Bab 40 Laksa [Mas, bisa transfer uangnya ke rekening aku sekarang? Aku lagi di ATM.] [Sudah, Nindi. Maaf, saya lupa ngabarin.] Pesan itu kubalas setelah pekerjaan selesai. Lupa kalau Nindi minta uang untuk berobat untuk Pak Setiadi. Setelahnya, aku kembali mengurus masalah pencabutan tuntutan Mbak Rahma. Meskipun jelas-jelas dia bersalah,tetapi melihat dari sisi kemanusiaan dan mendengar permintaan tulus Humaira, aku jadi tak tega juga. Keesokan harinya, aku mengabulkan keinginan istriku untuk mencari tahu keberadaan bayi kakaknya. Kami gagal mendapatkan informasi meskipun sudah bertemu dengan mantan kakak iparnya secara langsung. Akhirnya, mau tak mau, kami harus mencari sendiri. Rupanya bayi itu sudah diambil dari rumah sakit oleh Iwan—ayahnya. Aku tak bisa apa-apa. Memang, ayahnya

