2. Bersamanya (2)

1464 Kata
Bab 2 : Bersamanya (2) ****** JOSH menyatukan alis, matanya melihat ke arah lain; dia tampak sedang berpikir. “Hmm…nggak, pernah, sih.” Josh lalu menatap Alvin lagi. “Orangnya gimana?” “Hah, seriusan lo? Dia terkenal, lho, Josh,” ucap Alvin, pria itu memutar bola matanya jengkel. “Lo jarang ngefoto cewek, sih, makanya nggak tau. Lagian, lo sibuk mikirin Windy terus.” Sialnya Josh malah tersenyum malu-malu bak sedang kasmaran. Astaga, padahal tadi itu Alvin bermaksud untuk mengolok-oloknya. Alvin sedang menyindirnya. Namun, setelah mengembuskan napasnya (mencoba untuk bersabar), Alvin pun melanjutkan, “Kak Aji pernah ngerjain proyek bareng si Keisha itu, makanya kenal. Jadi, pas gue bilang kalo lo lagi nyari model, Kak Aji langsung rekomendasiin Keisha ke gue. Gue udah kenalan sama Keisha dan setelah gue perhatiin, dia memang cocok banget buat jadi model lo. Breath of fresh air banget. Lo nggak bakal nyesel.” Mendengar itu, Josh jadi mengangguk-angguk. Dia pun menatap Alvin dengan bersemangat. Dalam hatinya, dia betul-betul berterima kasih kepada Alvin yang mau membantunya dalam segala hal walau tanpa diminta. “Wah, mantap, dong, kalau gitu! Thank you banget, Vin. Eh, tapi Kak Aji keren juga, ya, punya kenalan model terkenal gitu.” “Dia udah lebih senior dari kita, Bro. Wajar,” ujar Alvin, lalu Josh tertawa. “Iya, sih. Okelah kalau gitu,” ujar Josh. “Jadi, gimana? Lo udah dapat nomornya?” “Nomor Keisha?” tanya Alvin, sedikit mengangkat alisnya untuk mengonfirmasi. Setelah itu, Alvin mengangguk. “Aman. Udah gue minta. Kami udah ngobrol-ngobrol dan dia udah tau soal proyek lo. Dia bilang, tentukan aja kapan mau ketemuannya. Dia mau ketemu lo dulu buat mutusin dia mau atau nggaknya.” “Gila, Man, makasih banget, ya,” ujar Josh, lalu ia bertos ria dengan Alvin. Mereka sama-sama tertawa, lalu Josh melanjutkan, “Banyak banget utang budi gue sama lo.” Mendengar itu, Alvin langsung tertawa terbahak-bahak. “Aman. Ganti emas batangan aja nanti.” “k*****t,” umpat Josh, lalu mereka berdua kembali tertawa. “Ya udah. Deal, nih, ‘kan?” tanya Alvin. “Biar gue ajak Kei ketemuan.” “Oh, panggilannya Kei, ya?” tanya Josh, pria itu sedikit memiringkan kepalanya. Namanya cantik. Alvin mengangguk mengiyakan. “Yoi.” Josh pun tersenyum pada Alvin. Matanya yang jernih itu tampak berkilat; dia merasa bahwa rencananya untuk mengadakan pameran tunggal itu kini bisa terlaksana, bahkan mungkin bisa sukses. “Oke. Deal. Ajak dia ketemuan, ya. Gue mau ketemu sama dia.” Alvin mengangguk, dia juga sangat antusias. Pria itu lalu mengacungkan jempolnya pada Josh. “Oke, Bro. Sip!” Saat Alvin baru saja selesai berbicara, tiba-tiba ponsel Josh berbunyi, pertanda ada sebuah chat dari aplikasi w******p yang baru saja masuk. Josh langsung merogoh saku celana jeans denimnya dan meraih ponselnya yang ada di dalam sana. Begitu memeriksa siapa pengirim chat tersebut, Josh pun langsung tersenyum. Alvin, yang memperhatikan gerak-gerik Josh sedari tadi, kontan mendengkus. Itu pasti chat dari Windy. Alvin langsung mengedikkan bahu dan kembali memakan mie ayamnya. Terlihat Josh yang terus tersenyum tatkala membalas chat di ponselnya. Dia membalas chat itu seraya memakan mie ayam yang belum habis di mangkuknya. Alvin hanya men-scroll Shorts di YouTube tatkala Josh sibuk senyum-senyum sendiri seraya membalas chat. Namun, tiba-tiba saja Josh bersuara. Membuat Alvin langsung mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menatap Josh dengan mata yang melebar. “Eh, Vin, gue duluan, ya,” ujar Josh. “Windy minta dijemput.” “Lah, sekarang?” tanya Alvin. “Serius lo? Makanan kita belum habis, nih.” “Nggak apa apa. Lo di sini aja, habisin makanan lo. Gue duluan, ya?” ujar Josh dengan terburu-buru. Josh langsung membereskan barang-barangnya yang ada di atas meja dan mulai mengenakan tasnya. Alvin kontan menganga. Mata pria itu melebar. “k*****t, gue ditinggalin, nih?!” tanya Alvin dengan kesal dan Josh malah tertawa. “Sorry, sorry. Soalnya dia udah pulang. Ntar dia ngambek,” ujar Josh, kalimatnya terdengar seperti sebuah protes, tetapi nyatanya dia mengucapkannya dengan penuh kasih sayang. Tatapan matanya juga terlihat lembut tatkala mengucapkan itu. Dia benar-benar sedang dimabuk cinta. Alvin hanya bisa menghela napas. Dia pun mengizinkan Josh untuk pergi terlebih dahulu, meninggalkannya di warung mie ayam itu sendirian demi menjemput Windy. Alhasil, Alvin hanya duduk sendirian di meja itu, memakan mie ayamnya sampai habis seraya menonton YouTube. ****** Josh menghentikan mobilnya di depan pintu putar hotel tempat Windy bekerja. Mobil Josh tadi masuk ke halaman hotel itu dan melewati sebuah air mancur yang berbentuk lingkaran. Hotel itu adalah salah satu hotel bintang empat yang ada di Kota Surabaya. Tak lama kemudian, Josh melihat sosok Windy yang tengah berlari menghampiri mobilnya. Belum sempat Josh keluar dari mobilnya untuk menyambut Windy, Windy sudah sampai di samping mobilnya dan mengetuk kaca mobil Josh seraya tersenyum manis. Josh lantas membukakan pintu mobil itu dari dalam. Josh tersenyum, ia terlihat senang tatkala melihat wajah kekasihnya sore ini. Windy masuk ke dalam mobil, lalu menutup pintu mobil itu kembali. Tatkala sudah masuk ke mobil, Windy pun langsung memeluk tubuh Josh singkat dan hal itu sukses membuat Josh membulatkan mata. Jantung pria itu berdegup kencang. Siapa sangka rasa cintanya yang ia pendam bertahun-tahun akan menjadi kenyataan seperti ini? Dia bahagia bukan kepalang. Saat Windy melepaskan pelukannya, wanita itu pun langsung tersenyum pada Josh dan berkata, “Hai, Sayang.” Ah. Rasanya Josh seperti berada di langit ketujuh. Tubuhnya ringan seperti sedang berada di awang-awang. Melihat Windy yang tersenyum manis padanya, memeluknya, lalu mengucapkan panggilan ‘Sayang’ untuknya…ini luar biasa. Josh benar-benar bahagia. “Hai, Sayang,” jawab Josh. “Lama nggak kamu nunggunya tadi?” Windy menggeleng. “Nggak kok.” Setelah itu, Windy kembali ke posisinya; dia duduk di jok penumpang depan (di samping jok pengemudi). Setelah memasang seat belt, Windy pun menatap Josh lagi dan tersenyum manis. “Ayo, jalan, Sayang.” Josh membalas senyuman Windy, mengangguk, kemudian berkata, “Oke, Sayang.” Tak lama kemudian, Josh pun mulai menjalankan mobilnya untuk keluar dari area hotel itu. Akhirnya, mobil itu mulai masuk ke jalan besar. “Gimana kerjaan tadi, Sayang?” tanya Josh, pria itu menoleh sejenak kepada Windy yang terlihat sedang memainkan ponselnya. Sesekali Windy tampak tersenyum saat memainkan ponselnya; Windy agaknya sedang mengetikkan sesuatu di sana. Ketika mendengar pertanyaan Josh, Windy yang sedang asyik memainkan ponselnya itu lantas melihat ke arah Josh. Wajah Windy mulai menampilkan sebuah senyuman yang manis. Familierkah kau dengan senyuman yang teramat manis hingga tak terlihat seperti benar-benar ingin tersenyum, melainkan hanya karena ingin menghormati atau menghargai? Senyuman Windy hampir selalu terlihat seperti itu, tetapi Josh tidak terlalu memperhatikannya. Atau lebih tepatnya, Josh punya firasat soal itu, tetapi memilih untuk tak mengacuhkannya. Soalnya, mungkin itu hanya perasaan Josh saja. Kedua mata Windy pun tertutup seolah ikut tersenyum. Josh tidak mengatakan sesuatu yang sangat luar biasa untuk membuat Windy bisa tersenyum semanis itu. “Nggak ada apa-apa kok, Sayang,” jawab Windy, masih tersenyum manis. Wanita itu sedikit memiringkan kepalanya. “Aku terus-terusan mikirin kamu pas aku lagi kerja.” Josh yang mendengar pengakuan itu kontan terkekeh. Ada sedikit semburat merah pertanda kebahagiaan yang muncul di pipi pria itu. “Kamu ini ada-ada aja, Sayang.” Windy yang mendengar Josh terkekeh itu pun kontan tertawa pelan. Tertawa ala kadarnya untuk merespons Josh. Setelah itu, ketika Josh menoleh kepadanya, ia pun lagi-lagi memberikan Josh sebuah senyuman yang manis, sebelum akhirnya ia menatap ponselnya kembali. Josh tengah fokus membelokkan kemudinya ke kanan tatkala ada sebuah chat yang masuk ke ponsel Windy. Windy kontan tersenyum saat menerima chat tersebut; matanya berbinar karena merasa senang. Dia terlihat bersemangat saat membuka chat itu; sebetulnya, ia sudah chatting-an dengan si pengirim chat itu sejak tadi. Windy langsung membuka chat terbaru itu dengan jemari lentiknya. Frans Mahendra❤️ Udah sampai rumah, Sayang? Windy tersenyum, lalu membalas chat dari manager umum hotelnya itu. Me Belum, Sayang. Lagi diantar sama dia, nih. Frans Mahendra❤️ Kalo udah sampai ntar kabarin, ya, Sayang. Kangen. Ntar video call, ok? Me Iya, Sayang. Aku juga kangen kamu 😚 “Oh ya, Sayang, malam ini mau jalan, nggak?” tanya Josh, suara pria itu tiba-tiba terdengar lagi. Mendengar pertanyaan itu, Windy pun kontan menoleh kepada Josh lagi dan tersenyum dengan canggung. Wanita itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal; ia merasa tidak enak pada Josh. Ia lantas menggigit bibirnya sejenak karena merasa bingung. “Duh… Gimana, ya, Sayang…” ujar Windy. Bibirnya melengkung ke bawah; ia terlihat sedih. Ia lantas melanjutkan dengan manja, “Aku…kayaknya hari ini agak capek… Besok-besok aja, ya? Gapapa, ‘kan, Sayang?” Josh melebarkan matanya; dia langsung menatap Windy dan menjawab, “Oh…gitu, ya, Sayang? Oke, Sayang. Nggak apa-apa. Kamu istirahat dulu, ya. Jangan sampai kecapekan… Ntar malam langsung istirahat, oke?” Setelah mendengar jawaban dari Josh, wajah Windy pun langsung berseri-seri. Dia tersenyum sangat manis. “Oke, Sayang.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN