Aku langsung meraih tubuh ringkih Ainun masuk ke dalam pelukanku. Bagaimana bisa dia berpikir aku akan menikah lagi disaat dirinya sedang berjuang antara hidup dan mati seperti ini. Entah dari mana dia sampai punya pemikiran seperti itu. "Kamu ini bicara apa? Mana mungkin aku punya niat untuk menikah lagi?" ujarku sambil mengusap lembut punggungnya. Perlahan tangan Ainun terulur membalas pelukanku, erat dan terkesan agak posesif. Tidak pernah sebelumnya dia melakukan itu. "Pasien kamar sebelah, Mas ingat Bu Ane, yang suka mengajak aku ngobrol?" tanya Ainun kemudian masih sambil memelukku. Aku terdiam sesaat, mengingat-ingat sejenak sosok yang diceritakan Ainun. "Oh, yang sering bertemu kita di taman rumah sakit?" tanyaku balik. Ainun mengiyakan. "Kemarin waktu Mas pulang sebentar, a

