10. Segalanya Untuknya (2)

1385 Kata
Bab 10 : Segalanya Untuknya (2) ****** “YA UDAH, aku beliin clutch juga, ya,” jawab Josh dengan lembut. “Aku seneng bisa beliin kamu.” “Makasih, Pacarku Sayang,” ujar Windy. Pipi Josh sempat memerah mendengar panggilan baru itu. Sedetik kemudian, Josh tersenyum dengan penuh kasih sayang…lalu mengangguk. “Sama-sama, Sayang.” Sebelum turun dari mobil, Windy mendekati Josh lagi. Dia mengecup pipi Josh pelan, lalu berbisik, “I love you, Sayang.” Ah, Josh senang sekali mendengar tiga kata itu keluar dari mulut Windy. Ia benar-benar sedang dimabuk asmara. Harapan lama yang akhirnya terkabul. Penantian lama yang akhirnya terbayar. Oh, rasanya bahagia luar biasa. Bagi Josh, itu adalah bukti nyata—yang cukup—bahwa Windy juga mencintainya. “I love you too, Sayang,” jawab Josh tanpa ragu. Wajahnya cerah; matanya berbinar-binar saat melihat Windy turun dari mobil dengan langkah ringan. Windy menutup kembali pintu mobil setelah melambai pelan pada Josh. Dari balik kaca, Windy tampak berjalan memasuki hotel dengan santai. Josh tersenyum lembut; ia memandangi Windy—sampai wanita itu hilang di balik pintu kaca hotel—lalu dia pun kembali menjalankan mobilnya. ****** Sore ini, Josh kembali menjemput Windy. Di mobil, dia mengangguk-angguk, bersiul, dan mengetukkan telunjuknya di permukaan roda kemudi sambil berkendara. Dress, high heels, dan clutch yang ia belikan untuk Windy (tadi siang) sudah ada di jok penumpang belakang. Well, tadi siang, dia bertelepon dengan Windy. Video call-an untuk memilih dress, high heels, dan clutch itu. Kebetulan, hari ini Josh memang tidak ada urusan, jadi dia memutuskan untuk langsung membelikan Windy hari ini. Windy memang mengangkat video call-nya. Namun, entah mengapa, selain dari video call itu, chat-chat Josh sejak pagi (setelah mengantar Windy) tidak ada yang dibalas. Jangankan dibalas, Windy bahkan tidak membacanya. Semuanya centang abu-abu. Josh baru saja sampai di halaman hotel…dan dia pun memberhentikan mobilnya di sana. Sambil tersenyum lembut, dia menoleh ke kiri. Ke arah pintu masuk hotel. Namun, ternyata, pintu hotel itu terbuka. Tidak banyak orang yang lewat di lobby, tetapi sebenarnya, mata Josh tidak fokus ke sana. Pria itu langsung melihat ke sebelah kanan lobby itu. Tempat di mana meja resepsionis berada. Di sana, Josh melihat Windy. Wanita itu sedang berdiri di depan meja resepsionis—bukan di baliknya—dan sudah menggandeng tas, pertanda bahwa dia sudah mau pulang karena shift-nya selesai. Dia tertawa bersama teman-temannya di sana, tetapi anehnya…di sampingnya ada seorang pria. Dia terlihat aktif mengobrol dengan pria itu—mungkin, pria itu sedang membicarakan sesuatu pada para resepsionis di sana—tetapi ada hal yang sukses membuat Josh mengernyitkan dahi. …Windy terlihat…tertawa lepas. Dia sesekali memeluk lengan pria itu. Terkadang, dia tertawa di bahu pria itu. Gerak tubuhnya sangat manja dan leluasa. Josh masih duduk di mobilnya, menonton dari jauh. Siapa pria itu? Tiba-tiba, Windy melihat ke luar dan menyadari keberadaan mobil Josh. Seketika, dia melepaskan ‘pegangannya’ pada pria itu, lalu tersenyum ceria. Dia pamit kepada teman-temannya, lalu berlari ke luar seraya melambaikan tangannya pada Josh. Josh turun dari mobilnya; dengan cepat, ia memutari mobil itu dari depan untuk menyambut Windy. Windy langsung memeluk lengannya. “Sayang! Kamu udah dateng, yaa?” Josh tersenyum, lalu membawa Windy mendekati pintu mobilnya. Josh membukakan pintu mobil itu, lalu mencium kening Windy. “Iya, Sayang. Kamu udah pulang dari tadi?” Windy tersenyum manis. Wanita itu mengangguk. “Uh-hm. Sekitar sepuluh menit yang lalu.” “Ooh…gitu, ya,” jawab Josh penuh pengertian. “Yuk, pulang.” Saat Windy sudah masuk ke mobil, Josh pun menutup pintu mobil itu. Dia berbalik untuk kembali memutari mobilnya dari depan, tetapi sambil berjalan, dia sempat menatap ke arah lobby itu lagi. Dia langsung bertatapan dengan pria yang berdiri di depan meja resepsionis itu. Sebenarnya, teman-teman Windy juga melihat ke arah Josh. Namun, Josh tanpa sadar langsung bertatapan dengan pria itu. Mata Josh agak menyipit; dahinya berkerut. Tak bisa dia pungkiri bahwa agaknya, dia refleks memasang ekspresi kurang setuju. Kurang suka. Namun, karena tak ingin Windy menunggu lama, dia pun berhenti menatap pria itu. Dia mengalihkan pandangannya ke teman-teman Windy…lalu mengangguk sambil tersenyum. Menyapa mereka. Mereka pun melakukan hal yang sama. Akhirnya, Josh kembali masuk ke mobil. Dia mulai membawa mobilnya keluar dari area hotel itu. Begitu sudah berada di jalan raya, Josh pun memulai pembicaraan dengan Windy. Dia tersenyum. “Sayang, itu dress, high heels, dan clutch-nya udah ada di jok belakang.” Windy langsung bersemangat. Matanya berbinar-binar. Dia kontan menoleh ke belakang, lalu memajukan tubuhnya untuk mengambil tas-tas belanjaan itu. Saat semua tas belanjaan itu sudah ada di pangkuannya, Windy mengeluarkan isinya satu per satu. “Wah, semuanya bagus banget, Sayaang!” seru Windy. “Ternyata, pas diliat langsung begini…barang-barangnya jauh lebih bagus. Makasih banyak, Sayaaaang.” Josh tersenyum lembut, lalu mengangguk. “Iyaa, Sayang. Sama-sama.” Windy memiringkan kepalanya, lalu bertanya, “Tapi serius, deh. Semua pilihan yang kamu tunjukin pas video call itu bagus banget, lho. Itu pasti udah kamu pilih duluan, ‘kan, sebelum kamu liatin ke aku? Selera kamu oke banget.” Josh tertawa kecil. “Aku pilih yang kira-kira cocok untuk kamu…dan cocok untuk acara anniversary itu. Aku juga harus cari yang nyaman dipakai.” Windy tersenyum. “Kamu perhatian banget, Sayang. Makasih, ya.” Josh mengangguk. Hatinya terasa hangat; dia bahagia karena sudah membuat Windy senang. Sikap Windy juga manis sekali hari ini. Namun, tiba-tiba, Josh teringat sesuatu. Pria itu. Karena ingin tahu, Josh pun bertanya pelan pada Windy, “Tadi…kamu ngobrol sama siapa? Yang berdiri di sebelah kamu itu.” Windy menoleh sejenak ke arah Josh (sejak tadi, wanita itu sibuk mengagumi barang-barang pembelian Josh). Tiba-tiba saja, di wajahnya muncul warna merah yang halus waktu ia menyebut, “Oh, yang tadi? Itu salah satu manajer hotel. Kita lagi ngomongin soal rundown acara.” “Oh, manajer, ya. Manajer apa?” kejar Josh. Windy tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke barang-barang pemberian Josh lagi. “Front Office Manager. Namanya Frans.” Oh, ternyata itu manajernya Windy. Josh menahan napas sebentar. Nama itu belum pernah ia dengar sebelumnya. Rasa aneh muncul di dadanya, sebuah rasa yang sulit diberi label. Namun, ia tetap bertanya. Ia butuh suara, butuh kepastian. Kalau tidak ditanya, ini akan mengganjal di kepalanya. “Frans?” ucap Josh. “Dia sering mampir ke meja resepsionis, ya?” Windy memasukkan seluruh barang pemberian Josh ke dalam tas-tas belanja itu lagi. “Nggak juga, sih, tapi belakangan ini dia sering ngobrol di meja resepsionis. Ngomongin soal acara anniversary itu. Kita dapat bagian juga untuk nyiapin acara itu, soalnya.” “Oh…” Josh mengangguk. Ada getaran halus di hatinya. Getaran yang masih samar. “Keliatannya…dia ramah banget sama kalian.” “He-em,” deham Windy. “Dia orangnya perhatian. Gampang diajak ngobrol.” Sebelum Josh merespons, Windy tertawa pelan; matanya menatap ke jauh ke depan, seolah-olah tidak benar-benar menatap jalanan. Dia lalu tersenyum lembut. “Dia tuh…emang ramah. Gampang bikin suasana jadi enak. Terus dia juga…ya…kalau udah ngomong sama dia, aku ngerasa lebih tenang aja gitu, tiap ngerjain apa pun.” “Maksudnya…mudah gimana?” tanya Josh. Windy duduk lebih nyaman. Suaranya jadi lembut; ada percikan kasih sayang…yang keluar tanpa ia sengaja. “Dia tuh…bijaksana banget. Leader yang bagus. Kadang-kadang, dia suka ngasih ide yang nggak kepikiran sama orang lain. Dia bisa merangkul anggota-anggotanya di tempat kerja. Bikin semuanya jadi nyaman sama dia.” “Kamu…keliatan deket banget sama dia,” ujar Josh pelan. Pria itu tersenyum tipis; senyumannya tampak pahit. Sebenarnya, dia tak ingin mendengar jawaban Windy lebih jauh…karena mungkin itu akan menyakitinya, tetapi di sisi lain, dia masih ingin tahu. Masih ingin percakapan ini berlanjut. Josh itu…pacarnya Windy, ‘kan? Namun, entah mengapa, saat mendengar ucapan Josh…pipi Windy sempat memerah. Namun, wanita itu dengan cepat tertawa (untuk menutupi salah tingkahnya). Agak terdengar dipaksakan, tetapi Josh terbiasa mendengar tawa itu sehingga insting Josh jadi tumpul. “Ah, nggak gitu juga,” kata Windy, masih sambil tertawa. “Kita ngobrol soal kerjaan aja kok. Kadang-kadang dia bercanda dan aku ikutan ketawa. Ya biasalah.” Josh hanya diam. Senyumannya semakin tipis, bahkan hampir tak terlihat lagi. Bagaikan ada sebuah jarum yang mulai menusuk dadanya pelan-pelan. Pikirannya mulai ke mana-mana. Namun, dia tak ingin memercayai itu. Windy menoleh kepada Josh, lalu memeluk lengan Josh dari samping. Dengan manja, dia pun berkata, “Kamu jangan salah paham, ya, Sayang. Aku pacarannya sama kamu.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN