Bab 3 :
Bertemu Denganmu (1)
******
HARI INI, Josh mampir ke salah salah satu café yang ada di Kota Surabaya. Dia duduk dan menunggu di salah satu kursi yang ada di dekat jendela. Josh duduk di sana sendirian, tepat di sebelah kanannya ada dinding kaca yang memperlihatkan bagian luar café yang merupakan area lapangan golf. Segelas espresso dan satu buah croissant sudah tersedia di atas mejanya. Josh bersandar di kursinya; dia memilih-milih musik di handphone-nya dan sesekali membenarkan posisi wireless earphone yang terpasang di telinganya.
Josh memakai kemeja berwarna hitam yang berlengan panjang, tetapi bagian lengannya ia gulung dengan rapi hingga ke siku. Ia memakai celana jeans berwarna denim, jam tangan berwarna silver, dan sepatu olahraga berwarna putih. Penampilannya kasual, tetapi terlihat begitu cocok untuknya. Sebenarnya, style Josh hampir selalu seperti itu. Fresh and casual.
Seperti rencana yang sudah disepakati, hari ini Alvin akan mempertemukan Josh dengan Keisha Nathalie, model yang sedang naik daun itu. Ia menunggu dengan penasaran sebab ia tahu bahwa Alvin sangat paham dengan dirinya dan feeling Alvin pasti tidak akan meleset. Jika Keisha Nathalie memang cocok dengan proyeknya, maka Keisha Nathalie adalah manusia pertama yang akan menjadi muse baginya.
Josh dan Alvin sudah janjian dan Alvinlah yang akan menjemput Kei; Alvin akan membawakan Kei kepada Josh agar mereka bisa bertemu dan mengobrol soal proyek yang rencananya akan Josh kerjakan. Mereka janjian untuk bertemu jam sembilan pagi hari ini dan Josh sudah sampai di café ini sepuluh menit yang lalu, yaitu pada jam 8.45.
Josh masih mendengarkan musik dari handphone-nya sembari memeriksa akun media sosialnya yang tahu-tahu notifikasinya jadi lebih banyak daripada biasanya. Lebih ramai. Setelah diselisik, ternyata keramaian itu terjadi karena ada seorang selebgram yang mengomentari dan menyebarkan foto Gunung Arjuno yang Josh foto beberapa bulan yang lalu. Josh memfoto gunung itu ketika ia dan Alvin pergi mendaki ke sana. Pada umumnya, hampir seluruh isi media sosial Josh adalah koleksi foto-fotonya. Well, ada beberapa selfie juga, sih, yang ia upload kalau ia sedang traveling bersama keluarganya atau bersama Alvin.
Josh tersenyum saat membaca komentar orang-orang di sosial medianya.
“Yo, Josh. Dah lama sampe, Bro?”
Mendengar suara itu, Josh kontan melebarkan mata. Kebetulan volume musik yang ia putar itu tidak terlalu kencang sehingga ia masih bisa mendengar panggilan itu dengan jelas. Itu adalah suara Alvin. Josh buru-buru melepas sebelah earphone yang terpasang di telinganya.
“Oh—nggak, nggak. Gue belum lama,” ucap Josh seraya menegapkan tubuhnya. Dia pun lantas mengangkat wajahnya untuk melihat ke depan. Di sana ia melihat Alvin yang sedang berjalan menuju ke arahnya; Alvin hari ini memakai kaus berwarna navy dan pria itu tengah tersenyum seraya memamerkan deretan gigi putihnya pada Josh. Tatkala Alvin sudah sampai di depan meja Josh, barulah Josh melihat ada seorang wanita yang mulai bergerak maju ke depan, memosisikan dirinya agar berdiri berdampingan dengan Alvin. Sepertinya, tadi wanita itu berjalan di belakang Alvin.
Begitu wanita itu sudah benar-benar berdiri di samping Alvin, Josh pun langsung bisa melihat rupa wanita itu dengan jelas. Wanita itu menatapnya seraya tersenyum.
…dan Josh melebarkan mata.
Wanita itu cantik.
Rasa kagum Josh pada kecantikannya itu bukan seperti, ‘wah, cantik banget, gue naksir!’, tetapi lebih seperti seorang seniman yang telah menemukan visual yang pas untuk dimasukkan ke dalam karyanya. Menjadi objek di dalam karya seninya. Menjadi fokusnya.
Akan tetapi, dari kedua mata wanita itu yang jernih, dari cara ia memandangi Josh dengan penuh percaya diri, serta dari sikapnya yang ramah itu, Josh mendadak yakin bahwa wanita ini bukanlah sekadar objek biasa. Dia adalah seorang manusia yang mungkin memiliki kehidupan yang istimewa. Dia terlihat bebas dan mungkin akan sukar untuk digenggam. Agaknya, menjadi objek dari suatu karya seni bukanlah satu-satunya hal yang ia lakukan di dalam hidupnya sehingga mungkin saja takkan ada fotografer sinting yang ingin ‘memilikinya’ seorang diri dan menjadikannya sebagai objek dari fantasi gila mereka. Meskipun tidak memakai pakaian yang terlalu mewah, wanita ini terlihat elegan, independent, tegas, dan confident.
Well, she isn’t just an ‘object’.
Wanita itu memiliki rambut berwarna dirty blonde. Rambut itu ia ikat satu di belakang dengan gaya sleek bun. Dia berpakaian santai; dia hanya memakai baju tanpa lengan yang berwarna hitam, jam tangan manis berwarna abu-abu, dan loose pants berwarna putih. Wanita itu membawa handbag berwarna putih di tangan kanannya. Meskipun Josh tidak dapat melihatnya, wanita itu ternyata juga memakai sepatu olahraga berwarna putih. Makeup-nya sederhana, tetapi terlihat fresh dan elegan. Clean girl makeup.
Pakaiannya memang kasual, tetapi aura seorang model memang berbeda. Dia memperindah pakaian yang sedang ia kenakan. Wanita itu sukses menarik perhatian banyak orang di café itu. Tubuhnya tinggi dan ramping; kulitnya eksotis. Dia bukan wanita yang imut dan mungil, melainkan wanita yang bertubuh tinggi, ramping, dan seksi.
“Ah, Josh,” ujar Alvin seraya menunjuk Kei yang berdiri di sebelahnya dengan menggunakan seluruh jemarinya. “Ini Keisha Nathalie atau Kei. Model yang mau lo temuin hari ini.”
“A—Aahh…” Josh mengerjap, pria itu menggelengkan kepalanya; dia langsung mencoba untuk menyadarkan dan menguasai dirinya kembali setelah memperhatikan Kei—dengan tanpa berkedip—untuk beberapa detik lamanya. “Y—Ya. Mbak Kei, ya? Salam kenal, Mbak.” Josh langsung berdiri dan mengulurkan tangannya di depan Kei, hendak menjabat tangan Kei.
Kei tertawa renyah dan menyambut jabatan tangan Josh. “Ahaha, iya, salam kenal juga. Mas Josh Andriano, ya?”
“Haha, iya, Mbak. Mari, Mbak Kei, silakan duduk,” ucap Josh seraya mempersilakan Kei untuk duduk di kursi yang ada di seberangnya. Kei pun duduk di sana dan Alvin juga ikut duduk, tetapi Alvin duduk di sisi yang berbeda dengan Josh dan Kei. Dari keempat sisi meja, Alvin duduk di sisi kiri. Di sisi kanan meja juga ada kursi, tetapi kursi itu membelakangi dinding kaca sehingga Alvin tak mau duduk di sana. Bisa dibilang Alvin duduk di tengah-tengah Josh dan Kei.
“Kita pesen makanan dan minuman dulu, ya, Mbak,” ujar Josh.
Kei mengangguk, ia kembali tersenyum. “Oh… Boleh boleh.”
Josh kemudian juga menoleh kepada Alvin. “Vin, kita pesen makanan dan minuman dulu aja, ya.”
“Iya iya, ayo pesen. Biar gue panggil dulu,” jawab Alvin, pria itu lalu mulai memanggil waitress yang kebetulan sedang lewat di ujung sana. Ketika waitress itu datang ke meja mereka, Alvin pun mulai memesan berbagai makanan dan minuman, lalu memberikan papan menunya kepada Kei agar Kei memesan apa yang ia inginkan.
Begitu waitress itu pergi, Alvin dan Kei kembali menghadap dan fokus kepada Josh. Pagi-pagi begini tampilan mereka segar semua. Alvin mulai membuka suara, “Jadi, dari jam berapa lo nyampe, Bos?”
“Belum lama, Bos. Sepuluh menitan yang lalu,” jawab Josh. Josh lalu menatap Kei. “Tadi Mbak Kei dijemput sama Alvin jam berapa?”
“Emm…” Kei sedikit melipat bibirnya, berpikir. Dia terlihat sangat cantik. “Mungkin dua puluh menit yang lalu, Mas. Jarak dari rumahku ke sini lumayan jauh soalnya.”
Memperhatikan mereka berdua, Alvin jadi tersenyum (sedikit) geli. “Udah, deh, kalian berdua, hilangin aja itu embel-embel Mas dan Mbak-nya. Santai aja kayak gue.”
Kontan Josh dan Kei melihat ke arah Alvin; mereka berdua sedikit melebarkan mata, lalu tertawa malu-malu.
“Oalah…ada-ada aja,” jawab Kei seraya masih tertawa. Wanita itu lalu menatap Josh, memiringkan kepalanya, lalu tersenyum. “Ya udah, kalo gitu saya panggil Josh aja, ya, Mas.” []