Part 16

2468 Kata
 Ola pov Semenjak menikah dan hamil aku terlihat sangat berbeda sekarang. Aku merasa banyak perubahan pada diriku. Dulu aku tidak pernah bermanja dengan orangtuaku, tapi kali ini aku benar-benar bingung karena aku merasa sangat manja dengan suamiku, Randy. Aku sangat senang sekali karena kehamilanku walau kata orang sayang waktu muda bukannya untuk merasakan masa muda dengan belajar atau hal lainnya eh malah ngurus anak. Bagiku belajar bisa kapan saja, aku yakin saat baby ku udah lahir pasti aku masih bisa belajar. Aku memutuskan untuk tidak lanjut kuliah dulu karena aku ingin focus mengurus babyku. Setelah aku lahiran dan babyku berumur 1 bulan aku dan mas Randy memutuskan untuk tinggal sendiri. Walau rumah kami yang akan ditinggali masih pemberian orangtua tapi aku tak masalah, mas Randy kan belum bekerja jadi wajar kalau kami masih meminta uang bulanan pada orangtua.  Tetapi setelah mas Randy lulus ia berjanji tidak akan meminta uang lagi karena kita akan memulai hidup mandiri. Mas Randy akan menafkahi ku dengan uang hasil bekerjanya dikantor papa. Mas Randy walau sudah dipastikan menjadi penerus perusahaan tetapi ia mau menjadi karyawan biasa yang sesuai dengan kemampuannya terlebih dahulu karena ia akan mencoba dari bawah dan juga sambil kuliah. "Mas Randy bangun, udah subuh nih.. ayo bangun" bisikku di telinga Randy. Randy merasa kegelian menggeliat.. lalu membuka matanya "Kissing dulu bund" ucap mas Randy sambil menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk. Cup kukecup bibir Randy sebentar "Udah, ayo bangun" ucapku sambil menarik tangannya agar bangun. Aku yang duduk dipinggiran ranjang tidak kuat mengangkat randy hampir  saja terjengkang kebelakang untung saja Randy menangkapku dan memelukku "Hati hati dong sayang, kalau kamu jatuh tadi gimana" ucap mas Randy pelan "Maaf" "Yasudah, ayo bund kita siap-siap" ucap Randy padaku. Sekarang mas Randy memanggilku bund atau bunda karena katanya agar terbiasa saat debay lahir. ... Setelah solat subuh aku menyiapkan pakaian mas Randy dan pakaian sekolahku. Karena hari ini hari rabu hari terakhir ujian nasional. Aku memakai baju batik sekolahku. Saat ku kancingi bajuku dari atas sampai bawah rasanya  sempit dan ketat karena perutku yang sudah mulai membesar. Maklum baju batik dari kelas satu, sedangkan baju putih aku membeli baru lagi yang sizenya lebih besar. Aku memandang diriku dicermin. Aku tertawa sendiri rasanya aneh anak sekolahan masa hamil. Kalau seperti ini sangat ketara sekali kalau aku hamil. Mas Randy yang baru saja mandi keluar dari kamar mandi, aku melihat mas Randy keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk dipinggangnya. "Kamu kenapa bund kok senyum senyum?" Ucap mas Randy, aku membalikan badan "Ini lihat mas, baju batiknya udah gak muat, kalau kaya gini aku kelihatan kayak beneran hamil" ucapku "Lah kan emang kamu hamil beneran bund" "Iya, tapi kalau kayak begini aku beneran keliatan hamil, malu tau" cibirku. Mas Randy menghampiriku "Malu sama siapa kan udah pada tahu" mas Randy mengusap perutku "Ya tetep aja, aku pake baju kamu ya?" karena baju mas Randy sepertinya lebih besar dari bajuku "Terus aku pake apa?" ucap mas Randy lalu mengambil bajunya diranjang "pake baju aku" aku pun mulai membuka kancing baju atasku "Ehh kamu mau ngapain bund?" "Mau buka baju lah, aku pake baju kamu yaaa" ucapku memaksa "Tapi kan baju aku lengannya pendek, terus aku pake apa?" Aku tidak menjawab tanpa malu aku membuka semua kancing bajuku, aku hanya memakai bra langsung karena semenjak hamil aku tidak pernah memakai tengtop atau baju daleman lagi. Gak tahu kenapa aku sekarang lebih suka langsung memakai bra dan tidak memakai daleman lagi. Padahal aku khawatir takut menerawang tapi aku sudah tutupi dengan memakai jilbab lebih besar menutupi hampir sepantat jadi tidak takut menerawang lagi. Mas Randy melotot melihatku, aku hanya cuek dan tak malu, sungguh ini pertama kali aku mengganti baju didepan mas Randy langsung. "Astaga Ola, kamu tumben begini" ucap mas Randy yang masih menatapku dari atas ke bawah "Apa sih mas aku cuman mau ganti baju doang, aku malas ke kamar mandi kelamaan" ucapku lalu aku berjalan ke lemari mengambil manset tangan lalu memakainya. Mas Randy berjalan mendekat denganku "Kamu kok gak pake daleman/tengtop sih, emang gak takut nerawang kalau pake bra doang?" ucap mas Randy "Enggak aku kan pake jilbabnya besar sampai hampir sepantat" ucapku setelah selesai memakai manset aku memakai baju mas Randy yang ada diranjang. "Sini aku kancingi bund" aku mengangguk. mas Randy mulai mengancingi bajuku belum mengancingi sampai bawah, mas Randy menyentuh payudaraku dan sedikit meremasnya gak tahu sengaja atau tidak ia makin meremasnya aku mengerang pelan.. Ahhh "Ihh apa sih mas pegang-pegang" ucapku kesal sambil menepis tangan mas Randy yang masih ada dipayudaraku "Maaf bund, aku reflex abis kamu menggoda sih, kok kayanya makin besar aja bund tete kamu" ucap mas Randy v****r. Sambil kembali mengancingi bajuku "Ihh apa sihh, ya jelas lebih besar lahh aku kan hamil" ucapku sewot "Jangan marah-marah dong bund, aku minta maaf ya aku gak sengaja, liat nih burung aku jadi bangun kan" ucap mas Randy, astaga aku jadi malu sendiri,  ini kenapa lagi mas Randy jadi m***m begini "Dasar m***m, kamu mau pake baju aku atau baju putih yang kemarin aja?" ucapku  sambil mengambil jilbab segiempatku diranjang "Ini kan juga gara-gara kamu ganti baju didepan aku, aku pake baju putih aja deh, masa aku pake baju batik kamu yang lengannya panjang itukan punya perempuan" Aku tidak menjawab mas Randy, Aku mengambil baju putih mas Randy yang masih tergantung di belakang pintu "Nih mas, cepetan pake baju ayo udah mau jam 6 ntar telat" ucapku lalu aku beralih memakai jilbab. Setelah berpakaian aku dan mas Randy segera turun kebawah dan sarapan. Setelah pamitan kami pun segera berangkat sekolah karena hari sudah siang ... Sesampainya diparkiran sekolah aku  dan mas Randy segera turun dan berjalan ke arah lapangan. Dilapangan sudah banyak siswa berkumpul di barisan kelasnya. Aku dan mas Randy pun memasuki barisan kelas XII Ipa 1 "Lah lo salah kostum Rand" ucap Risky teman kelasku. Hari ini memang semua murid memakai baju batik kecuali Randy yang memakai baju putih "Iya baju gue dipake Ola" ucap Randy Aku hanya menunduk malu. "Lahh La lo pake baju siapa?, ko baju batik lu lengan pendek?" Tanya Fani yang baru datang dan ikut bebaris dibelakangku "Iya pake baju randy Fan, baju batikku udah sempit" ucapku jujur "Ohh eh iya ya, woyy Rand salah kostum nih, ciee yang ngalah" ujar Fani sambil menepuk pundak Randy dari belakang, Randy menoleh "Ehh iya nih suami selalu mengalah" ucap Randy pelan. Tak lama kepala sekolah menginstruksikan untuk para siswa diam. Semua siswa pun diam lalu memperhatikan bu Dina yang sudah didepan untuk memberi masukan untuk hari terakhir ujian nasional dan juga memimpin doa bersama untuk ujian dihari terakhir. Aku berharap hari ini tidak seperti kemarin. Kemarin aku benar benar mabok, aku benar benar mual dan pusing dan selalu bolak balik ke kamar mandi sampai 5 kali lebih. padahal kemarin adalah ujian matematika dan biologi pelajaran kesukaanku. Tapi alhamdulillah aku masih bisa fokus dan lancar dalam mengerjakannya karena aku sudah sangat paham dengan pelajaran yang kusuka ini. Kemarin aku benar-benar gak enak karena mengganggu konsentrasi teman-temanku, tapi mereka memaklumi, ahh memang baik teman-temanku. Aku senang mereka mengerti dan tidak marah padaku. Setelah berdoa bersama kami pun dipersilahkan masuk keruangan. Alhamdulillah hari ini aku lebih fresh dan sehat. Aku mengerjakan soal juga dengan mudah dan sangat lancar. Semoga bisa mendapatkan nilai yang terbaik. Setelah bel berbunyi tanda selesai ujian. pengawas mengumpulkan lembar jawaban dan soal. Setelah itu kami diperbolehkan pulang. Para siswa berhamburan keluar ruangan dengan perasaan lega dan riang karena ujian sudah selesai dan tinggal menunggu hasil ujiannya. Aku keluar ruangan dengan mengucapkan Alhamdulillah. Aku, Fani, Dhika menunggu mas Randy dan Silvi di depan ruangannya yang belum keluar dari ruangannya. Tak lama pengawas keluar baru disusul para siswa keluar. Mas Randy keluar dengan Silvi "Hay hay gimana ujiannya? lancar? lo mabok lagi gak La?" tanya Silvi "Alhamdulillah lancar iya gak Dhik, Fan, alhamdulillah enggak Sil, tadi lancar banget" ucapku, Dhika dan Fani mengangguk "Alhamdulillah deh bund, kamu gak mual lagi, anak papa emang jagoan pinter banget ya" ucap mas Randy lalu mengusap usap perutku "Wihhh sekarang panggilnya bunda oey" ucap Fani ... Setelah ujian nasional selesai,  aku, mas Randy dan ketiga sahabatku makan di resto biasa tempat kami nongkrong. Suasana resto yang nyaman membuat penuh pengunjung setiap harinya. Kami berlima memasuki resto dan mencari tempat, untung saja masih tersisa meja di bagian pojok dekat dengan jendela. Kami pun duduk melingkar berlima. "Alhamdulillah kita dapet meja, ayo panggil waiters, kalian pada mau pesen apa? tenang hari ini mas Randy yang teraktir" ucapku sambil memandang ke arah sahabat-sahabatku "Wiihhh tumben nih Rand, dalam rangka apa nih?" Tanya Dhika "Gak dalam rangka apa-apa kok, ini mah karena disuruh Ola aja suruh traktir kalian"ucap Randy "Wahh, asikk makan gratis kita, ayo pesen Dhik" ucap Fani senang. Dhika pun segera memanggil waiters mereka memesan banyak makanan, katanya mumpung ada yang bayarin. "Ya ampun kalian banyak banget mesen nya, emang bakalan abis segini banyak" ucap Randy saat waiters mengantarkan pesanan hampir 10 piring "Gak abis, bungkus lah, iya gak?" Ucap Fani "Bangkrut ini mah gue kalau segini banyak" Randy menepuk jidatnya "Sabar ya mas.. yang ikhlas aku juga mau makan, kamu mau apa?" "Iya bund, apa sih yang enggak buat kamu, aku apa aja deh" aku tersenyum lalu mengambil spagheti untuk mas Randy. "Kita makan berdua ya bund, sini aku suapin" ucap mas Randy dan mulai menggulung spagheti dengan garpu aku mengangguk lalu aku menerima suapan mas Randy lalu aku menyuapi mas Randy juga "Yang aku juga mau kaya gitu, suapin dong" ujar Dhika pada Silvi. Silvi mengangguk ia lalu memotong steak dan menyuapi Dhika. Begitu juga sebaliknya. Aku melihat kemesraan mereka berdua, aku tersenyum saat liat Fani cemberut Fani yang dari tadi diam menatap keempat temannya akhirnya angkat bicara "Anjjiir yaa kalian pada bermesraan suap suapan, lah gue jadi obat nyamukk disini" "Hahaha, mangkannya cari pasangan dong Fan" ujar Dhika menertawai "Emang kata lo cari pasangan gampang" ujar Fani sewot "Udah-udah sini aku suapin Fan" aku mengambil piring yang berisi sate aku mengambil satu lalu mengarahkan ke mulut Fani. "Gak mau" tolak Fani "Ayo dong aaa Fan, kamu gak mau nih disuapin sama bumil" ucapku memaksa, Fani menggeleng "Hik hiks hiks Fani jahat gak mau aku suapin" tiba tiba aku tanpa sengaja menangis "Wahh parah lu Fan,  Ola jadi nangis kan" kata Dhika menyalahkan Fani "Yahh jangan nangis dong La, yaudah aaa" Fani membuka mulutnya, aku tersenyum "Nahh gitu dong, aaa lagi yaa, kamu juga Sil sini aku suapin" ucapku sambil mengambil sate lagi lalu mengarahkan ke mulut Silvi. Silvi membuka mulutnya lalu menggigit satenya  "Ola gue juga mau disuapin" ucap Dhika sambil memandangku "Hemm gak ahh males, kamu di suapin mas Randy aja ya" aku memandang mas Randy memohon untuk menyuapi Dhika, tapi sepertinya mas Randy akan menolak permintaanku "Gak ah La, biarin Dhika disuapin Silvi aja masak aku" tolak mas Randy, aku melotot lalu dengan terpaksa mas Randy menyuapi sate untuk dhika. Dhika juga terpaksa menerima suapan Randy karena takut Ola nangis kalau permintaannya tidak dituruti. Saat mas Randy hendak menyuapi sate untuk Dhika aku mengeluarkan hape dengan cepat dan membuka aplikasi camera Cekrek bunyi hape ku saat berhasil memotret mereka, mereka pun menengok. aku, Fani dan Silvi pun tertawa "Hahahaha" "La, upload di ig La" seru Silvi "jangan, hapus gak, parah banget dah Ola reputasi gue nanti bisa turun" kata Dhika sambil berusaha mengambil hpku "Bund, jangan gitu dong malu aku" "Yahh terlambat udah aku upload" ucapku tanpa bersalah "Abis deh reputasi gue sebagai cowok yang paling cool" ujar Dhika pasrah sedangkan Randy hanya diam saja Aku, Fani,dan Silvi hanya tertawa. Setelah makan kami pun segera pulang. Aku berpisah di restoran, Fani bareng dengan Silvi dan Dhika. Sepanjang perjalanan mas Randy hanya diam saja aku kesal karena dicueki mas Randy "Masss" "Hemm" "Mas kenapa sih dari tadi aku tanya jawab nya cuman hemm hemm doang" Randy mengerem mobil mendadak membuat ku kaget "aduh kamu kenapa sih gak bisa pelan-pelan ngeremnya" gumamku pelan "Abis kamu keterlaluan sih masa fotonya diupload di ig, aku malu tau foto kita aja jarang kamu upload" ucap mas Randy yang nadanya sedikit tinggi. Aku tersentak karena mas Randy gak pernah membentakku sekarang membentakku karena hal sepele "Jadi cuma gara-gara itu kamu cuekin aku" ucapku kesal "Jangan karena kamu hamil kamu seenaknya gitu dong aku gak suka" bentak mas Randy. Aku yang mendengarnya sungguh tak percaya mas Randy bisa membentakku karena hal sepele dan mengkaitkannya dengan kehamilanku "oke aku hapus mas" ucapku kesal lalu mengambil hp ditas dan segera membuka aplikasi ig ku dan segera mendelete foto itu. "Telat" ucap mas Randy lalu mulai menjalankan mobilnya lagi. Aku benar benar gak menyangka karena keisenganku mas Randy marah denganku.. mungkin memang aku yang salah tapi gak harusnya mas Randy seperti itu kepadaku. Aku mulai meneteskan air mataku "Maaf mas tadi aku hanya iseng dan jangan salahin kehamilanku dia gak salah karena ini murni aku yang iseng dan gak bermaksud mau uplod foto tadi" kataku. Mas Randy hanya diam. Aku terus mengeluarkan air mataku, aku gak tau kenapa harus menangis saat seperti ini, aku merasa sangat lemah banget karena mudah menangis. Mas Randy masih tidak meresponku. Aku menghapus air mataku dengan cepat agar tak terlihat oleh mas Randy agar tidak terus dikasihani dengannya. "Aaauuuu" ringisku, aku merasakan perutku sakit sekali aku memegang erat perutku aku menahan sakit agar tidak terdengar ďengan mas Randy, tapi sayang aku gak kuat menahannya "Aauuu mas sakit.. perutku sakit banget aku gak kuat.. masss.. auuu"ucapku. Mas Randy menepikan mobilnya lalu ia melihat kearahku "Ya allah kamu kenapa La?" ucap mas Randy yang kelihatannya khawatir memegang wajahku yang sudah basah dengan keringat "sakit mas perutku sakit banget" aku melihat ke arah bawah aku merasakan seperti ada yang mengalir di selangkanganku, aku mengangkat sedikit rokku "mass daaaraah" aku melihat darah mengalir dikaki ku. Aku benar-benar panik takut bayiku kenapa-napa "Astaghfirulloh Ola kamu kenapa, kamu tahan sebentar Laa kita kerumah sakit sekarang" ucap mas Randy.. aku terus berighstighfar menyebut nama allah dan berdoa. Aku benar benar takut dengan kandunganku.. Randy melajukan mobilnya dengan cepat untung saja jalanan tidak macet aku sudah tidak tahan menahan sakitnya. Tak lama Randy sampai dirumah sakit, Randy segera menggendongku keluar dari mobil. Mereka kerumah sakit masih menggunakan seragam sekolah semua orang dirumah sakit melihatnya heran. "Suster suster toloong" teriak Randy Para suster dibantu security dengan cepat mengambil brangkar lalu dengan cepat Randy membaringkan Ola. Dibawanya Ola keruang UGD "Ayo cepat sus, tolongin istri saya" ucap Randy sambil mendorong brangkar. Sesampainya didepan UGD suster menahan Randy untuk tidak masuk "Maaf mas, tunggu disini saja kami akan menindak lanjuti mba tadi" ucap suster yang mendorong brangkar tadi karena tidak percaya kalau Randy suami perempuan itu. "Sayya suami nya sus tolong selamati istri dan anak saya sus" teriak Randy kesal karena sang suster yang tidak percaya bahwa Randy adalah suaminya "Baaik mas, maaf saya tidak tahu jika mas memang benar suami mba tadi" ucap suster itu lalu masuk keruangan dan menutup pintu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN