“Oh, Pak Zayn.” Kenzie menoleh, lalu ia menyimpan kedua tangannya di saku celana pendeknya. Dilihatnya wanita di sebelah Zayn, sangat muda, cantik, dan tengah berbadan dua.
“Oh, Pak, perkenalkan ini istri saya,”kata Zayn dengan senyuman lebar.
Kenzie tersenyum tipis pada istri Zayn.”Wah, sepertinya sebentar lahir melahirkan ya.”
Isti, istri Zayn tersenyum sambil mengusap perutnya.”Iya, Pak.”
“Semoga persalinannya lancar ya, Pak Zayn. Selamat, sebentar lagi menjadi Ayah,”kata Kenzie.
“Terima kasih, Pak Kenzie. Oh ya silakan dilanjutkan belanjanya, saha mau lihat-lihat sama istri saya,”kata Zayn.
Kenzie mengangguk, ia memerintahkan pada pelayan di sana untuk mengeluarkan beberapa cincin untuk ia lihat. Sementara Zayn dan Isti ada di sebelahnya.
Perhatian Isti tertuju pada sederetan cincin mahal yang dilihat-lihat Kenzie.
“Wah, Pak, yang itu bagus sekali. Bapak mau beli untuk istri ya?”tanya Isti ikut nimbrung.
“Saya belum menikah, Bu, ini untuk wanita yang saya cintai,”jawab Kenzie.
“Wah, belum menikah ternyata. Maafkan saya. Iya, saya yakin yang ini sangat cocok untuk wanita mana pun. Ini sangat cantik,”kata Isti dengan mata berbinar.
“Oh ya? Bisa minta tolong dicoba, Bu? Sepertinya jari wanita yang kucintai itu sama seperti jari Ibu,”kata Kenzie.
“Oh tentu, tapi,saya ini sedang hamil, Pak. Agak gemukan nih jarinya.” Isti mencoba cincin yang ia pilih tadi. Mata wanita itu berbinar-binar, sangat bagus dan mewah. Kemudian ia melepaskannya lagi dan menyerahkannya pada Kenzie.
“Oke. Saya ambil yang ini ya,”kata Kenzie.”Mas Dev, dompet!”
Devan menyerahkan dompet Kenzie dengan sigap. Ia memperhatikan setiap transaksi dengan teliti, lalu menyimpan struknya dengan baik di dalam clutch untuk dijadikan laporan.
“Wah, dia langsung bayar, Mas?”bisik Isti pada suaminya.
“Iya. Dia kan pemilik perusahaan, wajarlah dia bisa beli perhiasan mahal itu cash. Uangnya kan banyak,”kata Zayn.”Ya udah, kamu mau beli yang mana?”
“Aku mau seperti yang kucoba tadi, Mas,”kata Isti dengan tatapan memohon.
“Jangan yang semahal itu, yang biasa-biasa aja.” Zayn menarik istrinya menjauh dari deretan perhiasan paling mahal itu.
Diam-diam Kenzie tersenyum melirik Zayn dan Isti yang sedang berdebat pelan. Lalu, dalam hati ia mengatakan bahwa Seva beruntung berpisah dari laki-laki sejenis Zayn. Ia bisa memberikan apa pun yang tidak pernah diberikan oleh Zayn. Ia akan memberikan kebahagiaan pada Seva.
Setelah transaksi pembayaran selesai, Kenzie berjalan keluar. Ia berhenti di depan Zayn dan istrinya yang masih memilih-milih.
“Pak Zayn, saya duluan ya,”kata Kenzie.
Zayn menoleh,”ah, iya, Pak...silakan.”
Kenzie tersenyum, lalu berjalan keluar dari sana. Devan dan Alvin setia mengikuti di belakang. Kenzie terus berjalan dengan cueknya, lalu ia berbelok ke toko boneka.
“Hah, masa Bu Seva mau dikasih boneka?”bisik Devan pada Alvin.
“Memang Mas Kenzie mau beli boneka?”tanya Alvin.
“Lah itu masuk ke dalam, mau ngapain?”
“Ikuti ajalah,”kata Alvin.
Kenzie berjalan ke deretan boneka beruang. Pria itu berdiri di sana sambil mencubiti pipi boneka beruang cokelat. Beberapa pramuniaga yang melihatnya tampak menahan tawa karena tingkah Kenzie. Mungkin karena Kenzie tampan,jadi, sah-sah saja jika ia berkelakuan aneh. Lain halnya jika ia adalah pria dengan wajah biasa-biasa saja, orang akan langsung menganggapnya orang gila.
“Mbak, ada nggak boneka yang setinggi saya?”tanya Kenzie pada pramuniaga di sana.
“Paling tinggi yang ini saja, Mas.”
“Gitu ya...” Kenzie mengambil boneka itu dan membolak-baliknya. Ia menoleh ke arah Devan.”Urus pembayarannya, Mas, langsung suruh kirim aja ke hotel.”
“Baik, Mas.” Devan menuju kasir dan membayar boneka itu. Ia masih belum paham apa yang akan dilakukan Kenzie. Bukankah Seva itu sudah terlalu dewasa untuk diberi kejutan seperti ini. Atau Kenzie sendiri tidak tahu bagaimana caranya memberi kejutan pada wanita dewasa.
Kenzie langsung keluar dari sana, diikuti oleh Alvin. Devan masih tertinggal di toko boneka. Pria itu cepat-cepat menyelesaikan pembayaran sebelum kehilangan Kenzie.
Setelah berjalan lurus, ia naik ke eskalator. Ia berjalan menuju toko tas dengan brand ternama. Ia berdiri melihat deretan tas. Ia mulai bingung mana yang bagus.
“Mas Dev!” panggil Kenzie sambil melihat ke sekeliling.
Devan berjalan cepat menghampiri Kenzie.”Ada apa, Mas?”
“Tas yang kayak punya Kak Kenni yang mana sih, merk-nya ini bukan?”tanya Kenzie.
Devan mengangguk, ia pun mengambilkan salah satu tas keluaran terbaru dari merk tersebut “Ini saja, Mas. Baru keluar deh. Kak Kenni saja belum beli.”
“Oh ya? Tapi jelek ih,”komentar Kenzie.
“Pak Kenzie...ketemu lagi!”pekik Isti.
Kenzie menoleh ke sumber suara sambil memegang tas yang disarankan Devan.”Eh, Bu Isti...mau beli tas juga?”
“Mau lihat-lihat aja kok, Pak.” Wanita itu tertawa kecil, lalu pandangannya tertuju pada tas di tangan Kenzie.”Wah, tas keluaran terbaru...”
“Ini...bagus nggak, Bu? Maksudnya...perempuan akan suka nggak ya?”
“Pasti suka!”jawab Isti cepat.
“Oh gitu ya. Nih, Mas, bayar,”kata Kenzie menyerahkannya pada Devan.”Terima kasih, Bu, atas bantuannya.”
“Semoga pacarnya bahagia,ya, Pak. Pasti bahagia,sih...dibeliin barang-barang mahal.”
“Iya, Bu, semoga saja.” Kenzie melirik ke Zayn yang sedari tadi diam saja.
“Oh ya, Bu Isti boleh saya minta bantuan sekali lagi?”
“Ah iya dengan senang hati, Pak Kenzie...”
“Parfum untuk wanita...yang harumnya enak apa ya?”
Isti mengambil ponsel dari tasnya, lalu menunjuk deretan merk dan jenis parfum mahal.”Ini, Pak. Paling recommended.”
“Oke, terima kasih, Bu. Saya duluan.” Kenzie tersenyum ramah.”Pak Zayn, duluan ya.”
“Iya, Pak Kenzie.”
“Ya ampun...mau kemana lagi itu anak.” Devan mengeluarkan kartu debitnya sambil melihat ke arah Kenzie yang berjalan keluar toko.
“Yuk, pulang aja,”ajak Zayn ada Isti.
“Aku masih mau lihat-lihat,”rengek Isti.
“Kan nggak mau beli...”
“Nggak beli, tapi setidaknya lihat-lihat aja, itu aja aku udah seneng kok,”kata Isti sambil pergi ke rak lain. Zayn pun menurut saja karena istrinya tengah mengandung.
**
K ennita duduk di ruangan serba putih. Ia melirik kalender yang ada di meja, kemudian memanggil Franda, asistennya.”Franda!”
“Iya, Bu.” Gadis itu datang dengan langkah cepat.
“Saya mau lihat daftar pengeluaran Kenzie selama di sana dong,”kata Kennita.
Franda mengangguk.”Saya ambil catatan saya dulu di meja saya, Bu.”
Kennita mengangguk saja, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menunggu Franda. Beberapa saat kemudian, Franda datang membawa iPadnya. “
“Tolong dibacakan.”
Franda mengangguk.”Selama tiga hari di sana, pengeluaran Pak Kenzie hanya untuk transportasi, makan, dan keperluan sehari-hari saja, Bu. Tapi, kemarin Pak Kenzie mengeluarkan uang sebesar empat puluh dua juta enam ratus lima puluh ribu rupiah untuk pembelian cincin.”
Kennita melirik tajam.”Cincin? Cincin seperti apa?”
Asistennya menunjukkan gambar cincin yang dimaksud.”Ngapain Kenzie beli cincin, memangnya dia punya pacar di sana?”
“Menurut informasi dari Mas Devan, Pak Kenzie menyukai salah satu Manager di sana, namanya Ibu Seva. Beliau membeli cincin sebagai hadiah ulang tahunnya.”