7. Oh Dia

1154 Kata
Raisa langsung mengambil ancang-ancang. Dia harus menyiapkan hatinya untuk menerima kenyataan jika Bima sudah memiliki kekasih. perlahan dia ingat saat Bima mengatakan memiliki wanita yang dia suka saat di seminar. Apakah wanita itu yang dia panggil ‘Nas’ itu? Dia harus bertindak. Dia harus tahu siapa wanita itu. “Maaf, saya angkat telepon ini dulu.” Grepp … Raisa langsung mengambil ponsel Bima, dan langsung menjawab panggilan tersebut. “ “Rai … Apa yang ka-,” Bima tidak meneruskan ucapannya karena Raisa langsung mengangkat panggilan tersebut seenak hatinya. Lalu suara Nas terdengar karena Rai me loudspeaker panggilan tersebut. “Mas … aku cuma mau bilang ga jadi! Aku diantar sama Julian. Maaf mengganggu, Mas!” Suara anak kecil … sontak membuat Raisa senyum penuh kemenangan. Sepertinya Pineapples ini adik Bima. “Okey!” “Hallo … ko suara mas jadi cewek?” tanya Nas di ujung sana. Raisa lalu mengakhirinya dengan kata-kata, “aku pacar mas Bima. Salam kenal ya..” ucap Raisa tanpa dosa dan membuat Bima membola. Tut … tut … Panggilan itu terputus. Lalu Raisa meletakkan ponsel itu di atas meja dan mendorongnya pelan. “Kamu mau cari masalah sama saya?” “One date and I will stop. How’s it that?” Raisa masih berusaha untuk mengajak Bima. “In … your … dream!” jawab Bima. Raisa langsung memasang muka sedih, barangkali Bima luluh, bukan? Satu detik … Dua detik … Tiga detik … Sepertinya tidak ada tanda bahwa Bima akan merubah jawabannya, membuat Raisa tertunduk lesu. Dalam hatinya dia masih berharap Bima akan mengatakan iya. Akhirnya, Raisa bangkit dan meninggalkan kantor Bima dengan perasaan kecewa. Namun, kekecewaan ini tak membuat Raisa patah … malah penolakan Bima membuat dia semakin terpacu untuk meluluhkan hati om-om ganteng ini. ‘Semangat Rai … nanti juga dia suka kok. Batu aja bisa bolong dikasih aer terus-terusan,’ monolog Raisa. *** Beberapa hari selanjutnya, Raisa sudah aktif kembali di kampus. Hal pertama yang dia lakukan adalah membuat sarapan untuk dikirimkan ke rumah sakit. Sang ayah mempunyai kebiasaan selalu sarapan di rumah. Mungkin karena sejak dulu sang ibu selalu marah jika ayah tak sarapan. Hal itu membuat ayahnya tidak pernah melewatkan sarapan di rumah dan hanya menyukai masakan Raisa atau Oma. “Bikin dua box ah … satu buat om-om tersayang satu lagi buat ayah.” Senyum sumringah selalu terpancar di sepanjang Raisa membuat bekal. Sarapan kali ini berupa sushi isi daging ikan dilengkapi dengan buah-buahan segar seperti anggur hijau, berry dan nanas. Ayahnya sangat suka dan semoga om-om itu juga suka. Setelah selesai membuat sarapan. Raisa memacu kuda mesin nya. Sengaja sekali pagi hari dia membelah kota Jakarta karena tak mau terjebak dalam drama kemacetan yang membuat mood nya bisa berubah drastis. Hari ini Raisa harus menyiapkan mental untuk mengikuti kelas yang menurutnya sulit. Mata kuliah penting yang membuatnya harus menjaga mood bahkan sejak pagi hari. Jangan sampai dia mendapat nilai E dan harus mengulang karena dia sudah tidak punya waktu lagi untuk mengulang. “Rai … pagi sekali?” tanya ayahnya. “Iya … abis ini mau ke kampus. Gimana keadaan oma?” tanya Raisa yang langsung duduk di sebelah ayahnya. “Belum stabil. Ayah semakin khawatir,” kata Anggara dengan tatapan sendunya. Raisa tentu tahu kegundahan hati sang ayah. Tak jauh, perasaannya pun begitu jika menyangkut Oma. “Oma akan sembuh. Kita harus yakin, Yah!” tegas Raisa. “Semoga. Ini sudah hari ke lima. Dan ayah selalu deg-degan kalo alat itu berbunyi. Suster langsung datang dan begitu pula dokter Bima.” Mendengar kata Bima membuat atensi Raisa meninggi. “Bima nginep di sini? Eh … maksudnya dokter Bima.” “Kenapa kamu peduli? Kamu kenal dokter Bima dah lama?” selidik sang ayah. Raisa mengangguk. Dia seorang pembohong yang buruk, jadi sangat percuma berbohong di depan siapa pun. “Kenal waktu S1. Kakak yang ospek.” “Ooo… so?" "So … and so?" Jawab Raisa seolah-olah tak mengerti apa yang sedang dimaksud ayahnya. "Ga usah pura-pura …" "Dalam perahu… pasti itu lanjutannya. Aku suka dia, iya. Tapi dia ga suka aku. Jadi, aku masih harus berjuang, Yah!" Jawab Raisa penuh semangat. "Ga lelah? Harusnya timbal balik loh, Rai? Apa perlu ayah..!" "Noooo … big noo. Don't ever think to do that stuff in your head, Dady!" "Maksud ayah kan baik. Mempermudah jal… " "Stop it! Thank you, but with all respect. I want to fight this love in my way." Anggara hanya menggerakkan bahunya ke atas untuk mengatakan setuju dengan yang Raisa ungkapkan. Bagaimanapun semua itu adalah perjuangan anaknya. Meski di dalam hatinya dia mengutuk Bima yang berani menolak Raisa, putri cantiknya. "Dokter Bima kapan mau visit?" Tanya Raisa sambil melihat arloji di tangan kanannya. "Ayah ga tahu. Soalnya jam 3 tadi pagi dia visit. Biarin aja, jangan ganggu dia. Mungkin dia masih tidur jam segini." Benar juga apa yang dikatakan ayahnya. Bima pasti sedang istirahat, dan sebaiknya dia tak mengganggu Bima saat ini dan langsung menuju kampus setelah menitipkan sarapan pada suster yang bertugas. "Jangan lupa dimakan sarapannya ayah sayang. Ayah harus tetap kuat buat Rai dan oma." "Enak banget ini. Makasih ya sayang." "Dan jangan terlalu sibuk. Ayah butuh istirahat juga," kata Raisa kemudian. "Tenang aja. Ada Sophia yang bantu ayah." "Sekretaris baru? Cantik ga?" Goda Raisa. Dia sungguh tak mau ayahnya terkukung dalam cinta masa lalu yang tak ada habisnya untuk sang ibu yang sudah meninggal. Raisa malah ingin ayahnya hidup bahagia dengan wanita yang dicintainya. Masih ganteng dan gagah juga, masa tidak ada yang tertarik? "Cantik. Standar lah!" Jawab Anggara singkat sambil pura-pura menatap box sarapan yang ada di meja. Raisa tahu ayahnya yang tampan itu sedang mengalihkan pertanyaan Raisa. Dan beruntung kali ini Raisa tidak melanjutkan interogasi karena dia harus segera ke kampus sebelum macet. "Oke yah … Raisa pergi dulu ya. Kabarin kalo ada hal apa pun? Deal?" Kata Raisa sambil melemparkan kelingkingnya agar ayahnya berjanji. "Siap … Rai!" Setelah itu, Raisa langsung menuju kantor Bima. Dia tentunya tak berharap Bima akan menyambutnya dengan hangat mengingat beberapa hari yang lalu mereka terlibat cek cek karena Bima tak menerima ajakan kencannya. Dan mungkin Raisa memang tergesa-gesa mengajak om-om ganteng itu. "Sister … dokter Bima ada di ruangan?" Tanya Raisa sambil menjunjung satu bekal sarapan. "Barusan aja pergi, Bu. Ada yang perlu sampaikan?" Wajah Raisa tampak kusut. Tapi biarlah, dia hanya perlu menitipkan makanan ini kepada Bima. Terserah manusia kulkas itu mau memakannya atau tidak. "Okey deh. Nitip ini aja. Barangkali dokter Bima kembali lagi!" "Mungkin siang Bu. Ga sayang sama makanannya?" Tanya Suster yang sedang bertugas di samping kantor Bima sambil menjunjung bungkusan berwarna pink muda itu. "Hemm … kalo misalnya memang lama. Makan aja ya suster!" Kata Raisa sambil mundur selangkah dan hendak beranjak pergi. Bugh…! Raisa terhenti pada sebuah d**a datar dan dia yakin saat ini sedang menabrak seseorang. Wangi nya tidak asing di penciuman Raisa. Namun d**a itu tentunya baru kali ini dia lihat. Tanpa sadar dia menyentuh d**a yang tampak liat tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN