11. Value

1113 Kata
Raisa terkejut melihat Bima di depannya. Wajahnya mencerminkan campuran kejutan dan kebingungan. "Bima? Ada apa?" tanya Raisa. Dia tidak bisa menggunakan kata om-om kesayangan karena sadar mereka sedang di tempat umum. Bima menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Maaf, Raisa. Saya tidak bisa membiarkan kamu pergi begitu saja tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kita. Saya ingin tahu apa tujuan sebenarnya kamu mendekatiku." Raisa mengerutkan kening, sedikit terkejut dengan keberanian Bima. Namun, dia merasa senang karena Bima memutuskan untuk mempertanyakan hal tersebut. "Dengar, Bima," kata Raisa dengan suara lembut. "Aku tahu kata-kataku bisa terdengar membingungkan, tetapi aku tidak ingin bermain-main dengan perasaanmu. Tujuanku sebenarnya adalah untuk menguji kesungguhanmu dan melihat sejauh mana hubungan kita bisa berkembang." Bima menatap Raisa dengan intensitas, mencoba memahami maksud di balik kata-katanya. Dia merasakan kejujuran dalam suara Raisa, tetapi masih ada ketidakpastian di dalam dirinya. "Apa kamu benar-benar serius dengan semua ini?" tanya Bima dengan hati-hati. Raisa mengangguk tegas. "Ya, Bima. Aku serius. Aku ingin melihat apakah kita bisa membangun hubungan yang lebih dalam dan saling mengerti satu sama lain. Tapi aku juga ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan menyerah pada hal-hal yang tidak sejalan dengan prinsipku." “Kita lanjutkan nanti. Pembicaraan kita belum selesai!” Rai mengangguk sekali lagi lalu berlalu dari Bima. Tidak ada bayangan sama sekali untuk reaksi Bima yang terakhir kali. Lelaki ini begitu misterius di mata Raisa. Bukankah tadi dia juga yang mengatakan untuk tidak berharap banyak karena akan berakhir dengan kecewa? Lalu apa yang terjadi tadi? Bima mengejar dan bertanya tujuan Raisa? Lelaki dari Gua ini benar-benar membuat otak Raisa bekerja ekstra keras. Di tengah kebingungannya tentang reaksi Bima, Raisa melihat Jody menghampirinya. Jika melihat waktu, seharusnya ini memang jam makan siang, karena Raisa sendiri merasa lapar luar biasa. “Kemana aja lo?” tanya Jody sambil melihat Raisa dari atas sampai ke bawah. “Lima belas menit gue nungguin di kantin, sampe gue nambah bakso satu lagi dan elu ga muncul juga. Ada apa? Tadi gue liat elu lagi ngobrol ma pa dokter. Jadi penasaran?” Raisa hanya bisa menepuk jidatnya melihat tingkah Jody yang kadang kekanakan seperti ini. Padahal mereka sudah dewasa,”udah bayar belom tuh makan siang elo?” tanya Raisa tanpa niat menjawab pertanyaan kepo Jody. “Itulah sebabnya gue cariin elu. Belom gue bayar karena nungguin elu yang harus makan, bukan?” “Alesan aja nungguin gue elu sih.” “Gue perhatian, Rai. Siapa lagi coba yang bisa memperhatikan nona besar ini kalo bukan gue?” ujar Jody dengan penuh percaya diri. “Banyak loh yang ngasih perhatian. Tapi thank you, elu baek banget ma gue!” Jody hanya senyum dan langsung merangkul Raisa dan berjalan menuju kantin. Perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Dia harus segera beranjak makan sebelum para cacing itu demo keluar dan membuat kegaduhan akut. “Ada apa Rai? Dokter Bima?” tanya Jody di sela makan Raisa. Raisa masih berpikir apakah bisa mengatakan yang sebenarnya dengan Jody. Mengingat Jody tidak mengetahui kisahnya seperti Nandi. “Nandi bilang elu dah kenal lama tuh dokter?” seharusnya mulut Nandi memang disumpal pakai lakban. Membuat Raisa tidak bisa lagi diam, “iya. Dokter Bima itu senior gue waktu sarjana. Gue dan Nandi.” “Ooo gitu. Elu tahu kan si Nandi suka ma elo?” “Gue juga tahu kalo elu suka ma gue.” Jawaban Raisa otomatis membuat Jody tersedak. Wanita cantik ini memang tidak bisa diduga juga, “gue suka sama elu tapi sadar ga bisa lebih dari teman.” “Supaya apa?” “Supaya asik aja bayangin elu ….” jawab Jody setengah gila. Rai sudah biasa dengan percakapan absurd seperti ini. Tidak heran jika Bima mengatakan hal yang sama. “Gue hanya cinta sama dokter Bima. Tapi dia belum,” jawab Raisa cuek. Merasa malas meladeni kegilaan Jody yang bisa menjalar ke mana-mana. Jadi lebih baik memutuskan. Jody hanya bisa melongo mendengar dan melihat wajah datar Raisa mengatakan hal yang diluar logika sebagai lelaki. “Elu ga lagi nge halu kan? Elu ngomong cinta kaya sama bayi aja gitu. Tiba-tiba jatuh cinta ga jelas kaya gitu? Serius dikit Rai, kita dah mau 30 tahun.” “Lebih tepatnya cinta lama bersemi kembali. CLBK. Cinta lama belum kelar dan sebutan lain yang mengindikasikan kalo gue memang belum selesai.” “Jadi selama ini cinta elu kaya roti yang dipakein selai sebelah? Manis manis nanggung gitu?” Jody bertanya dengan kegilaan tingkat dewanya. “Yup. Lebih tepatnya die tau gue suka karena gue yang ngejer-ngejer die. Dulu die ga nanggepin karena gue masih bocil kali ya? Tapi sekarang kan beda! d**a udah gede begini. Pinggul bahenol, elu aja suka bayangin gue kan?” ujar Raisa sambil memegang buah dadanya yang memang tidak kecil. Jody langsung menelan ludah karena apa yang dikatakan Raisa benar adanya. “Terus itu doang? Karena elu yang sekarang lebih cantik terus die mau? Elu ga merasa die playboy cap coklat jago? Murah?” Jody sepertinya diserang cemburu buta, dan nada sumbang itu terdengar begitu jelas di telinga Raisa. “Kan gue bilang die masih belom suka ma gue. Gimana dong? Padahal dah seksi gini kan gue?” Raisa lagi mode centil sedang beraksi, membuat sisi gelap Jody meronta ingin keluar. “Laki kaya gitu elu arepin, Rai. Masih banyak cowok yang siap nerima elu apa adanya kok!” “Tapi gue kan-kaga-apa-adanya, Jod. Gue ada-apanya loh!” Tentu saja Raisa bukan wanita biasa. Sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis sang ayah, dia sangat tahu value dirinya bagaimana. Tidak ada pula yang bisa meragukan bagaimana cermatnya Raisa membantu sang ayah yang menjadi pengusaha alat kesehatan. “Kalo sama gue aja gimana? Gue juga kan ga miskin-miskin amat, Rai. Gue juga punya bisnis sendiri,” kata Jody yang memang pengusaha cafe dan juga seorang pegawai di rumah sakit internasional. “Nanti lah! Kalo semisal gue ga dapatin si dokter itu, gue akan mempertimbangkan elu sebagai my next proposal.” “Napah kaya ngotot gitu sih, Rai? Baru kali ini gue liat elu begini.” Raisa tersenyum, tentu saja pertemuan yang seperti takdir itulah yang membuat Raisa kembali semangat mengejar Bima. Jika saja Jody tahu betapa bernilainya Bima bagi Raisa, mungkin Jody akan berpikir ulang untuk menganggap Bima lawan yang tidak setara. “Value …” “Value belum tentu 100 benar!” timpal Jody dengan serius. “My correction … my suitable value. Nilai die sebagai lelaki sesuai dengan nilai gue sebagai wanita. Gue cukup dewasa untuk bisa merasakan gue bisa nih seumur hidup sama ini cowok!” jelas Raisa panjang lebar. Tidak biasanya juga Raisa seserius ini, seperti disulap dalam satu malam. “Semuanya, karena gue tahu satu rahasia Bima.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN