Bab 42 Tiga hari setelah kunjunganku ke pusara itu—yang diduga makam bayi Mbak Rahma—kakakku sudah diperbolehkan pulang. Aku yang menjemputnya, menggunakan taksi online. Tubuhnya kini tampak seperti tulang belulang yang terbungkus kulit. Ceruk matanya dalam, tatapannya pun kosong. Mbak Rahma juga sering menangis dan memanggil-manggil bayinya juga Mas Iwan. Pasti luka yang dideritanya sangat dalam, sampai-sampai merenggut kewarasannya. Dia tak membalas apa pun pertanyaan maupun sapaan. Kurasa, dia pun tak mengenali kami lagi., keluarganya. Aku menatap tak tega pada Ibu yang memeluk Mbak Rahma sambil menangis. Ibu mana yang tak terluka melihat anaknya seperti itu? Ibu tetap bersikeras untuk merawat Mbak Rahma di rumah dan masih berharap dia akan sembuh seperti sedia kala. Karena tak tega

