Bab 41 Beberapa hari ini, Mas Laksa memberiku lebih banyak kebahagiaan. Proses pencabutan tuntutan di kepolisian sudah selesai. Mbak Rahma sudah bukan lagi seorang narapidana. Dia sudah bebas. Kondisi fisiknya sudah membaik. Hanya saja, kondisi psikisnya masih terguncang. Dia masih seperti orang linglung dan tak mengenali siapa pun. Ibu kubawa serta ke rumah sakit hari ini. Beliau menangis dan mengguncang-guncang tubuh Mbak Rahma yang masih terbaring di ranjang rumah. “Ini Ibu, Rahma … Ini Ibu ….” “I-Ibu?” Mata polos Mbak Rahma hanya menatap sekilas dengan alis saling bertaut. Lalu kembali memandang kosong ke langit-langit kamar rawat. “Iya, Rahma, ini Ibu. Cepatlah pulih, supaya kita bisa segera cari bayi kamu sama-sama. Ya?” Ibu menggenggam tangan Mbak Rahma. Namun, lagi-lagi, Mbak

