Dua orang itu tersenyum senang saat melewati pagar tinggi rumah mewah itu. Hari ini giliran mereka yang pergi keluar untuk membeli beberapa bahan makanan. Tadinya kepala dapur tidak mengizinkan Tiffany ikut. Bagaimanapun Marry sang nyonya, telah berpesan kepadanya untuk menjaga gadis itu. Dengan berbagai macam pertimbangan, akhirnya mereka pergi diantar oleh seorang supir agar tidak kemana-mana.
"Kau lihat toko yang di sebelah sana. Sepertinya ada sebuah dress bagus dan aku ingin membelinya." Tunjuk Tiffany.
Dia sudah menerima sedikit uang dari Marry dan merasa senang sekali. Sekalipun hubungan darah mereka jauh, nyonya besar Anderson itu cukup perhatian kepadanya. Apalagi tahu bahwa Tiffany bekerja untuk membantu biaya pengobatan ayahnya.
"Kita hanya boleh berbelanja. Setelah itu pulang," tolak maid yang lain. Selama ini dia selalu patuh terhadap apa yang diperintahkan oleh kepala dapur atau tuan dan nyonya mereka.
"Aku hanya boleh keluar sesekali. Sedangkan kalian hampir setiap hari. Itu sungguh membosankan. Kau lihat, gaun yang aku punya sebagian adalah barang bekas pemberian Bibi Marry," jelasnya.
Gadis itu ingin membeli beberapa baju agar terlihat cantik. Setiap pagi, dia akan bertemu dengan Tuan Richard di meja makan dan ingin tampil cantik. Apa salahnya mampir sebentar untuk membeli sebuah sweater atau dress yang murah. Jika yang terpasang di patung etalase toko tak mampu dia beli, mungkin yang mereka sembunyikan di dalam bisa lebih terjangkau.
Gaun pemberian Marry tentu saja keluaran butik ternama. Tapi bukankah itu model lama? Sekalipun warnanya belum pudar, hiasan dan pernak-perniknya membuat dia geli. Sekalipun dia tinggal di desa, tentu saja dia mengikuti perkembangan fashion terbaru di televisi. Tak mampu membeli yang asli, keluaran yang mirip dengan harga terjangkau sesekali masih bisa dibelinya.
"Tapi bagaimana jika supir menelepon?" tanya maid itu.
"Katakan saja kita sedang memilih bahan yang bagus," kata gadis itu santai.
"Itu tidak mungkin, supir tahu tempat membeli bahan dapur yang berkualitas, karena dia sering mengantar kepala dapur berbelanja," tolak maid itu.
Memang benar. Ada swalayan khusus yang menjual bahan berkualitas sehingga mereka hanya perlu menuju tempat itu. Keluarga Anderson akan membeli semua kebutuhan mereka di tempat tertentu. Jangan risaukan harganya, bukankah mereka mampu?
"Ayolah sekali ini saja," bujuk Tiffany. "Aku akan membelikanmu sebuah syal cantik jika kau mau menemani," bisiknya.
Mata maid itu berbinar. Berteman dengan Tiffany sungguh menguntungkan. Selain dia bisa mengorek banyak hal tentang keluarga itu, gadis ini ternyata tidak pelit. Pastilah gaji yang diberikan tuan mereka lebih besar mengingat dia masih bagian dari keluarga mereka. Tiffany juga sering mengajak salah satu diantara mereka secara bergantian untuk bermain di taman bunga, dan mengintip para bujangan Anderson tentunya.
"Baiklah sebentar saja. Jika supir menelepon, aku akan mengatakan sesuai saranmu."
Lalu langkah kaki mereka berbelok menuju toko yang dimaksud. Sesampainya di dalam, mereka mulai memilih gaun. Barang belanjaan dapur diletakkan di depan toko, dalam troli yang mereka bawa dari rumah.
"Ini bagus sekali. Tuan Ken pasti akan melirikmu," ucap maid itu sambil mengerlingkan mata ke arah Tiffany.
Gadis itu tersentak. Sudah beberapa hari ini dia tak melihat tuannya itu. Setelah malam itu mereka bercerita, keesokan harinya hingga kini, Kenhart tak tampak batang hidungnya sama sekali.
"Kau cantik dan mereka menyukaimu," bisik maid itu.
"Apa maksudmu?" tanya Tiffany kebingungan. Dia tak mengerti apa yang dikatakan maid ini.
"Sepertinya para putra Tuan Jack menyukaimu. Sungguh beruntung. Andaikan aku bagian dari salah satu keluarga mereka," sesalnya.
Berharap nasib bisa seberuntung Tiffany. Mereka semua tahu, sejak gadis itu datang, semua mata tertuju kepadanya. Hanya saja Tiffany tidak sadar akan pesona yang dia pancarkan. Gadis itu malah sibuk berkerja di dapur. Padahal jika ingin hidup enak, dia tinggal merayu salah satu putra Jack. Setidaknya, jiak tak kesampaian menjadi istri, menjadi kekasih juga sungguh bahagia. Dari berita yang beredar, para jagoan Anderson sangat royal kepada wanita yang mereka sukai. Ada banyak hadiah yang fasilitas yang diberikan jika mau menemani mereka.
"Aku tahu diri. Tak mungkin merayu pria kaya. Gadis miskin sepertiku tak pantas." Matanya menatap dalam.
Lalu hening. Mereka kembali memilih gaun. Dapat, sebuah dress berwarna biru muda dengan motif abstrak kekinian. Dan sebuah syal lembut sesuai janjinya. Mereka segera ke kasir dan membayar. Masih ada sisa beberapa dollar di dompetnya. Cukuplah sebagai pegangan hingga payday nanti. Tidak ada telepon dari supir itu berarti aman.
Kaki mereka melangkah riang menuju tempat parkir dimana mobil sudah menunggu. Sepi. berulang kali mengetuk pintu kaca tapi tak ada orang di dalam. Sepuluh menit mereka menunggu. Maid menekan sebuah nomor, terhubung tapi tak diangkat. Kemana supir? Biasanya jika mengantar dia tidak akan berkeliaran. Apa mungkin keluar membeli rokok satau minuman karena cuaca cukup terik?
"Permisi Nona." Sebuah suara mengagetkan mereka. Tampak seorang lelaki tampan dengan tampilan rapi menyapa.
"Ya?" tanya Tiffany dengan nada curiga. Dia tidak kenal siapa pun disini, wajar jika berhati-hati.
"Bisa tunjukkan aku jalan menuju ke arah ini?" Dia menunjukkan sebuah gambar di ponsel.
"Kami tidak tahu," jawab maid itu cepat.
"Bukankah ada GPS dan petunjuk arah jika kau tersesat, Tuan?" kata Tiffany pintar.
Lelaki itu tersenyum. Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depan mereka.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi jika kalian tidak bisa memberi tahu," katanya tenang.
Tiffany dan maid saling berpandangan kemudian berbalik menghadap mobil menunggu supir datang, saat kemudian tangannya ditarik paksa masuk ke dalam mobil itu.
Maid itu berteriak minta tolong, namun tubuhnya terjengkang saat didorong dengan keras. Mobil melaju begitu saja. Dia berjalan tertatih merangkak mencari tempat untuk berlindung. Ponsel di sakunya terlempar. Kakinya berdarah karena luka. Tubuhnya sakit karena membentur aspal.
Tak lama supir pun datang.
"Apa yang terjadi kepadamu?" Lelaki separuh baya yang telah bekerja bertahun-tahun dengan keluarag Anderson itu tampak panik dan melempar kaleng minuman bersoda, yang masih ada isinya itu ke jalan. Dia segera membantu maid itu berdiri. Untunglah bahan belanjaan yang mereka letakkan di belakang mobil aman tak tersentuh.
"Se-se-orang men-do-rongku," ucapnya terbata. Tangannya mengibaskan gaun yang penuh dengan pasir dan mengusap lembut kakinya yang lebam karena luka.
"Mana Nona Tiffany?" tanya supir itu dengan panik karena tak mendapatkan orang yang dimaksud berada di situ.
Maid itu menatap supir dengan gamang. Bulir air mata menetes di pipinya. Lalu dia berkata. "Tiffany diculik. Aku tak bisa berbuat apa-apa." Lalu dia tertunduk lemas.