Sekembalinya ke ruang perawatan Ainun, kudapati istriku itu sedang termenung, terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil duduk menghadap kearah jendela. Dia bahkan sampai tak menyadari kedatanganku karena tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Sedang memikirkan apa?" tanyaku sambil menyentuh bahunya. Ainun agak terkejut, tapi langsung tersenyum saat menoleh kearahku. "Mas Arkan, bikin kaget saja," gumamnya. "Kamu melamun," ujarku. Ainun menggeleng. "Tidak, kok, aku cuma kepikiran undangan dari Rahma tadi. Kemungkinan aku tidak akan bisa menghadiri pernikahannya." Ainun bergumam dengan agak sedih. Aku terdiam sejenak. Ternyata itu yang sedang dia pikirkan saat ini. "Rahma sudah sangat banyak membantu ku. Selama lima tahun terakhir, aku banyak berhutang budi padanya. Agak sedih rasanya

