Kembali Ke Raga Sendiri

1066 Kata
Reynold melihat Bella kejang-kejang seperti orang yang terkena epilepsi. Sontak dia panik. Reynold mengguncang tubuh Bella berulang kali agar dia cepat tersadar. Sialnya Julie belum selesai mengambil ingatannya Bella. Guncangan Reynold membuat Bella kembali terhubung dengan tubuhnya sendiri. Bella kembali masuk ke raganya. Perempuan itu membuka mata dengan perlahan. Kepalanya terasa sangat berputar. “Aku di mana?” tanya Bella sambil memegangi kepalanya. Reynold mengerutkan keningnya. Alisnya bahkan hampir menyatu. “Kamu di rumahku. Apa kamu lupa, hah?” tanyanya. “Kumohon jangan siksa aku lagi!” Bella gemetar. Bertatapan langsung dengan Reynold begitu membuat nyalinya ciut. “Siapa yang mau menyiksamu? Kamu tadi kejang-kejang!” bentak lelaki itu dengan wajah khawatir. Bella terdiam sejenak. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang seolah menghilang sebagian. Namun, kepalanya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa. Di dalam penglihatannya tiba-tiba terlihat sebuah ingatan seorang perempuan. Reynold tidak ingin terjadi hal yang aneh dengan Bella, lelaki itu segera menghubungi dokter pribadinya. Bella masih terpaku. Dia ingin mencari siapa perempuan itu. Julie telah melanggar hukum alam. Jiwa orang yang sudah meninggal tidak boleh mengambil ingatan orang yang masih hidup. Tuhan murka. Hanya dengan sebuah kilatan kecil sebagai peringatan keras kepada jiwa yang masih belum menyelesaikan urusan hidupnya. “Bella, Bella,” panggil Reynold. Perempuan itu masih tidak menjawab panggilan suaminya. Tentu saja Reynold tidak menyukai hal itu. Dia tepuk bahu Bella hingga perempuan itu terperanjat. “Maaf, ada apa kamu memanggilku?” tanya Bella. “Apa sekarang kondisimu baik-baik saja?” tanya Reynold. Dia menyentuh dahi Bella, sekedar mengukur suhu tubuh istrinya. “Aku sudah lebih baik, terima kasih,” ucap Bella sambil tersenyum getir. Jantung Reynold kembali berdebar. Tatapan Bella kali ini sama dengan saat pertama kali mereka bertemu,terlihat sendu dan lemah lembut. “Ada apa denganku? Kenapa aku malah berdebar tidak karuan?” batin Reynold. Jemarinya malah mencengkram erat bahu Bella. “Sakit,” keluh Bella sambil menyentuh pergelangan tangan suaminya. Reynold tersadar kemudian dia segera melepaskan pegangannya itu. “Ah kamu menyusahkanku saja. Kenapa tadi kamu kejang-kejang? Membuatku panik saja,” gerutunya. “Aku baik-baik saja sekarang. Apa kamu mau makan? Aku akan siapkan,” tawar Bella sambil berusaha untuk bangun dari sofa. Hanya saja tubuhnya masih belum seimbang. Kesadaran Bella belum sepenuhnya pulih. Jiwanya harus beradaptasi dengan tubuhnya sendiri. Keseimbangan tubuh Bella goyah, dia hampir saja jatuh. Untung saja Reynold masih ada di hadapannya. Dengan sigap lelaki itu menangkap tubuh istrinya. Kedua mata mereka saling bertatapan. Wajah Bella memanglah tipe wanita idamannya sejak dulu. Sejak awal bertemu, dia tidak menolak perjodohan yang ditawarkan oleh Jason. Hanya saja emosinya meledak karena Bella menangis. Jantung Reynold berdebar. Lelaki itu tidak bisa menahan dirinya. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Bella. Semakin lama jarak di antara mereka semakin dekat. Netranya menatap Bella nanar. Embusan napasnya terasa begitu lembut. Dia raup bibir istrinya dengan lembut. Bella tidak bisa menolak. Rasa takut mengalahkannya. Benar saja, sesuai dengan yang dia perkirakan. Bibir Bella masih seperti saat pertama dia merasakannya saat malam pertama yang terasa kacau. Ada rasa manis yang begitu membekas dan membuatnya ingin terus merasakannya semakin dalam. Bella tidak bisa menikmati hal ini. Sialnya dia terus memikirkan Alex, mantan kekasihnya. Reynold melepaskan bibirnya. Dia usap wajah Bella dengan lembut sambil menyisiri rambut istrinya yang menutupi wajah cantiknya. Rambut coklat kemerahan terlihat sangat cocok di wajah Bella. “Kalau kamu menjadi wanita penurut dan kuat, seluruh dunia ini akan menjadi milikmu, Bella. Aku benci sekali ada air mata yang menghiasi wajah cantikmu, kamu tahu!” tutur Reynold dengan suara lembut. “Baik, suamiku,” ucap Bella dengan tangan yang gemetar. “Kamu baru saja sembuh, jangan siapkan apapun. Biar asisten rumah ini yang melayani semua kebutuhanmu. Cukup kamu telepon mereka lewat ponsel ini. Rumah ini sangat luas, berteriak adalah hal sia-sia. Semua orang sibuk mengerjakan tugas mereka. Oleh sebab itu kamu hanya perlu menghubungi Kris kepala asisten rumah di sini. Dia lelaki paruh baya yang sudah lama mengambil di keluarga Clark.” Reynold memberikan sebuah ponsel yang hanya berisi nomor telepon seluruh pegawai di rumah dan juga nomor ponselnya. “Apakah aku bisa menghubungi ayahku?” tanya Bella. Wajah Reynold langsung berubah merah. Dia merasa seperti sebuah lelucon saat Bella malah ingin menghubungi ayahnya sedangkan tadi dia menghujat habis-habisan. “Kamu itu bercanda atau apa? Bukannya tadi kamu bilang jangan beri ayahmu uang karena sudah menjual putrinya kepadaku. Konyol sekali!” Reynold mendengkus keras sambil berkacak pinggang. Bella berpikir sejenak. Jika saat Julie memerankan peran Bella, dia berubah menjadi perempuan pemberani. Sedangkan sifatnya itu berbanding terbalik dengannya. Kalau dia mudah berubah, hal ini akan membuat orang di sekitarnya bingung. “Oh begitu, benar. Kamu memang benar, suamiku. Kamu tidak usah berbaik kepada ayahku. Kamu harus memanjakan aku,” ucap Bella. Dia mengikuti alur Julie. Setidaknya hal ini akan membuat nyawanya lebih aman. Sementara itu, di alam baka, Julie mendapatkan hukuman karena telah melawan hukum alam. Dia tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk kembali menguasai raga Bella. “Aarrrggghhh, lepaskan aku! Hai Tuhan, lepaskan aku!” bentak Julie. Nenek tua itu dengan arogannya berteriak, meminta dilepaskan. Padahal Tuhan yang telah menciptakannya. Bukan mengimani, dia malah bersikap merendahkan Sang Pencipta. Tiba-tiba saja ada sebuah asap hitam membuka belenggu yang mengikat tubuh Julie. Dia sang penguasa dunia hitam. Julie sendiri tidak tahu wujud asli penguasa dunia hitam. Dia hanya tahu jika ada asap hitam mengepul maka itulah penguasa dunia hitam itu. “Terima kasih, Penguasa Dunia Hitam,” ucap Julie dengan wajah tersenyum cerah. “Balaslah dendamku, buat semua sesat!” Di dunia nyata, Bella dan Reynold sedang menikmati makan siangnya. Lelaki itu dengan perhatiannya menaruh makanan di piring Bella. Dia tidak mengizinkan Bella duduk bersebrangan dengannya. Dia ingin Bella duduk di pangkuannya. Bella merasa tidak nyaman saat melakukan hal ini. Namun, dia tidak bisa membantah Reynold. Sedikit saja dia membantah, nyawanya pasti melayang lagi. Hanya ada satu yang menjadi pikirannya saat ini. Bagaimana dengan Julie. “Kamu mau makan panacotanya, Sayang?” tawar Reynold. “Iya,” jawab Bella dengan kepala yang mengangguk. Reynold menyuapi Bella dengan panacota tersebut. Lelaki itu tidak terlihat seperti orang yang memiliki tingkat arogansi yang tinggi. Sikapnya malah seperti orang yang lembut dan penyayang. Ketika suasana semakin romantis, Reynold melihat Bella mengusap sisa makanan di bibirnya. Jantung lelaki itu kembali berdebar tidak tertahankan. Belum habis panacota yang ada di atas meja, lelaki itu kembali meraup bibir Bella. “Hampir dua minggu aku tidak melakukannya, aku ingin melakukan itu sekarang juga!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN