Seketika aku membeku melihat tatapan nyalang Mama, sedangkan Ainun sontak bangkit dari posisi berbaringnya. Kami berdua sama-sama tak tahu harus bereaksi seperti apa melihat kehadiran Mama yang tiba-tiba begini. Belum lagi dari pertanyaannya tadi, tampaknya beliau mendengar pembicaraan kami barusan. "Katakan pada Mama, Arkan, apa Mama tidak salah dengar? Ainun mengidap penyakit kanker otak?" sekali lagi Mama bertanya sembari melangkah mendekati aku dan Ainun. Aku hanya bisa menghela nafas panjang sembari membuang pandanganku kearah lain, berusaha menghindar dari tatapan Mama yang tajam. Tapi tentu saja diamku itu sudah cukup menjadi jawaban untuk Mama. "Jadi benar?" tanya Mama dengan suara agak bergetar. Aku masih bergeming. Kenyataan itu sendiri sebenarnya masih sulit untuk kuterima.

