Bab 4 :
Bertemu Denganmu (2)
******
JOSH yang masih meredakan tawanya—masih tersenyum malu—pun mengangguk, menatap Kei, lalu tersenyum. “Iya, Mbak, boleh kok, boleh. Saya juga panggilnya Kei aja, ya.”
“Oke oke,” jawab Kei seraya mengacungkan jempolnya.
“Nah. Gitu, kan, enak,” kata Alvin seraya bersandar dan menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Pria itu tersenyum sambil mengangguk seolah meng-approve situasi itu. Jujur, dia lebih senang melihat Josh berinteraksi dengan Kei daripada dengan Windy.
Josh pun tertawa singkat, lalu memajukan tubuhnya. Kedua tangannya kini terlipat di atas meja. “Jadi, Kei, sejak kapan Kei kenal sama Alvin?”
“Hm…seminggu yang lalu, sih, Josh. Baru kenal juga. Dikenalin sama Kak Aji,” jawab Kei. Kei lalu menatap Alvin dan Josh secara bergantian. “Ini jadi kalian berdua udah lama temenan?”
Josh mengangguk. “Iya, udah dari zaman SMA. Sama-sama merantau cari kerja ke Surabaya. BTW makasih, ya, Kei, udah mau ketemuan sama kita.”
“It’s okay. Aku cukup tertarik setelah dengerin ceritanya Alvin. Pengin tau aja proyek yang bakal kamu bikin itu seperti apa.” Kei tersenyum. “Anyway, kalian memangnya asal mana?”
“Jakarta. Kami sama-sama merantau ke sini. Sama-sama ada passion di bidang fotografi, sih, tapi Alvin masih punya kerjaan sebagai graphic designer,” jawab Josh.
“Pantes aja pakai lo-gue.” Kei tertawa, Josh dan Alvin pun tertawa. “Jadi, kalian tinggal bareng atau gimana?”
“Widih, walau sama-sama cowok dan udah temenan lama, untuk tinggal berdua ya tentu tidak, Kei,” jawab Alvin. Mendadak Kei dan Josh jadi ngakak. “Lagian, si Josh ini rumahnya dia jadikan sebagai studionya. Jadi, dia lebih fleksibel kalau tinggal sendirian.”
Josh mengangguk-angguk seolah mengonfirmasi perkataan Alvin. Mulut Kei membulat—membentuk ‘O’—lalu wanita itu ikut mengangguk-angguk. “Oh…gitu. Keren juga, ya. Jadi, proyek apa yang mau kamu kerjain, Josh?”
“Em…rencananya…” Josh sedikit menunduk, senyuman tipis timbul di wajahnya. Ia sedikit ragu untuk menyampaikan apa yang ia inginkan selama ini, tetapi akhirnya ia mulai memberitahu Kei, “Aku mau merekam perjalanan hidup seorang manusia, terutama wanita. Proses penemuan jati dirinya. Potret jiwanya saat masih belum ternodai oleh kekejaman dunia, potret saat dunia menghancurkannya, serta potret saat dia menemukan ‘siapa’ dirinya dan untuk apa dia hidup di dunia. Proses bertambah kuatnya jiwa seorang manusia, bertambahnya ilmu dan pengalamannya, hingga menjadikannya seorang manusia yang utuh. Jalur penemuan diri, pertumbuhan spiritual, dan eksplorasi batin yang mendalam dan transformatif. Sebenernya, udah ada judul yang kupikirkan buat proyek ini, tapi mungkin kedepannya bakal ada perubahan. Aku bakal nerima saran dari semua orang terdekatku. Proyek ini bakal aku beri nama: The Unseen Seasons: Woman.”
Kei sejak tadi hanya bisa mendengarkan Josh dengan mata yang melebar. Mulutnya terbuka.
Dia benar-benar kagum dengan pemikiran Josh. Sebenarnya, Kei sudah beberapa kali bertemu dengan seniman, tetapi baru kali ini dia bertemu dengan orang yang pemikirannya seperti Josh, terutama Josh ini masih muda. Kalau dilihat-lihat, sepertinya Josh seumuran dengannya.
“…Woah…” Kei mengedipkan matanya dua kali dalam tempo lambat; wanita itu menggeleng tak percaya. “Keren, serius. Itu ide yang keren. Kamu udah lama punya ide itu?”
“Ah—haha. Lumayan, Kei,” jawab Josh. “Aku pengin ngangkat tema kayak gini. Kalau kamu tertarik…setelah pertemuan kita pagi ini, kamu bisa hubungi aku.”
“Oh, boleh, boleh.” Kei mengangguk seraya tersenyum pada Josh.
“Nanti gue yang kasih nomor lo ke Kei, Josh.” Alvin menengahi.
“Oke oke,” jawab Josh seraya mengacungkan jempolnya pada Alvin. Kei terkekeh melihat mereka berdua.
Beberapa detik setelah itu, pesanan mereka pun akhirnya sampai. Josh, Alvin, dan Kei membantu para waitress menyusun pesanan mereka di atas meja seraya mengobrol, lalu mereka mulai makan setelah sebelumnya Kei mengatakan terima kasih kepada para waitress itu. Josh memperhatikan Kei seraya tersenyum, melihat bahwa ternyata walaupun Kei adalah seorang model yang sedang naik daun, dia bukanlah orang yang sombong. Dia justru sangat friendly kepada orang lain, tetapi entah bagaimana dia tetap kelihatan elegan dan berkelas.
Sembari makan, Alvin tiba-tiba berbicara, “Ntar abis ini kita ke studio lo aja, Josh. Biar sekalian testing foto-foto.” Alvin pun menoleh kepada Kei. “Mau nggak, Kei? Atau kamu lagi ada kesibukan lain?”
“Hm?” Kei menoleh kepada Alvin seraya menelan spaghetti-nya. Dia mengangguk. “Boleh. Aku nggak ada kesibukan lain kok hari ini.”
“Oke, deh, kalo gitu,” jawab Alvin. “Ntar abis dari sini kita ke rumahnya Josh.”
Josh mengangguk. “Oke,” ujarnya. Dia lalu melihat ke depan, ke arah Kei. “Thanks, ya, Kei.”
Kei tersenyum pada Josh dan mengangguk. “No problem.”
******
Begitu sampai di rumah Josh, Kei melihat ke sekeliling. Rumah Josh tidak begitu luas. Minimalis, tetapi modern. Dinding rumahnya serta seluruh perabotannya dominan berwarna putih, abu-abu gelap, hijau lumut, dan hitam. Tatkala Kei masuk ke studio fotografi Josh pun, dindingnya berwarna abu-abu. Barang-barang di studio itu dominan berwarna hitam.
Akan tetapi, ada sebuah hal yang menarik perhatian Kei tatkala masuk ke studio itu. Di dinding yang dekat dengan posisi pintu, tergantung sebuah foto yang berbingkai. Bisa dibilang foto itu adalah foto pertama dari arah pintu.
Itu adalah foto seorang perempuan.
Perempuan itu sedang tertawa lepas di sebuah lapangan yang penuh dengan alang-alang. Perempuan itu manis, rambutnya sepunggung dan berwarna hitam. Entah mengapa foto itu menarik perhatian Kei; tanpa sadar Kei jadi berdiri di depan foto itu.
“Ada apa, Kei?” tanya Alvin yang sudah berdiri di tengah-tengah ruangan bersama Josh. Josh yang baru saja mau mengambil kameranya itu pun ikut-ikutan menoleh kepada Kei.
Kei tersentak, dia langsung menoleh kepada Alvin dan Josh. “O—Oh, enggak. Ini…aku lagi lihatin foto ini. Ini foto siapa, ya?” tanya Kei seraya tersenyum dengan canggung, jarinya menunjuk foto itu.
Melihat ke foto yang sedang Kei tunjuk, kontan kedua pasang mata Alvin dan Josh melebar.
Itu adalah foto Windy. Josh memajangnya di sana setelah vacation pertama mereka satu bulan yang lalu. Sebetulnya, Alvin dan pacarnya, Meira, ikut serta di vacation itu.
“A—Ah…itu…” Alvin jadi bingung sendiri. Dia tak tahu mau menjawab apa, apalagi Josh juga hanya diam saja. Tak enak kalau tiba-tiba membicarakan soal asmara ketika sedang bekerja.
Akan tetapi, ternyata Kei tidak begitu memedulikan soal ‘siapa’ perempuan itu. Agaknya, dia lebih peduli dengan impresi yang ia dapatkan karena memperhatikan foto itu sejak tadi. Jadi, sebelum Alvin dan Josh sempat menjawab apa pun, Kei langsung mengalihkan pandangannya ke depan lagi; dia memperhatikan foto itu dengan seksama.
“Foto ini…” Alis Kei hampir menyatu saat memperhatikan foto itu; matanya sedikit menyipit agar lebih fokus. Setelah itu, seraya mencoba untuk mengeluarkan segala kesannya terhadap foto itu—menerawang maknanya—Kei pun akhirnya berbicara dengan perlahan, “bagus. Iya, bagus… Perempuannya juga keliatan senang. Tapi…kok aku ngerasa kalo…dari foto ini perempuan itu keliatan…jauh?”
Kei menggeleng. Dia sendiri tak yakin dengan pemilihan kata yang ia buat. Akan tetapi, tidak ada kata-kata lain yang mampu mewakilkan seluruh perasaannya tatkala melihat foto itu. Perempuan di dalam foto itu sepertinya difoto dari jarak dekat, tetapi entah mengapa terasa…begitu jauh…
Di sisi lain, setelah mendengar komentar dari Kei, mata Josh kontan membeliak. Entah mengapa ia merasa seolah ada sebuah pisau yang menikam dadanya. Mendadak, entah karena alasan apa, tubuhnya mematung dan dia tak mampu menjawab apa-apa. Otaknya juga masih mencerna apa yang Kei maksud meskipun sebenarnya detak jantungnya terdengar lebih cepat akibat komentar itu. []