Bab 36 Aku mengerjap ketika satu sentuhan lembut terasa menyentuh pipi. Sontak saja aku langsung bangun begitu mendapati kehadiran Mas Laksa. “Eh, maaf, Mas. Aku ketiduran.” “Gak apa, Ra. Maaf, Mas pulangnya malem banget, ya?” Dia langsung beranjak ke dekat kapstok dan menggantungkan jas yang tadi dipakainya. “Oh iya, Mas beli martabak gurih ikan tuna.” Aku melirik jam. Rupanya, sudah pukul sepuluh malam. Tak enak jika aku menolak dan mengatakan kenyang. Mas Laksa sepertinya tengah bahagia ketika kulihat dari raut wajahnya. “Wah ... mana martabaknya, Mas? Mau aku buatin kopi buat temani makannya?” Aku bangun dan lekas tersenyum padanya. “Tuh.” Mas Laksa menunjuk ke atas nakas dengan sudut netranya. Aku pun bangun dan lekas mengambil kotak itu. “Kopi atau teh, Mas?” Aku memastikan sek

