9. Segalanya Untuknya (1)

1174 Kata
Bab 9 : Segalanya Untuknya (1) ****** LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mobilnya di depan rumah Windy. Ia terlihat fresh dan bahagia karena akan bertemu Windy—pujaan hatinya—pagi ini. Sebenarnya, sejak mereka jadian, ia menjemput Windy hampir setiap hari (hanya absen kalau ada pekerjaan), tetapi perasaan bahagianya tetap muncul seolah-olah ini kali pertama dia menjemput Windy. Josh melihat pantulan dirinya sendiri di spion dalam mobil. Dia tersenyum (excited) dan merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Dia juga sedikit merapikan kemejanya, lalu setelah memastikan penampilannya oke, dia mulai melihat ke pagar rumah Windy. Pagi ini, dia tidak memberitahu Windy kalau dia akan datang menjemput, jadi dia harap ini akan jadi surprise kecil untuk Windy. By the way, tadi malam, Kei sudah menghubungi Josh melalui chat. Kei bilang, dia setuju untuk menjadi model dalam proyek fotografi Josh. Josh senang sekali mendengar kabar itu; ia hampir melompat di kasurnya tadi malam. Rasanya seperti mimpi yang terkabul; harapannya untuk mengadakan pameran tunggal…mungkin akan segera terlaksana. Dia akan membuat proyeknya sendiri. Idenya sendiri. Ini menakjubkan. Dia harus banyak-banyak berterima kasih pada Alvin. Beberapa detik kemudian, pagar rumah Windy pelan-pelan terbuka. Josh langsung duduk tegap, senyumnya merekah, dan matanya berbinar-binar. Windy tinggal sendirian, jadi yang membuka pagar itu pasti Windy. Tak bisa Josh pungkiri, jantungnya berdebar-debar tatkala melihat Windy yang mulai muncul dari balik pagar besi itu. Windy keluar dengan berpakaian rapi; dia memakai seragam batik resepsionisnya yang berwarna merah. Roknya selutut. Rambutnya disanggul rapi. Windy menutup kembali pagar rumahnya, lalu berbalik. Akhirnya, ia melihat ke arah Josh yang masih duduk di mobilnya. Josh tersenyum, lalu melambai kepada Windy dari balik kaca mobil. Windy memang bertatapan dengan Josh (berhubung kaca mobil Josh tidak gelap), tetapi entah mengapa…saat melihat Josh, Windy tidak balas tersenyum. Untuk sesaat, wanita itu tampak tidak senang. Dia tampak sedikit… …kecewa. Namun, dalam waktu sepersekian detik, ekspresi itu langsung berubah menjadi bahagia. Dia langsung tampak bersemangat, tersenyum riang, lalu mengangkat sebelah tangannya ke atas untuk melambai-lambai kepada Josh. Josh, yang tadinya sempat melihat ekspresi kecewa itu, spontan bernapas lega dan ikut tersenyum riang. Windy berlari kecil ke pintu sebelah kiri mobil Josh dan langsung membuka pintu tersebut. Begitu naik ke mobil dan menutup pintu mobil kembali, wangi parfum Windy langsung memenuhi mobil Josh. Josh hafal wangi parfum Windy; wanginya manis seperti permen. Karena Josh suka Windy, dia jadi suka wangi permen itu. Windy memasang sabuk pengaman, meletakkan tasnya ke pangkuannya, dan langsung menoleh kepada Josh. Dia tersenyum, lalu mencium pipi Josh sejenak. Membuat Josh jadi semakin berbunga-bunga. Ah, iya. Josh tadi pasti cuma salah lihat. Windy tidak sedang kecewa kok. “Pagi, Sayang,” sapa Windy dengan ceria. Josh tersenyum lebar seraya menghela napasnya. “Pagi juga, Sayang,” jawab Josh. “Cantik banget, sih?” Windy hanya tertawa. Wanita itu lantas kembali ke posisi awal, menjauh dari tubuh Josh, tetapi masih berhadapan. Dia mulai bertanya pada Josh sambil memamerkan senyum manisnya, “Kok nggak ngabarin aku, sih, kalo mau jemput?” Josh tertawa kecil, lalu mengusap pipi Windy dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, dia menghadap ke depan dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. “Nggak kenapa-napa, sih, Sayang. Mau surprise-in kamu aja.” “Oalah…” kata Windy. “Ada-ada aja.” Josh mulai menjalankan mobilnya. Sementara itu, Windy langsung merogoh ponselnya yang ia letakkan di dalam tas. Begitu mendapatkan ponsel itu dan membuka kunci layarnya, jemarinya bergerak cepat seolah-olah sedang mengetikkan sesuatu. Dia tersenyum; sesekali pipinya merona—tatapannya lembut—saat menatap layar. “Hari ini kamu banyak kerjaan?” Josh tiba-tiba membuka suara. Pria itu berusaha untuk menjaga suasana di mobil agar tetap terasa ceria, mesra, dan hangat. “Iya. Lumayan,” jawab Windy. Wanita itu agaknya tergesa-gesa untuk menyelesaikan satu chat. Dia menoleh kepada Josh sekilas, lalu kembali menatap layar. “tapi nggak apa-apa. Udah biasa kok.” Josh tersenyum. “Oh, gitu… Syukurlah,” jawab Josh. “Oh, ya, kamu ada waktu luang nggak sore ini, Sayang? Aku pengin jalan sama kamu.” Windy masih menunduk; jari-jarinya masih memainkan ponsel. “Umm… Kayaknya minggu depan aja, deh, Sayang. Lebih bebas. Sekarang kerjaanku masih banyak.” Windy menekan notifikasi lain yang muncul di layar ponselnya. Ia menatap Josh sesekali, hanya sebelah mata; jawabannya terdengar datar meski ia menyertakan senyum kecil. Mobil Josh berjalan terus…hingga akhirnya, kurang lebih dua puluh menit kemudian, mereka sampai di depan hotel tempat Windy bekerja. Mobil Josh mulai masuk ke area halaman. Ketika mobil itu baru saja mau berhenti—di depan pintu utama hotel—Windy pun menaruh ponselnya di paha. Kala itulah, untuk pertama kalinya (sejak berangkat tadi), Windy mulai melihat full ke arah Josh. Menatap Josh dengan benar tanpa terdistraksi oleh ponsel. “Josh…?” panggil Windy tiba-tiba. Nadanya terdengar manja. “Ya?” Josh menoleh, memberi perhatian penuh. Nada manja Windy itu hampir membuat Josh meleleh di tempat. “Minggu depan, hotel ngadain acara anniversary,” ujar Windy. “Oh ya?” Mata Josh melebar. “Kamu bakal sibuk banget, dong, ya? “Hm,” deham Windy. “tapi…aku butuh dress dan sepatu baru. Dress dan high heels-ku udah lama semua, jadi kayaknya malu banget kalo pake itu lagi. Bisa nggak kamu beliin aku? Beliin aku, dooongg, Sayang…” Permintaan manja itu Windy sampaikan tanpa ragu. Di akhir kalimat, saat memanggil ‘Sayang’, wanita itu mulai memeluk lengan Josh—yang sedang memegang roda kemudi—dari samping. Josh tersenyum saat merasakan pelukan itu. Dia jadi senang dan bersemangat. Akhirnya, Windy benar-benar fokus berbicara padanya, terutama ditambah dengan sikap manja wanita itu. “Boleh, dong, Sayaaangg,” jawab Josh. “Kamu mau dress yang kayak gimana? Atau kita mau fitting dulu di butik?” Begitu mendengar jawaban Josh, mata Windy langsung berbinar-binar. Wanita itu langsung cekikikan (semangat sekali), lalu mengeratkan pelukannya pada lengan Josh. “Yang elegan, Sayang. Bahannya satin atau sutra. Warna nude atau dusty pink. Aku mau keliatan anggun. Kalo sepatunya…aku mau high heels yang cocok untuk pesta. Sesuaikan dengan warna dress-nya juga, Sayang. Ukuran sepatuku 39. Kalo nggak, nanti aku ikut aja pas kamu beliin.” “Tapi kamu kayaknya sibuk,” kata Josh. Windy menghela napas, lalu mencium pipi Josh sekilas. “Yaa kalau aku sibuk, nanti kita video call-an aja pas kamu lagi beliin itu.” Josh tertawa kecil. Hatinya berbunga-bunga, lalu ia mengangguk. Ia mencubit kecil hidung Windy. “Oke, deh, Sayang.” Windy tersenyum sangat manis—sampai matanya ikut melengkung—lalu ia pun melepaskan diri dari Josh. “Makasih banyak, ya, Sayang. Kamu perhatian banget, sih? Aku sayaaaangg banget sama kamu.” “Iya, Sayang. Aku aja yang beliin, biar kamu nggak pusing. Mau aku beliin clutch juga nggak?” tanya Josh dengan antusias. “Waaaaah!” respons Windy dengan ceria. “Kamu mau beliin aku clutch juga? Mau, dongggg! Makasiih, Sayaaang!” Lagi-lagi, Windy memeluk Josh. Namun, kali ini, Josh tertawa seraya memeluk Windy balik. Pelukan itu hanya berlangsung sesaat, tetapi setelahnya, mereka tetap duduk berhadapan dalam jarak yang dekat. Saling berbicara dengan penuh ketertarikan. …meskipun ketertarikannya berbeda arah. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN