Bab 19

1155 Kata
Kennita menopang dagunya sambil kembali memperhatikan detail cincin tersebut.”Ternyata selera Kenzie bagus juga. Pantesan aja semalam dia nanya-nanya soal perempuan. Ya sudah terima kasih atas informasinya, Franda.” “Bu, ada lagi. Pembelian tas seharga dua puluh tiga juta lima ratus, sebuah boneka beruang, satu juta rupiah, lalu parfum dua juta rupiah,”sambung Franda. Kennita mengangguk-angguk.”Oke...oke.” “Apa pengeluaran Pak Kenzie ingin dibatasi, Bu?” Kennita melambaikan tangannya.”Tidak, biarkan saja. Kita lihat nanti dia bakalan perkenalkan wanita itu apa nggak.” “Baik, Bu.” “Ya udah kamu balik kerja lagi.” “Baik, Bu.” Kennita tersenyum penuh arti, lalu ia mengambil ponsel dan menghubungi Kellyana memberi tahu perihal adik kesayangan mereka.     **   Sudah tiga hari Seva berada di Jakarta. Sesuai janjinya, Kenzie menggantikan Seva meskipun ia masih belum tahu banyak. Ia tidak segan meminta bantuan atau bertanya Fadli dan staf lainnya. Bagi Kenzie, belajar bisa dimana saja, kapan saja, dan dimana saja. Pagi ini, Kenzie masuk kerja seperti hari-hari kemarin. Ia mulai terbiasa dengan suasana kantor ini. “Pagi, Pak Kenzie,”sapa Fania. “Pagi...” “Hari ini kemejanya pink,ya, Pak...jadi kelihatan imut,”komentar Jenni. “Oh, terima kasih...” Kenzie merapikan kemejanya dan berlalu dari hadapan Jenni dan Fania. “Duh, kok ada ya...orang sempurna seperti Pak Kenzie. Coba aja dia tuh naksir aku,”kata Fania mengkhayal. “Ngimpi tuh harus sadar diri!”kata Jenni mentertawakan Fania. “Eh, semoga aja Bu Seva nggak balik ke kantor ini ya.  Biar Pak Kenzie aja yang jadi bos kita, lumayan bisa cuci mata. Kan nggak dosa, dia masih single.” “Iya, sih...” Jenni mengiyakan. “Kalau begini terus, bisa-bisa kalian yang berhenti kerja dari sini!” Fadli berkacak pinggang di hadapan Fania dan Jenni. “Eh, iya, Pak....maaf. Maafkan kami hanya bercanda.” “Masuk di Perusahaan ini tidak mudah. Seleksinya ketat,selain itu attitude juga sangat diutamakan di sini. Kalau tingkah laku kalian seperti ini, saya tidak yakin kalian bida bertahan. Masih banyak di luar sana yang butuh pekerjaan ini dan pastinya jauh lebih baik dari kalian!” “Maaf, Pak Fadli....kami nggak akan mengulanginya.” “Kalau kalian masih mau bertahan di sini, terus belajar agar posisi bisa meningkat, bukan terus-terusan menggosipkan atasan. Kalau Bu Seva tidak suka, dengan hitungan detik kalian bisa dicampakkan dari kantor ini. Kalian paham?”kata Fadli mengakhiri ceramahnya. “Paham, Pak Fadli.” “Kembali bekerja, jangan lanjut gosip!” “Baik, Pak. Permisi.” Kedua wanita itu cepat-cepat pergi dengan wajah merah menahan malu. Kenzie memerhatikan Fadli yang memarahi Fania dan Jenni. Kasihan juga dua wanita itu, tapi, sesekali mereka harus diberi peringatan keras. Menggosip adalah salah satu kegiatan menyenangkan bagi pelakunya. Tapi, bagi objeknya itu adalah hal yang menyedihkan. Orang terkadang tidak sadar bahwa yang ia ucapkan bisa sangat melukai hari orang lain, meskipun hanya bercanda. Ponsel Kenzie berbunyi, pesan masuk dari Seva. Wanita itu mengirimkan foto tiket pesawatnya, ia akan berangkat siang ini. Kenzie mengangguk-angguk dan membalas pesan Seva. Setelah itu, Kenzie segera menghubungi Devan. “Mas Dev, tolong balon-balon yang kemarin kita tiup dibawa ke rumahnya Seva.” “Sebanyak ini, Mas?”Devan menganga. “Iya, bawa semuanya,termasuk hadiah-hadiahnya. Nanti makan siang aku ke rumahnya Seva. Kunci rumah Seva ada di laci,”kata Kenzie lagi. “Baik, Mas. Terus boneka beruangnya gimana, Mas? Apa  perlu di laundry dulu, soalnya semalam kena air liur Mas Kenzie sewaktu tidur.” “Itu boneka bukan buat Seva. Buat aku sendiri,”jawab Kenzie santai. “Hah?” Devan kaget setengah mati. Ia benar-benar berpikir berpikir jalau Kenzie membeli boneka untuk Seva. Padahal ia baru ingin mengingatkan kalau boneka itu tidak cocok diberikan untuk Seva. Tapi ternyata untuk teman tidur Kenzie sendiri.”Iya, Mas, saya siapkan dulu semuanya.” “Oke...” “Baik, Mas...” “Ehh...tunggu dulu.” Kenzie teringat sesuatu. “Iya, Mas, ada apa?” “Kamu ada ditelpon Kak Kenni buat nanya masalah pengeluaran aku kemarin nggak?” “Belum ada, Mas. Tapi, yang pasti Mbak Franda pasti punya catatannya.” “Oh...” Kenzie tertawa lebar. Ia tahu, esok atau entah kapan ia Kan diinterogasi oleh Kennita. Tapi, itu urusan belakangan,yang penting ia akan segera membuat kejutan kecil untuk Seva. Pukul empat sore, Seva muncul di pintu keluar Bandara Kuala Namu. Kemudian ia menyebrang jalan menuju stasiun kereta api yang akan mengantarkannya ke Kota Medan. Ada yang berbeda dengannya kali ini. Rambut panjangnya ia potong sampai sebahu dan ia beri warna sedikit. Itu adalah ide Shifa, katanya ia lebih terlihat cantik, muda, dan imut dengan rambut barunya. Sesekali melakukan perubahan sangat lah perlu, apa lagi ia bukan lagi istri orang. Tidak ada salahnya mengubah penampilan untuk menyenangkan diri sendiri. Empat puluh menit berlalu, Seva akhirnya tiba di stasiun kereta api Medan. Ia turun dan mencari taksi. Awalnya ia berpikir kalau Kenzie akan menjemput, tapi, Kenzie mengatakan kalau ia belum pulang kerja. Mereka janjian ketemu di rumah saja. Sementara itu, Kenzie sudah di rumah Seva. Menghiasi kamar Seva dengan balon-balon. Ia tahu ini akan membuat wanita itu terpukau atau tidak. Hanya ini yang ia bisa. Ia tidak begitu paham perihal percintaan dan menjadi romantis pada pasangan. Seva sampai di rumah, membuka pintu lalu masuk. Wanita itu kangsung ke kamar dan sangat terkejut melihat kamarnya sudah berubah, terlebih ada Kenzie dengan kemeja pinknya di dalam. “Selamat ulang tahun! Maaf telat kasih kejutan!” Kenzie tersenyum, lalu menghampiri Seva. Seva memandang seisi kamarnya dengan takjub. Ia tidak menyangka kejutan seperti ini yang akan diberikan oleh Kenzie. Mungkin ia tidak akan menyingkirkan balon-balon ini sampai satu minggu. Rasanya sungguh menyenangkan tidur dengan dekorasi kamar seperti ini.”Kamu yang siapkan kejutan ini?” “Iya.” “Thankyou, Kenzie...cantik banget.” “Aku ada hadiah,”tunjuk Kenzie ke arah tempat tidur. “Seperti pacarannya anak sekolah saja.” Seva terkekeh. Wanita itu duduk di sisi tempat tidur, melihat hadiah yang ada di atas kasur. Ia membuka hadiah berisi tas dan parfum tersebut,lalu tersenyum. Kenzie duduk di sebelah Seva, ekspresi wanita itu sungguh membuatnya takut.”Jelek ya?” “Ini buat aku?” Seva menatap Kenzie tak percaya. Rasanya seperti bahagia sekali mendapatkan kejutan seperti ini. Kenzie mengangguk, kemudian ia mengambil kotak kecil yang tidak dilihat Seva, lalu disodorkannya pada wanita itu.”Ini hadiah utamanya.” “Hadiah utama?” Seva tertawa geli.”Udah kayak undian aja ada hadiah utamanya.” Seva membuka kotak kecil itu, lalu terdiam. Jantung Kenzie berdegup kencang melihat ekspresi Seva yang sepertinya tidak begitu suka.”Kamu nggak suka ya? Maaf, besok aku ganti modelnya.” “Bukan itu, Kenzie...tapi, barang-barang ini terlalu mahal,”kata Seva. “Terus gimana...aku cariin itu khusus buat kamu sampai-sampai aku pinjam tangan orang untuk cobain cincinnya.” Kenzie pun mengambil cincin yang masih di dalam kotak, lalu memakaikannya di jari manis Seva.”Tuh, cantik kalau kamu yang pakai.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN