5. Bertemu Denganmu (3)

1281 Kata
Bab 5 : Bertemu Denganmu (3) ****** SEMUA reaksi Josh itu tak luput dari mata Alvin. Alvin pun menunduk sejenak, lalu menatap Kei lagi dan menghela napas. Sebenarnya, Alvin tahu apa maksud Kei. Dia mengerti karena dia pun merasakan hal yang sama ketika pertama kali melihat foto itu. Namun, sekarang Alvin memilih untuk diam. Ia tak mau membuat suasana jadi tidak enak ketika mereka seharusnya fokus, apalagi pastinya Kei juga menanyakan hal itu tanpa tahu apa-apa. Tertawa canggung, Alvin pun akhirnya memecah keheningan itu. “Ah—hahaha…ya udah, yuk. Kita coba mulai sesi fotonya. Mumpung lagi semangat, nih. Ayo, Kei!” Mendengar ajakan Alvin, Kei pun akhirnya menoleh kepada pria itu, lalu tersenyum dan mengangguk. “Oh…oke oke. Yuk. Fotoin aku yang bagus, yaa,” canda Kei seraya menghampiri kedua pria itu. Alvin tertawa. Josh pun akhirnya tersadar dan dia kembali mengalihkan fokusnya ke tujuan awal mereka datang ke rumahnya. Ia lantas mencoba untuk tersenyum, mengangguk, lalu berjalan mendekati kameranya. “Oke, sip.” Akhirnya, sesi pemotretan itu pun dimulai. Selama sesi pemotretan, mereka banyak bercanda dan tertawa. Josh dan Alvin sadar bahwa ternyata Kei ini selain ramah dan tidak sombong, dia juga orangnya asik. Dia suka bercanda. Orangnya cukup simple. Namun, sekali lagi, entah mengapa dia tetap terlihat classy, elegan, dan berwibawa. Selain karakternya yang menyenangkan, dia juga sangat cantik dan eksotis. Wajahnya tirus dan s*****l. Pantas saja karirnya melejit di dunia modeling. Saat sesi pemotretan pun, Josh semakin yakin bahwa: tidak salah lagi. Keisha Nathalielah yang harus menjadi muse-nya untuk proyek ‘Wanita’ sudah lama ia simpan di angan-angan. Di sisi lain, Kei juga memikirkan hal yang kurang lebih sama, yaitu: …dia ingin bergabung dengan proyek milik Josh ini. Dia ingin menghabiskan waktunya untuk penyelesaian proyek ini lebih lama lagi. ****** “Kami balik dulu, ya, Bro,” ucap Alvin saat dia telah sampai di sisi kanan mobilnya; dia sudah membuka pintu mobil itu. Kei berdiri di sisi kiri mobil Alvin. “Ntar foto-foto tadi kirim juga ke kami berdua, oke?” Josh tertawa, pria itu lalu mengacungkan jempolnya dan mengangguk. Dia berdiri di teras rumahnya, memperhatikan Alvin dan Kei yang baru saja mau naik mobil. “Oke siaaap, Bosku. Tiati, yaa.” “Seeeep,” jawab Alvin seraya mengacungkan jempolnya pada Josh. “Kami balik dulu, yaaak.” “Oke oke,” jawab Josh, lalu ia melihat Alvin yang mulai masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Josh mendengar suara Kei. “Aku pulang dulu, Josh. Ntar aku kabarin, yaa. Bye,” pamit Kei. Wanita itu melambaikan tangannya kepada Josh seraya tersenyum manis. Percakapan mereka hari ini sukses membuat kecanggungan di antara mereka hilang sepenuhnya dan mereka sudah bisa berteman dengan baik. Ngobrolnya nyambung, kalau menurut Josh. Kebetulan Kei juga bukan orang yang jaim-jaim amat. “Oke. Tiati, yaa, Kei. Ntar aku kirim-kirim juga fotonya. Bye!” Josh ikut melambaikan tangannya dan tersenyum kepada Kei. Setelah itu, Kei pun mengangguk dan langsung masuk ke mobil Alvin. Begitu Kei sudah masuk ke mobil itu, satu klakson pertanda salam dibunyikan dari dalam mobil dan Josh mengangguk. Akhirnya, mobil Alvin pun mundur, lalu keluar dari halaman rumah Josh. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya mobil itu benar-benar pergi dari rumah Josh dan mulai berjalan dengan pelan di area kompleks perumahan. Selama berada di dalam mobil, percakapan yang terjadi di antara Kei dan Alvin sangatlah santai karena mereka sudah mulai terbiasa. Alvin orangnya lebih supel daripada Josh, dia juga lebih terbuka. Mereka membicarakan sesi foto tadi serta candaan-candaan mereka saat berada di studio Josh. Akan tetapi, ketika mobil Alvin mulai memasuki jalan raya, tiba-tiba Kei mulai bertanya. “Emm… Vin. Menurut kamu, Josh itu orangnya…gimana?” Alvin kontan membulatkan mata. Seraya menyetir, matanya mulai melihat sesekali ke arah Kei yang sedang duduk di sampingnya. “Eh? Kenapa emangnya, Kei?” Kei menoleh kepada Alvin; wanita itu mengerjap, lalu dia tertawa dengan canggung. Akhirnya, dia kembali menatap ke depan. “A—Aahh…enggak. Aku pengin tau aja, Vin.” Sambil menyetir, Alvin lantas tersenyum jail. “Pengin tau apa pengin tau…” Kontan saja Kei tertawa kencang. Dia sampai menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, lalu setelah puas tertawa, dia pun menjawab, “Waduuuh, aku ketahuan, ya? Hahahaha!” Alvin ikut tertawa. Tawa pria itu terdengar benar-benar puas, benar-benar lega. Terus terang saja, dia senang sekali mendengar kabar gembira ini. Tak ia sangka harapan kecil yang ia simpan di dalam d**a untuk sohibnya itu bisa menjadi kenyataan. Kesabarannya selama ini berbuah manis. Alvin pun tersenyum semringah. “Umm… Josh, ya. Orangnya baik. Baik banget malah. Yaa kayak apa yang udah kamu liat tadi, Kei. Orangnya nggak neko-neko.” Kei mengangguk dan tersenyum. Dia lalu menatap Alvin. “Umur kalian berapa, sih, Vin?” “Hm?” Alvin menoleh kepada Kei sejenak, lalu menatap jalan lagi. “Oohh, kami seumuran. 28 tahun. Kamu berapa, Kei?” “Sama,” jawab Kei. Namun, Kei tiba-tiba mengernyitkan dahinya. “Lho, kok kalian belum nikah?” Kontan saja Alvin menatap Kei dan menyatukan alisnya. “Lah lah lah, kayak kamu udah nikah aja. Kamu sendiri belum nikah.” Spontan Kei tertawa keras, begitu juga Alvin. Alvin langsung berkomentar lagi, “Sama-sama belum nikah, nih, jadi jangan saling mempertanyakan nasib, oke?” Kei kembali tertawa. “Eh, tapi—nggak nggak, serius, kamu beneran belum ada rencana mau nikah?” “Kalau rencana itu pasti ada, Kei,” jawab Alvin, masih tersisa senyuman di wajahnya. “Aku ada cewek kok. Cuma emang belum nikah aja.” Kei mengangguk-angguk. Mulutnya membentuk ‘o’ kecil. “Ooh…gitu.” Kei memiringkan kepalanya ke sisi. “Kalau…Josh?” Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba saja senyuman yang ada di wajah Alvin luntur. Tak tahu apa sebabnya, mendadak Alvin terdiam. Pria itu memandangi jalanan di depan sana seraya mengerutkan dahi. Tatapan matanya terlihat agak aneh saat itu. Ia memandang jalan, tetapi seolah tak benar-benar melihat ke sana. Ada kekecewaan, kekesalan, serta kebingungan yang tersirat di tatapan matanya. Kei jadi menyatukan alis. Mengapa ekspresi wajah Alvin tiba-tiba berubah? Setelah beberapa detik lamanya Alvin terdiam, akhirnya pria itu menghela napas. Ia pun mulai berbicara. “Josh itu… Dia punya pacar,” jawab Alvin, ia agak ragu tatkala mengucapkan kata ‘pacar’. “Pacarnya itu temen sekelas kami waktu SMA. Dia tinggal di kota ini juga.” Mendengar jawaban dari Alvin itu, entah mengapa tiba-tiba Kei merasa seperti ada sentilan pelan di hatinya. Namun, biar pelan begitu, sentilan itu sukses memudarkan senyumnya dan mengurangi semangatnya saat mengobrol dengan Alvin waktu itu. Kei lantas menunduk—memandangi pahanya sendiri—lalu mengangguk perlahan seraya tersenyum sendu. “Oh…gitu, ya…” Alvin mengangguk. Pria itu mendengkus pelan, lalu kembali berkata, “Belum lama ini, sih, jadiannya. Kebetulan ketemu cewek itu beberapa bulan yang lalu.” Kei menatap Alvin sejenak, lalu mengangguk dan melihat ke arah jalanan kembali. “Oh…gitu.” Walah, kalo saingannya orang lama, kayaknya susah… Di sisi lain, sebenarnya Alvin tak mau membahas hal ini di depan Kei, terutama setelah Kei mengungkapkan ketertarikannya kepada Josh. Namun, walau Alvin tak memberitahu Kei, Alvin yakin kedepannya Kei pasti akan tahu juga. Jadi, lebih baik Kei diberitahu dari sekarang supaya kedepannya dia tidak merasa seperti ditipu. Sebenarnya, Alvin sangat ingin menyerukan kepada Kei agar tetap gas saja. Tetap dekati Josh walaupun Josh punya pacar. Soalnya, Alvin tidak menyetujui hubungan Josh dengan Windy. Alvin ingin Josh putus dengan Windy dan mencari pacar baru. Namun, apalah daya. Alvin tak mau dicap seolah-olah dia menyuruh Kei untuk menjadi perebut kekasih orang. Dia juga tahu betapa keras kepalanya Josh soal Windy dan pasti Josh akan ribut kalau tahu bahwa Alvin sudah mengatur rencana kotor seperti itu. Ah, seriusan. Geram sekali rasanya. Geregetan. Akhirnya, Alvin hanya bisa berdoa. Mudah-mudahan Kei nggak nyerah gitu aja, aamiin. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN