Bad News

1111 Kata
Wanita separuh baya itu mondar mandir sejak tadi, gelisah tak menentu di hatinya. Sudah hampir tiga jam dia menunggu kepulangan maid dan Tiffany yang sejak tadi pergi berbelanja bahan dapur. Namun, hingga kini mereka belum kembali. Padahal dia sudah memberikan catatan yang lengkap. Toko tempat menjual bahan keperluan dapur mereka juga sudah menjadi langganan, letaknya di tengah kota dan gampang ditemukan. Lagi pula ada sopir yang mengantar, harusnya waktu dua jam cukup. Begitu bunyi pintu belakang dapur terbuka dan maid muncul dengan dituntun oleh sopir, matanya terbelalak. "Kau kenapa?" Kepala dapur memandangnya dengan panik. Apalagi saat mendapatkan Tiffany tak ada bersama mereka. Mereka berpandangan sebelum menjawab. "Tiffany diculik." Jantung kepala dapur langsung berdenyut kencang. Seketika dia limbung dan hampir terjatuh. Tensi darahnya langsung naik mendengar itu. "Beritahu Nyonya Marry," ucapnya lemah. *** Marry terduduk lemas di sofa ruang keluarga. Dia sudah menghubungi Jack dan semua putranya. Mereka semua panik, tapi ada perkerjaan yang belum bisa ditinggalkan. Dia sudah menelepon pengacara mereka untuk mengurus dan melaporkannya kepada aparat yang berwenang. Tinggal menunggu hasil dalam 1x24 jam. Entah siapa yang berniat jahat kepada keluarga mereka. "Bagaimana ini bisa terjadi? Sungguh ceroboh sekali." Dia tahu, suami atau anak-anak mereka memiliki musuh yang berkeliaran dimana-mana. Namun, kasus ini baru sekali terjadi. Kenapa juga Tiffany yang menjadi incaran? Apa selama ini rumah mereka dimata-matai? Ya Tuhan, dia bisa gila karenanya. Janji untuk menjaga Tiffany terabaikan. Entah apa yang akan dia katakan kepada sepupunya nanti. Terpaksa harus berbohong, hingga gadis itu ditemukan. "Mengapa kau gelisah, Nak?" Suara lembut seorang wanita mengagetkannya. Tampak sang grandma sedang duduk santai di kursi roda dengan ditemani oleh perawat khususnya. "Mom." Marry mendekati ibu mertuanya itu dan memeluknya erat. Air matanya tumpah. Sekalipun bukan ibu kandung, namun dia sangat sayang. Jack sendiri tak terlalu perhatian kepada ibunya sendiri. Ya, istri mudanya lebih menarik, sehingga dia kerap lupa kepada keluarga yang telah membersamai sejak dulu. Begitulah laki-laki, jika mata dan hatinya telah dibutakan oleh cinta. "Jika kau punya masalah, berceritalah. Aku akan mendengarkan." Wanita tua itu mengusap rambutnya. "Apa putraku menyakiti perasaanmu? Sungguh keterlaluan dia!" ucapnya tegas. Sekalipun telah lanjut usia, grandma cukup tahu masalah apa yang sedang menimpa anak menantunya. Dia selalu bersikap adil dengan tidak membedakan. "Ini bukan tentang aku dan Jack. Ini tentang yang lain," ucapnya lemah. Semangatnya tiba-tiba saja hilang. Pikirannya kacau balau. Dahi wanita tua itu berkerut mendengar penuturan menantunya. Sepertinya masalah kali ini cukup berat sehingga istri pertama Jack itu menangis. Marry adalah adalah wanita tegar. Air matanya mahal, tak akan tumpah untuk sesuatu yang tak penting. Selama dia tinggal di sini sejak kematian grandpa, Marry sungguh sabar menghadapi semua. Haya satu kali dia melihatnya menangis, saat Jack meminta izin menikah lagi di depan semua orang. "Katakanlah jika kau ingin berbagi. Mungkin aku bisa membantu. Setidaknya beban pikiranmu berkurang. Apa ini tentang anak-anakmu yang berulah?" Grandma bertanya lagi. Marry mengangguk, lalu berucap. "Tiffany diculik. Kami sudah melaporkannya ke pihak berwajib. Pengacara sedang mengusut semuanya, Namun, tetap saja itu membuatku khawatir." Mata grandma terbelalak. Seumur hidupnya membesarkan ana-anak, belum pernah ada kejadian seperti ini. Keluarganya cukup terpandang sejak dulu, karena itulah Jack dan saudaranya yang lain bisa bersekolah yang layak sehingga kini sukses membangun usaha. Grandma tahu, ada banyak persaingan di duani bisnis, tapi untuk kasus yang satu ini, sungguh mengherankan. "Apa Kenhart sudah tahu? Suruh dia dan timnya mengusut." "Aku sudah meminta Jack menghubungi semua teman-temannya di kepolisian. Ini tidak bisa dibiarkan." Marry menggelengkan kepala. Hingga dua jam ke depan mereka berbincang tentang banyak hal sambil resah menunggu. Pintu ruangan terbuka. Tampak wajah tua Jack masuk dan menghampiri istrinya. Lelaki itu duduk di sofa dengan napas terengah-engah. "Bagaimana, apa ada kabar?" tanya Marry penasaran. "Belum, tapi aku sudah mengerahkan semua pihak, dan meminta agar ini tidak di show up ke media. Aku ingin semuanya bersih. Tiffany ditemukan tanpa ada berita skandal apa pun." Jack menatap wajah istri dan ibunya secara bergantian. "Kalau begitu kita menunggu kabar," ucap Gandma. Sementara itu, tiga lelaki Anderson yang lain sedang dalam perjalanan menuju ke rumah. Raymond membolos di mata kuliah hari ini. Richard membatalkan meeting penting dengan salah satu kliennya, Kenhart melajukan mobilnya seperti sedang berada di arena balapan. Lelaki itu sangat gelisah mendengar sang pujaan hati tiba-tiba saja menghilang. Ketika semua putranya sudah berkumpul, Marry memanggil kepala dapur, sopir dan maid yang pergi berbelanja bersama Tiffany. Satu persatu mereka diminta menceritakan kronoogis penculikan. Keadaan ini sungguh fatal. Jika sampai terjadi sesuatu hal kepada Tiffany, mereka akan di rumahkan. "Mengapa kau membiarkan dia keluar rumah tanpa pengawasan?" Jari Kenhart menunjuk ke arah kepala dapur ketika sampai ke rumah. "Nona Tiffany yang meminta giliran pergi berbelanja. Aku sudah melarangnya, karena sudah pernah pergi satu kali. Katanya bosan berada di rumah terus." Kepala dapur itu menjelaskan dengan air mata bercucuran. Rahang Kenhart mengeras. Sedari tadi dia hanya mondar mandir. Perasaannya tak menentu. Tetapi bukan hanya dia, semua orang merasa gelisah. Jack mengusap tangan berkali-kali. Marry terbaring lemas di sofa. Hanya Richard dan Raymond yang terlihat santai. "Kau kemana saja saat mereka berbelanja?" Kali ini pertanyaan Kenhart tertuju kepada sopir. Lelaki itu dengan terbata menjelaskan semua. Bahkan maid menunjukkan bekas luka di kaki yang membiru karena dorongan yang cukup keras. Marry akhirnya menyuruh putra bungsunya memanggil dokter keluarga untuk mengobati maid itu karena tampaknya dia tak bisa berjalan. Untuk sementara dia dibebaskan dari pekerjaan apa pun hingga pulih. "Kalian kembalilah ke dapur. Lakukan tugas lain, memasaklah seperti biasa. Sepertinya kami kelaparan," titah Marry. Lalu semua hening. Kenhart merebahkan diri di sofa. Matanya terpejam dengan napas teratur, namun tidak tertidur. Lelaki itu hanya berusaha menenagkan diri. Jack mendekat Marry yang terlihat lemas. "Tenanglah, jangan khawatir." Lelaki paruh baya itu merengkuh istri pertamanya. Bagaimanapun juga, wanita inilah yang telah mendampinginya sejak awal karir. Melihat itu, Marry menyandarkan kepala di bahu sang suami. Telah lama mereka tak seperti ini. Malam-malamnya selalu dingin karena Jack jarang menyentuhnya, bahkan hampir tak pernah. Tubuhnya sudah tak indah seperti dulu, sehingga Jack mungkin merasa jijik. Istri mudanya tentu saja lebih menggoda. Para putra Anderson saling berpandangan melihat kedua orang tua mereka. Hal inilah yang mereka diinginkan, keluarga yang rukun seperti sedia kala. Pernikahan kedua ayahnya membawa luka bagi semua orang. Hanya tak terlihat, mereka semua pintar menutupi dengan kesibukan bekerja. Seolah-olah itu tidak apa-apa padahal membawa duri dalam daging. Menyakitkan. Drrttt! Ponsel Jack bergetar. Lelaki itu menerima dan mendengarkan semua ucapan yang disampaikan oleh si penelepon. Dia mengangguk beberapa kali. Matanya terbelalak, kemudian sekejap terlihat tenang. Ketika sambungan telepon terputus, lelaki itu memandang satu persatu orang yang ada di ruangan itu. "Tiffany ditemukan di sudut kota dengan kondisi yang buruk. Saat ini sedang dibawa menuju rumah sakit." Kenhart langsung terbangun mendengarnya. Kapalanya berdenyut sakit seperti dihantam oleh sebuah palu yang besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN