5. Pemindahan Ingatan

1114 Kata
Reynold lelaki bertubuh tinggi, paras tampan dari lahir dengan rahang tegas. Hidupnya selalu bergelimang harta sejak dalam kandungan. Sebagai satu-satunya penerus, Reynold menjadi lebih suka memerintah dan tidak senang mendengar bantahan. Netranya menatap Julie yang berdiri dengan angkuhnya. Kepala sedikit mendongak dengan tatapan tajam menantang. Tangannya menyilang. “Memangnya apa syarat yang harus kupatuhi, suamiku?” tanyanya dengan nada remeh. “Kamu tidak boleh menolak semua yang aku inginkan, mengerti!” tegas lelaki itu sambil memegang dagu istrinya. Julie menepis jemari Reynold yang bersarang di dagunya. Dia tertawa remeh seolah Reynold bukan saingan yang pantas untuknya. “Wah, wah, wah, kalau aku menolak apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya dengan tatapan menggoda. Netra Reynold membulat sempurna. Baru saja dia memperingatkan, tetapi Julie sudah menantangnya. “Kamu lupa, kamu hampir mati karena aku lepas kendali. Aku tidak mau, istri yang menghabiskan banyak uangku mati sia-sia,” tutur Reynold sambil mengusap pipi Julie dengan lembut. Julie tersenyum lalu mengambil keycard yang ada di sela jari suaminya. “Sayangnya aku bukan wanita yang penurut!” Juli menggesek kartu tersebut pada alat yang tertempel di daun pintu. Hanya saja dia tidak tahu harus menggeseknya seperti apa. Berulang kali dia mencoba tetapi pintu tidak kunjung terbuka. “Astaga, kamu makhluk dari planet mana? Buka pintu seperti ini saja tidak bisa!” Reynold menunjukkan cara membuka pintu dengan kartu tersebut. Julie mengulum senyum. Maklum, selama ini dia tinggal di alam baka. Bukan di dunia tempat manusia berada. Jiwanya hanya bisa melihat perkembangan zaman, tetapi tidak bisa menikmatinya. “Ish, suamiku itu cerewet sekali. Mau aku membungkam bibirmu dengan sesuatu, hah!” gerutu Juli sambil ke luar dari kamar. Reynold takjub. Dia merasa tertantang dengan perubahan sikap Bella yang terkesan seperti orang lain saja. “Bella, apa kamu tahu, ayahmu akan mengunjungimu hari ini?” tanya Reynold sambil mengekor Julie yang sedang asyik berkeliling ruangan. Julie menoleh. Netranya terlihat tidak senang saat mendengar ayah Bella akan menjenguknya. “Untuk apa lelaki tua bangka itu ke sini? Jangan beri dia uang. Keenakan banget. Dia sudah jual putrinya. Pasti dia ke sini untuk memerasmu. Sebaiknya uang itu berikan saja kepadaku!” sahut Julie. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa berwarna merah yang busanya tebal. “Wah, kamu benci sama ayahmu sendiri? Sungguh menarik.” Reynold menggosok dagunya dengan sebelah mata yang memicing. “Empuk sekali sofa ini. Apa kamu sering duduk di sini? Sepertinya kamu tidak pernah menikmati kekayaanmu.” Julie memejamkan matanya sambil menghirup udara segar yang memenuhi paru-parunya. Di saat seperti ini, arwah Bella tiba-tiba saja muncul di depan Julie, menatap nenek moyangnya yang bertindak sangat berbeda dengan sikapnya yang selalu menghormati orang yang lebih tua. Bella berusaha melakukan komunikasi dengan arwah Julie yang mengendalikan tubuhnya. “Nek, apa kamu mendengarku?” panggil Bella. Arwah Julie ke luar dari tubuhnya. Dia berdiri berhadapan dengan Bella yang memandanginya kecewa. “Kenapa Bella sayang?” tanya Julie sambil mengusap kepala cucu buyutnya. Bella menundukkan pandangannya. Dia merasa takut dan segan bertukar pandang secara langsung. “Nek, kenapa Nenek bersikap sangat berbeda dengan yang biasa aku lakukan? Aku memang tidak menyukai sikap Papa, tetapi bukan berarti harus mengucapkan kata yang tidak pantas,” ungkapnya. Julie mengulum senyum. Wanita tua itu terus mengusap kepala Bella dengan lembut. “Bella sayang, Nenek melakukan ini hanya untuk memberikan mereka pelajaran. Kamu telah disakiti, dan mereka harus menerima balasannya. Papamu itu suka berjudi, dan itu sangat buruk. Nenek hanya ingin membuatnya menyesal telah menyia-nyiakan putri cantiknya.” Bella terdiam. Dia memeluk neneknya dengan erat. “Maafin aku ya, Nek. Semua terserah Nenek saja,” tuturnya pasrah. “Kamu mau masuk ke ragamu sekarang, tidak?” tanya Julie. “Tidak. Nenek saja yang masuk. Aku akan berada di dekatmu saja.” Bella menggeleng. Dia masih trauma saat kepalanya dibenturkan dengan keras oleh Reynold. “Kalau begitu, apakah Nenek boleh meminta kamu berbagi ingatanmu sedikit saja? Hanya untuk bersikap seperti yang selalu kamu lakukan,” kilah Julie sambil tersenyum. “Boleh, Nek.” Angguk Bella. Julie kemudian meraih telapak tangan Bella kemudian dia mengambil sebagian ingatannya. Kemampuan Julie tidak bisa mengambil sepenuhnya ingatan Bella karena itu adalah hak milik Bella untuk bisa kembali ke jasadnya. Angin tiba-tiba berembus sangat kencang. Bella merasakan hal itu padahal dia sedang berada di alam baka. Di dunia nyata pun, Reynold merasakan ada embusan angin aneh yang membuatnya tidak nyaman. “Kenapa bulu kudukku merinding?” ucap Reynold sambil mengusap tengkuknya yang terasa tebal. Lelaki itu melihat Bella begitu nyaman tertidur di atas sofa. Dia penasaran apakah istrinya benar-benar sudah tertidur atau tidak. Dia hampiri Bella, duduk di sampingnya lalu mengusap kening Bella yang terdapat bekas luka. “Aku harap di dalam mimpimu tidak memikirkan lelaki lain!” batin Reynold. Pengambilan ingatan cukup menguras kekuatan Julie. Setidaknya dia harus melakukan pengambilan energi selama sepuluh hari dengan ritual memakan daging mentah yang masih berlumuran darah. Lampu di rumah Reynold mulai berkedip, seolah pengambilan ingatan itu memang dilarang oleh Sang Penguasa Alam. Lelaki itu heran, tidak pernah sekalipun terjadi gangguan listrik di dalam rumahnya. Genset bermuatan puluhan ribu volt hanya untuk membuat rumah itu menyala tidak mungkin rusak atau tidak berfungsi. Biaya perawatan seluruh rumahnya pun bernilai fantastis. Semua sudah serba elektronik dan menggunakan remot. “Kris, Kris cepat ke sini!” panggil Reynold dengan suara lantang. Dia kesal dengan keanehan yang terjadi di rumahnya saat ini. Seorang lelaki paruh baya datang dengan tergesa. Dia hampiri tuannya dengan wajah merah padam. “Maaf Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu?” tanya lelaki tua itu sambil membungkukkan Sebagian tubuhnya. “Kenapa dengan listrik di rumah ini? Apa kamu sering melakukan maintenance? Saya sudah bayar kamu mahal untuk mengurus rumah ini. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi, Kris?” geram Reynold sambil menggebrak coffee table yang ada di sampingnya. “Maafkan saya Tuan Muda, perawatan berkala sebulan sekali sudah dilakukan. Pembayaran listrik pun selalu tepat waktu. Biasanya mengecekan secara rinci sampai setiap kamar,” jelas Kris dengan percaya diri. Urat di wajah Reynold terlihat timbul ke luar. Netranya terbelalak menatap Kris dengan sinis. “Apa kamu sudah terlalu tua untuk mengurus rumah ini? Lihat sekarang lampu mati nyala seperti ini? Memalukan!” “Saya akan segera memperbaikinya!” pungkas Kris tidak ingin mengecewakan bosnya. “Cepat lakukan, jangan bicara saja!” maki Reynold. Di alam baka, arwah Bella merasakan hal yang sangat aneh. Tubuhnya terasa lebih segar sedangkan tenaga Julie terkuras habis. Sebagian ingatan Juli berpindah kepada Bella. Hanya saja perempuan itu tidak bisa membuka ingatan yang masih terkunci. Tiba-tiba saja ada sebauh kilatan cahaya memisahkan ritual pengambilan ingatan. Bella terpental begitu pun Julie. Reynold melihat tubuh Bella mengejang. Lelaki itu panik. Dia takut Bella mengalami hal buruk lagi akibat kesalahannya. “Bella, bangun!” panggil Reynold.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN