Seva tertawa.”Terima kasih, ya atas kejutan dan hadiah-hadiahnya. Tapi, lain kali jangan beli barang semahal ini. Cukup dibeliin pengharum ruangan atau tumbler, itu udah cukup kok.”
“Iya. Masa, untuk orang tersayang diberi pengharum ruangan, sih. Ngomong-ngomong…makasih udah diterima hadiahnya.”
“Tapi, ngasih cincin begini...ada maksud lain nggak?”selidik Seva.
Kenzie cengengesan saja,“Ada, sih...tapi, itu bukan cincin lamaran kok. Itu untuk hadiah, tapi, kalau kamu mau kulamar...aku bakalan siapin yang lebih bagus lagi. Kamu udah mau belum jadi calon istriku?”
“Belum mau...” Seva tertawa geli.
“Belum, berarti ada kemungkinan nanti jadi 'mau',”ucap Kenzie percaya diri. Lalu ia memerhatikan penampilan Seva. “Kamu makin cantik dengan rambut pendek begini. Penampilan kamu juga berubah, seperti anak abege sekarang. Aku suka sekali.”
“Oh ya...jangan macem-macem loh karena ngeliat aku makin kelihatan muda. Apa lagi, kayaknya kamu sengaja setting kamar ini kayak kamar pengantin,”kata Seva dengan tatapan curiga.
Kenzie menggelengkan kepalanya.”No...No...No...aku nggak boleh making love sebelum menikah.”
“Tapi, kita sudah melakukannya waktu itu.”
“Betul, dan kamu...sudah merenggut keperjakaanku. Makanya aku kejar kamu minta pertanggung jawaban.” Kenzie melipat kedua tangannya di d**a.
“Wah, masa sih itu yang pertama?” Seva melayangkan tatapan menggoda pada pria muda itu.
“Memang itu yang pertama.” Wajah Kenzie merah menahan malu. Ia sampai harus memalingkan wajahnya agar tidak terus-terusan melihat Seva yang menggodanya.
“Kok kayak udah ahli?” Seva mendekatkan wajahnya ke Kenzie.
“Ahhh ...nggak tahu, ayo kita makan!” Kenzie langsung keluar dari kamar.
Sambil sedikit terseret, Seva terkekeh.”Mau makan apa, sih?”
“Makan kamu!”ucap Kenzie, menoleh sambil menghentikan langkahnya.
Langkah Seva ikut terhenti, wajah mereka bertatapan. Dalam hitungan detik, Seva mulai terpesona dengan pria itu.
Wajah Kenzie kembali merona, ia berusaha menahan keinginannya untuk mencium Seva, tapi, di posisis ini rasanya sangat sulit.
“Ayo, makan aku!”kata Seva bercanda.
Kenzie menoleh ke arah Seva yang terlihat kembali tertawa. Lalu, perlahan ia mendekatkan wajah dan mengecup bibir wanita itu.
Seva langsung terdiam, membatu ebberapa saat. Wajahnya dan kenzie sama-sama merah begitu kenzie menjauhkan wajahnya.
“A..ayo kita makan ayam.”
“Ayam?”ulang Seva.
“Bukan…aku mau makan daging,”kata Kenzie sambil berjalan duluan sebelum ia benar-benar mimisan habis mencium Seva.
**
Seva memoles wajahnya dengan penampilan yang bebeda dengan hari biasanya. Jika sebelum-sebelumnya ia berpenampilan dewasa, hari ini ia berpenampilan lebih muda selayaknya anak millenial yang baru bekerja. Ditambah dengan rambut barunya, ia semakin percaya diri. Dukungan keluarga saat ia pulang sungguh membuatnya lega. Sekarang setiap langkahnya terasa ringan, pikirannya terasa lebih memiliki banyak ruang. Ia tidak perlu resah memikirkan jejak masa lalu.
Seva berjalan melewati pintu pemeriksaan. Penjaga sempat kahet melihat perubahan Seva, tapi wanita itu hanya tersenyum oenuh arti. Kemudian ia berjalan ke lift dan menunggu di depannya. Pintu lift terbuka. Seva masuk, yang kebetulan sekali Zayn juga masuk dan hanyaia dan Zayn di dalamnya.
Zayn melirik ke arah wanita di sebelahnya, memastikan bahwa wanita itu memang Seva. Penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat, bahkan sampai aroma parfumnya juga berubah.
“Rambut kamu kenapa?”tanya Zayn.
“Ah, kenapa?” Seva memegang rambut dan mengibaskannya sedikit.
“Rambut panjang kamu kemana?”
“Oh...karena udah terlalu panjang, aku potong,”jawab Seva santai.
“Bukannya kamu nggak pernah mau memotong rambut panjang kamu itu? Kamu kan suka banget sama rambut kamu yang begitu?”
“Ah, masa,sih...kayaknya dulu yang suka rambut panjang bukan aku deh. Lebih suka begini, lebih ringan dan santai,”jawab Seva sambil merapikan rambutnya. Mata Zayn langsung tertuju pada cincin di jari Seva, persis seperti cincin yang diminta istrinya kemarin.
Zayn tidak menanggapi balasan Seva. Pria itu berdiri tegak dan menatap lurus ke depan.
“Terima kasih, ya, sudah bantuin aku ngomong ke Mamaku masalah perceraian kita,”kata Seva, tapi, kali ini ia sudah kuat, tidak akan cengeng lagi di depan Zayn.
“Apa? Aku sama sekali nggak ngasih tahu sama Mama soal perceraian kita,”jawab Zayn,”kan, kuberi waktu satu minggu supaya kamu ngomong sama keluarga kamu,”lanjutnya lagi.
Seva mengangkat kedua bahunya, tak tahu.”Enggak tahu deh, pokoknya kemarin Mama bilang sudah tahu dari kamu. Ya udah nggak apa-apa. Terima kasih atas bantuannya. Sekarang aku udah lega.”
Pintu lift terbuka. Seva sudah sampai dan langsung keluar tanpa berkata apa pun lagi pada Zayn. Pria itu mematung saja sampai pintu lift tertutup lagi dan ia diantar ke lantai berikutnya.
Sementara itu, seorang wanita cantik berjalan diiringi asisten dan pengawalnya,di sebelahnya lagi ada seorang pria tua berkacamata memasuki Kantor. Mereka disambut dengan hangat oleh Mintoro dan dibawa ke ruangannya.
“Mas Kenzie, ada Bapak dan Mbak Kenni,”bisik Devan pada Kenzie yang tengah mengawasi Divisi General Affair.
Pria itu menoleh kaget.”Yang benar? Dimana?”
“Mereka baru aja sampai. Sekarang sedang ada di ruangan Direktur.”
Kenzie merapikan penampilannya, lalu berjalan menuju ruangan Mintoro. Semoga saja kedatangan Ayah dan Kakaknya membawa kabar baik untuknya kali ini.
Pria itu mengetuk pintu dan masuk. Ayah Kenzie menatap anak bungsunya itu dengan tajam, menurunkan kacamatanya dan melihat penampilan Kenzie.
“Pa, Kenni mau ajak Kenzie bicara dulu ya.” Kennita berdiri dan mengajak Kenzie ke ruangan meeting yang kosong.
“Kakak...ngapain ke sini?” Kenzie langsung menghampiri Kennita dan memeluk lengan wanita itu dengan manja.
“Mau jenguk adik kakak yang baru habiskan uang tujuh puluh juta dalam waktu kurang dari satu jam saja.” Kennita tersenyum seperti ingin membunuh Kenzie.
“Kan, cuma tujuh puluh, Kakak....” Kenzie tersenyum, dibuat semanis mungkin. Senyuman andalan mematikan dan meluluhkan hati jika dimarahi oleh kakak-kakaknya.
Kennita membuang wajahnya sambil bersedekap.”Nggak usah senyum begitu!”
“Tuh, kan, Kakak nggak tega mau marah,”goda Kenzie sambil mengikuti arah Kennita membuang pandangannya. Pokoknya, Kennita harus terus-terusan melihat wajahnya.
“Kenzie!”
“Iya, Kakak....”
“Kamu beli cincin buat apa? Tas, parfum, boneka juga,”tanya Kennita serius.
“Buat hadiah ulang tahun. Kalau boneka itu untuk aku sendiri kok. Di hotel masih ada,”jawab Kenzie.
“Katanya...untuk Ibu Hrd, ya?”
“Wah, selamat...Kakak benar!” Kenzie bertepuk tangan senang.”Aku suka sama Ibu Hrd, kak.”
“Hrdnya, kan sudah menikah, Ken, mau jadi Pebinor?”tanya Kennita. Ia pernah mendengar kalau Kepala Divisi di sini tidak ada yang single, semuanya sudah berusia matang dan sudah menikah.
“Dia sudah single, Kakak. Usianya sama kayak usia Kak Kelly,”jawab Kenzie sambil berbisik.
“What!” Kennita langsung syok. Wanita itu memijit pelipisnya.
“Kak, Papa masih marah?”tanya Kenzie.
“Menurutmu?”
“Nggak. Aku kan anak kesayangan,”jawab Kenzie tanpa merasa berdosa. Semarah-marahnya sang Papa, tidak mungkin sampai tidak menganggapnya lagi sebagai anak.
“Habis ini kita bicara sama Papa ya, kayaknya di hotel aja. Karena ini masalah keluarga. Dan ini cukup serius, Kenzie, mau bahas soal kamu,”jelas Kennita serius.