menunjukkan keycard yang harus digesekkan ke pintu tersebut.
“Ini adalah kunci di mana kamu bisa mengakses kamar ini. Pemilik kunci akses kamar ini hanya ada tiga orang. Kepala rumah, aku dan juga kamu, pemilik baru istana ini. Semua yang kamu mau tinggal tekan telepon yang ada di dalam rumah ini. Semua orang di rumah ini hanya akan tunduk padaku dan juga kamu sebagai nyonya rumah. Apa kamu mengerti?”
Reynold merentangkan tangannya. Dia memperlihatkan semua isi dalam kamar. Terlihat Julie terkesima sampai mulutnya menganga karena takjub. Lelaki itu mengantarkannya ke ruang ganti yang ada di sebelah kamar yang tersambung dengan sebuah pintu. Di dalamnya terdapat banyak barang kebutuhan Reynold dan juga barang yang bisa digunakan oleh Bella.
“Ini semua bisa aku pakai?” tanya Julie sambil menyentuh setiap baju yang tergantung.
“Tentu saja. Kamu bisa menikmati ini semua. Tidak ada Batasan untukmu. Namun, hanya ada satu peraturan yang tidak bisa kamu bantah!” tutur Reynold sambil menyunggingkan senyuman licik.