Bab 9

1143 Kata
“Ya sudah mohon maaf mengganggu waktunya.” Zayn tidak menanggapinya lagi. Pria itu masuk ke dalam ruangan Direktur duluan, Seva terpaksa menunggu, sudah malas kembali ke ruangannya tanpa hasil apa-apa. “Akhirnya ketemu!” Pria kurus tinggi mirip aktor drama Korea, Park Seo Joon berjalan sambil menunjuk Seva. “Kenapa orang ini,”gumamnya. Pria itu berjalan cepat menghampiri Seva.”Wanitaku...” “Apaan sih!” Seva menjauh dari Kenzie. “Kamu nggak ingat sama aku ya?” Seva memerhatikan penampilan Kenzie dari atas sampai bawah. Dari stylenya, pria itu terlihat sangat muda.”Siapa ya?” Kenzie mendekatkan bibirnya ke telinga Seva.”Aku pria yang tidur denganmu waktu itu, namaku Kenzie.” Tubuh Seva pun membatu seketika. Ditatapnya pria yang bernama Kenzie itu dengan intens. Ia merasa pria yang kemarin itu bukan ini, ah pasti Kenzie hanya mengaku-ngaku. Mustahil, dua malam lalu ia bertemu dengan Kenzie di kota Makassar, bagaimana mungkin sekarang bisa ada di sini dan menemukannya. “Saya nggak akan percaya begitu aja, siapa tahu kamu penipu!” “Bagaimana bisa seorang penipu masuk ke gedung dengan pengamanan super ketat ini?” Kenzie menutup mulutnya seolah-olah mengejek Seva. “Bisa, kalau kamu penipu kelas kakap,”kata Seva.”Jangan membuang waktuku, aku nggak kenal sama kalian.” Diliriknya juga dua pria yang mendampingi Kenzie. “Aku punya fotonya,”bisik Kenzie dengan tatapan nakal. Ia membuka handphonenya, menunjukkan sebuah foto.”Eh, bisa nggak kita geser ke sini...” “Memangnya kenapa?” Seva langsung ketus. “Ada cctv, bisa dizoom tahu...kamu mau ketahuan ya?” Kenzie terkekeh, melangkah ke dinding yang berhadapan dengan cctv.”Ini...” Seva terbelalak, foto dirinya dan pria tampan di kamar hotelnya. Itu benar-benar dirinya, ia bisa melihat jam tangannya di atas nakas yang ikut terfoto, juga tumblernya. Inilah akibat ia tidak teliti, harusnya ia tanya dulu baik-baik, apakah benar Kenzie pria yang disewanya. Kemudian ia memerhatikan Kenzie baik-baik, ada yang berbeda dari pria itu dari yang di gambar. Di foto ia lebih terlihat dewasa, sekarang ia terlihat seperti anak-anak sekali, jauh di bawah usianya. “Masih belum yakin?” Seva menggeleng.”Tolong jangan bicarakan itu di sini...” “Kamu takut ya?” Kenzie memberikan tatapan mengejek, benar-benar menyebalkan.”Baik...kita bicarakan di luar, tolong buka blokirannya.” “Ah, baiklah...tapi, jangan macem-macem sampai kita benar-benar bicara!” Kata Seva dengan penekanan. “Baik, Ibu Sevalina...” Kenzie mengedipkan sebelah matanya. Pintu ruangan Direktur terbuka, Zayn dan Mintoro muncul. Wajah Mintoro langsung berubah ceria begitu melihat Kenzie. “Pak Kenzie ...selamat datang!” Seva menganga, Direktur mengenal bocah seperti Kenzie. Jangan-jangan Kenzie adalah kandidat menjadi staff baru di Divisi yang dipimpin oleh Zayn. Beginilah kalau punya kekuasaan, semua bisa dilakukan dan dipaksakan. Yang tidak mampu pun harus dianggap mampu. Yang penting masuk dulu, skill dan attitude belakangan. “Bu Seva yang mengantarkan Pak Kenzie ke sini?”tanya Mintoro. “Bukan, Pak. Saya ke sini untuk menemui Bapak membicarakan perihal perekrutan karyawan tambahan di divisi GA,”jelas Seva yang langsung dilirik oleh Zayn. “Oh itu...ya sudah direkrut saja, nanti kita bicarakan lagi karena sekarang saya ada tamu...mari, Pak Kenzie...” Mintoro tersenyum ramah. “Pak...” Kenzie menghentikan langkahnya.”Ibu Seva memiliki keperluan yang sangat penting, sebaiknya Bapak mendengarkannya dulu di dalam.” Tiba-tiba saja cara bicara Kenzie sangat dewasa berbeda sekali dengan ketika ia bicara pada Seva tadi. “Ah, itu bukan masalah penting, Pak Kenzie...masih bisa nanti dibicarakan. Anda ini kan sesekali datang, makanya saya akan menemani Anda hari ini.” Mintoro terkekeh sambil membetulkan posisi kacamatanya. Seva mendengkus di dalam hati, muak sekali mendengarkan kata-kata dari Mintoro. Belakangan ini jelas sekali ia terlihat meng-anakemas-kan Zayn. Padahal mereka sama-sama Kepala Divisi.” “Ibu Seva ini posisinya apa?”tanya Kenzie pada Mintoro. “Ah, Ibu Seva adalah Kepala Divisi HRd, Pak Kenzie...” “Untuk urusan sumber daya manusia di sini, itu sangat penting. Sebaiknya ditanggapi dengan cepat, ini menyangkut kelangsungan pekerjaan.” Kenzie menatap Mintoro dingin. “Tapi, Pak...” “Saya akan menungggu, Pak Mintoro...silakan selesaikan urusannya dengan Bu Seva.” “Ba...baik, Pak Kenzie Anda menunggu di dalam saja.” Mintoro mempersilakan. “Saya kembali kerja, Pak.” Zayn pergi. Seva, Mintoro, Kenzie, Alvin, dan Devan masuk ke dalam ruangan Mintoro. Seva duduk berhadapan dengan Mintoro, sementara Kenzie duduk dengan sabar. “Mas Kenzie...apa ini wanita yang Mas cari?” bisik Devan. “Iya...kebetulan sekali ketemu di sini. Ah, senangnya,”ucap Kenzie pelan.”Dia manis sekali bukan?” Devan tersenyum penuh arti.”Iya, Mas...syukurlah kalau begitu.” “Jadi, aku tidur dimana nih?”tanya Kenzie. Devan membuka iPadnya.”Bagaimana kalau di hotel saja, Mas? Biar saya hubungi pihak hotel untuk menyiapkan kamar.” “Hotel mana itu? tolong cari yang dekat tempat tinggal Seva.” “Wah...baiklah, Saya akan cari informasinya.” Devan kembali tersenyum Kenzie memerhatikan ekspresi Seva yang bicara pada Mintoro. Sepertinya pembicaraan mereka serius, dan saat seperti itu Seva terlihat dewasa sekali. Wajah Seva terlihat tidak puas. Wanita itu mengembuskan napas berat sambil berdiri hendak pergi dari sana. Sementara ekpresi Mintoro terlihat santai saja. Kenzie mengikuti gerakan Seva.”Ibu Seva mau kemana?” “Lanjut kerja lagi!” Seva menatap Kenzie tak senang, suasana hatinya saat ini sedang buruk. “Ah, Bu Seva...apa Ibu belum tahu ya siapa Pak Kenzie ini?” Mintoro berjalan ke arah Seva. “Saya tidak tahu, Pak,”jawab Seva. “Ini adalah Pak Kenzie, cucunya yang punya perusahaan, salah satu pewaris Musim Panas Grup.” Mintoro tersenyum sinis, sikap Seva ini sangat tidak baik, terlalu ketus untuk orang yang baru dikenal. Entah kenapa ia dipertahankan di sini. Seva mematung beberapa saat, dunia memang begitu sempit.”Selamat datang di Kota Medan, Pak. Semoga perjalanan Anda menyenangkan,”kata Seva pada Kenzie. “Karena sekarang sudah saling mengenal, sepulang kerja nanti...kita bicara lagi, ya, Bu.” Kenzie tersenyum penuh arti. “Baik, Pak. Permisi.” Seva keluar dari ruangan itu.   **            Pukul empat lewat lima belas menit, jam kantor berakhir. Seva mematikan laptop, merapikan barang-barang pentingnya, lalu bergegas pulang. Saat melewati para staff yang masih bersiap, ia sempat melihat jenny dan Fania yang tadinya ngobrol langsung terdiam. Mungkin mereka habis menggosipkan Seva. Seva sudah biasa seperti ini selama setahun belakangan, ia sudah tak memiliki rasa sakit hati karena sudah sering diperlakukan seperti itu. “Ibu Sevalina...” Langkah Seva terhenti, menoleh ke belakang. Wanita itu memutar bola matanya, Kenzie ada di depan pintu Divisi. “Kenapa Bapak Kenzie ini masih di sini? Lebih baik istirahat saja, kan baru sampai juga,”balas Seva dengan senyum yang dipaksakan karena banyak staff berseliweran hendak pulang. “Kita kan harus bicara, Ibu Seva. Tadi...kita kan sudah sepakat.” Kenzie mengingatkan dengan tatapan tajamnya, seolah-olah mengatakan 'ingat aku punya fotomu, jangan menolak!'. “Mau bicara apa?”tanya Seva.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN