11. Segalanya Untuknya (3)

1261 Kata
Bab 11 : Segalanya Untuknya (3) ****** AKHIRNYA, karena Windy memeluk dan mengusap lengannya…serta menatapnya dengan mata bulat polos itu, Josh pun menarik napas panjang. Dia mengesampingkan seluruh perasaan tak enak itu…lalu membuang pikiran buruknya. Jahat juga kalo curiga sama Windy, pikirnya. Dia harus percaya pada Windy. Windy itu orang baik. Cerah. Tulus. “Iya, Sayang.” Josh mengangguk. “Maaf kalo pertanyaanku terkesan kayak nginterogasi kamu.” Windy memiringkan kepalanya dan tersenyum semanis madu. “Nggak apa-apa, Sayang. Percaya sama aku, ya? Aku cuma fokus kerja kok. Frans cuma manajerku.” “Hm,” deham Josh. Percakapan pun mengalir lagi. Namun, karena topiknya masih seputar ‘acara anniversary hotel’, ujung-ujungnya Windy kembali menyebut nama Frans. Soalnya, resepsionis juga ikut jadi panitia acara dan Frans adalah manajer mereka. Jadi, Windy akhirnya banyak cerita seputar Frans: bagaimana Frans menawarkan idenya soal lampu, bagaimana dia berkoordinasi dengan supplier, bagaimana dia membantu menyelesaikan masalah sound check, dan lain-lain. Setiap kali Windy bercerita soal Frans, wanita itu tersenyum riang dan pipinya merona sedikit. Namun, kalau deskripsinya sudah terlalu ‘panjang’, dia langsung mengalihkan pembicaraan. “Dia sempet nanya, ‘Kenapa nggak kita taruh lampu di sini aja biar lebih intimate?’, terus aku mikir, ‘Ooh, iya juga, ya.’ gitu. Bener-bener ada aja idenya,” kata Windy, kedua matanya berbinar saat menjelaskan itu. “Terus…tadi dia juga bilang ke aku kalo dia bakal bantu bagian aku. Aku bilang nggak usah, terus dia bilang, ‘Ya udah, nanti kalo kamu butuh, tinggal bilang aku.’ gitu. Tulus banget pokoknya,” tambah Windy. “Dia bener-bener terlibat banyak, ya,” komentar Josh, padahal hatinya mulai terasa sakit. Darahnya terasa…mendidih. Mengapa Windy terdengar…kagum sekali pada Frans? Mengapa Windy terlihat berbunga-bunga saat membicarakan Frans? Apa Windy tertarik pada Frans? …atau…Josh saja yang terlalu sensitif? “Iya,” jawab Windy. “Kadang-kadang, dia juga bantu kerjaan anggota-anggotanya yang lain.” Josh diam. Rasanya mengganjal sekali; sakit sekali mendengar Windy terus membicarakan pria lain, tetapi akhirnya…ia memilih untuk menahan semuanya. …meskipun mulutnya masih terus ingin memastikan. “Kamu yakin semua itu cuma kerjaan?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Josh. Mungkin…karena dia terlalu gelisah. Windy mengernyitkan dahi. Wanita itu menatap Josh—terlihat serius sebentar—lalu sedikit mendengkus. Ekspresinya terlihat tak suka tatkala menjawab, “Iya, Josh. Kita cuma kerja. Kamu itu pacarku. Nggak perlu khawatir.” Tahu bahwa Windy terdengar kesal, Josh pun tak ingin memperpanjang masalah. Ia tak mau bertengkar dengan Windy. Ia tak mau hal ini membuat Windy marah dan berakhir mengabaikannya. Ia tak mau kehilangan Windy juga. Akhirnya, meskipun pikirannya sudah kacau balau, meskipun hatinya terasa perih, meskipun tangannya berakhir mencengkeram setir, Josh mencoba untuk tersenyum. Ia mulai mengganti topik. “Ukuran sepatunya pas, ‘kan?” Windy mengangguk. Tiba-tiba, karena membahas sepatu, wanita itu jadi tersenyum riang lagi. “Pas. Aku suka. Kamu pinter milihnya, Sayang.” Suasana jadi sedikit mencair. Windy menyentuh pipi Josh pelan, “Makasih, ya. Kamu perhatian banget sama aku.” “Ya…aku mau nyenengin kamu,” kata Josh. Untuk sementara, sikap manis Windy mampu meredam kegelisahannya. Di akhir perjalanan, ketika mobil hampir sampai di depan rumah Windy, Josh mengucapkan pertanyaan terakhir yang sejak pagi sudah mengusiknya. Suaranya terdengar pelan dan hati-hati saat bertanya, “Kamu…kenapa nggak bales chat aku seharian ini?” Windy menghela napas panjang. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, lalu diam-diam memutar bola matanya. “Hari ini hectic banget, Sayang. Aku nggak buka WA. Banyak yang harus kupikirin. Nanti di rumah aku liat chat-nya, jadi jangan khawatir. Kan kamu tau kalo aku sayang sama kamu.” “Aku cuma pengin tau aja, Win,” ujar Josh jujur. “soalnya tadi kamu bisa angkat video call aku.” Windy menghela napas, lalu menatap Josh. “Ya itu, kan, karena aku udah tau kalo kamu video call untuk belanjain aku. Aku cuma fokus kerja, Sayang. Aku bukannya sengaja nggak balas. Aku emang nggak buka WA seharian ini. Jangan bikin aku jadi jelasin hal kecil gini, oke? Intinya, pacarku itu kamu, Josh. Bukan Frans, bukan orang lain. Pacarku itu kamu seorang.” Ekspresi Windy terlihat separuh memerintah dan separuh manja. “Kamu harus ngerti, ya, Sayang?” Akhirnya, setelah beberapa detik hanya diam… …Josh pun mengangguk. “Ya udah. Aku ngerti.” Windy pun tersenyum manis—sangat manis dan cerah, seperti matahari—lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Josh. Dia memberi Josh sebuah kecupan singkat di pipi; sebuah cap manis yang selalu sukses ‘menenangkan’ Josh. “Thanks, Sayang.” Begitu sampai di depan rumah Windy, Josh pun menghentikan mobilnya. Windy pamit singkat, turun, lalu melambaikan tangannya kepada Josh sebelum akhirnya membuka pagar rumah. Saat pagar itu kembali tertutup—dan Windy menghilang dari pandangannya—Josh diam sebentar. Pria itu duduk di mobilnya…sambil menatap pagar hitam itu. Perasaannya campur aduk. Pikirannya kembali…melanglang buana. Tak lama kemudian, dia pun menghela napas…dan pulang. ****** Langit sudah gelap saat Josh sampai di depan rumahnya. Setelah perjalanan hari itu, tubuhnya terasa berat. Rasanya banyak sekali hal yang terjadi, melelahkan sekali, padahal kenyataannya…hari ini dia tak ada kesibukan apa pun selain mengantar-jemput Windy dan berbelanja untuk Windy. Ia berhenti sejenak di depan pintu, memegang gagang pintu itu tanpa segera membukanya. Perasaannya saat itu tidak sederhana. Benar-benar…sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang hangat. Perasaan bahagia kecil yang muncul tiap kali ia menghabiskan waktu dengan Windy. Ia masih bisa merasakan kecupan Windy di pipinya, suara manja Windy ketika meminta sesuatu padanya, dan bagaimana Windy tersenyum riang ketika ia menyanggupi permintaan wanita itu. Namun, di balik kehangatan itu, ada pula rasa sakit, kegelisahan, dan kesunyian…yang menekan d**a Josh. Bayangan sosok Windy di lobby hotel tadi sore kembali terlintas di otak Josh: cara Windy berbicara dengan Frans, sorot matanya yang terlihat begitu bahagia, tawanya yang lepas, kedekatannya dengan Frans, semuanya seakan-akan mau memberitahu sesuatu yang tak ingin Josh dengar. Setiap kali mengingat perbedaan antara ekspresi Windy di hotel dan di mobilnya, ada rasa tidak enak yang sulit ia buang meskipun sejak tadi ia sudah berusaha denial berkali-kali. Semua itu bercampur. Hangat dan dingin. Bahagia dan curiga. Senang dan nyeri. Josh menghela napas panjang. Akhirnya, dia pun membuka pintu rumahnya. Rumah itu gelap. Sunyi. Tak ada apa pun yang menyambutnya selain udara dingin yang mengisi ruang tamu. Namun, ia tak langsung menyalakan lampu. Ia hanya berdiri sejenak di ambang pintu, membiarkan kegelapan itu menyelimuti tubuhnya, seperti memberi ruang bagi pikirannya untuk mencecap segala perasaan yang belum sempat ia hadapi. Ia seperti…ingin leluasa memikirkan seluruh kegelisahannya terlebih dahulu. Di dalam kegelapan, biasanya…kau bisa lebih fokus dalam merefleksi dirimu. Merenungkan semuanya. Josh pun melangkah masuk. Ia menutup pintu rumahnya perlahan, lalu berjalan tanpa suara menuju sofa di ruang tamu. Rumah itu berada dalam keheningan total, hanya terdengar suara kunci yang Josh letakkan di atas meja. Josh duduk di sofa itu. Kepalanya bersandar. Matanya terpejam sebentar. Dia lelah. Bingung. Namun, ya…sedikit bahagia juga. Setelah merasa sedikit tenang, Josh pun meraih ponsel yang ia simpan di saku celananya. Ia membuka kunci layar, lalu cahaya putih dari ponsel itu menyinari wajahnya dalam ruangan yang masih gelap. Ia membuka aplikasi w******p. Ternyata, pesan-pesannya sejak pagi tadi… …masih belum dibaca oleh Windy. Masih centang dua, abu-abu. Tidak berubah. Josh menatap chat itu selama beberapa detik, seolah-olah menunggu warna centang itu berubah menjadi biru. Namun, tidak ada yang terjadi. …bukankah Windy sudah ada di rumah sejak tadi? Apa Windy sedang mandi? Josh lantas membuka chatroom-nya dengan Windy. Dia men-scroll ke atas, memeriksa satu per satu pesan yang ia kirimkan. Semuanya masih belum terbaca. Namun, ada sesuatu yang Josh lihat…yang sukses menikam dadanya. Membuat jantungnya seolah-olah tertohok lembing tajam. Windy sedang online. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN