My Mom

1005 Kata
"Tidurlah. Aku tak akan mengganggumu," kata Kenhart saat melihat wajah Tiffany yang berubah ketika dia menyusulnya ke tempat tidur. "Tapi, Tuan ..." "Apa yang kau pikirkan, Gadis kecil?" Kenhart meletakkan sebuah bantal di antara mereka. Sengaja, agar pikiran buruk gadis itu tentangnya berubah. Sekalipun itu memang benar. Lelaki mana yang tidak akan tergoda jika keadaannya begini? Ada buah matang yang ranum dan rasanya lezat yang tersaji di depan mata, tentu saja membuat semua orang ingin memetik, termasuk dia. "Aku tak ingin kesucianku ternoda." Suara Tiffany setengah mengancam. "Tidurlah atau aku akan berbuat seperti apa yang kau katakan. Harusnya kau berpikiran baik setelah aku mengobati lukamu," ucapnya setengah sebal. Kenhart merebahkan dirinya di kasur, meluruskan pinggang, kemudian melipat tangan di belakang kepala. Matanya mulai terpejam. "Tuan ..." lirih gadis itu memanggil. Kenhart membuka mata. Ada apa lagi ini? "Aku tak bisa tertidur jika lampunya menyala," ucap gadis itu seraya menunjuk ke arah lampu ruangan. Tanpa menjawab Kenhart menekan tombol saklar di dinding. Dalam sekejap seketika ruangan menjadi gelap. Hanya ada cahaya remang-remang dari lampu tidur. "Terima kasih," ucap Tiffany pelan. Lalu dia membalik badan memunggungi lelaki itu. Matanya sulit terpejam sejak tadi. Jadi, dia memutuskan untuk menghitung domba hingga hitungan ke dua ratus sepuluh. Tak berapa lama, diapun terlelap. Sejuknya hawa pendingin ruangan dan kasur yang empuk membuat Tiffany terlena. Kenhart sendiri dengan gampangnya memejamkan mata. *** Dering telepon membangunkan tidur Kenhart. Dalam keadaan setengah sadar dia meraih gagangnya. Saat terhubung, suara seorang wanita yang sudah sangat dia hafal terdengar di seberang sana. "Di mana kau sembunyikan keponakanku, Jagoan?" Suara ibunya dari balik telepon membuat lelaki itu malas. Akan ada banyak pertanyaan setelah ini. Marry bisa berubah menjadi singa betina jika sedang marah. "Dia sedang tertidur, Mom. Dan ini tengah malam," ucapnya malas. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di head board tempat tidur, menguap beberapa kali dan mengacak rambutnya. "Aku terlupa menanyakannya kepadamu. Aku sibuk seharian ini. Apa dia baik-baik saja?" tanya Marry. "Tentu saja. Kau harus percaya kepadaku," jawabnya. Marry mengernyitkan dahi. Rasanya dia tak percaya dengan apa yang baru saja putranya ucapkan. "Apa yang kau lakukan padanya, Ken? Kudengar dia terluka." Wanita itu kembali bertanya dengan nada penuh selidik. Marry tahu semua tingkah laku para lelaki di rumah ini, termasuk suaminya. "Aku hanya memanggil dokter dan mengobatinya," jawabnya jujur. Memang sulit sekali melakukan kebohongan jika berhubungan dengan Marry. Dia akan segera tahu. Jadi lebih baik mengaku saja agar ceritanya tidak jadi panjang. Siapa yang tahan mendengarkan omelan sepanjang hari, sekalipun itu keluar dari mulut ibumu sendiri? "Salah satu maid berkata dia terjatuh dan berdarah. Lalu kau membawanya ke kamarmu tanpa izinku. Kau tahu, aku mencurigai sesuatu," ucap Marry dengan nada mengancam. "Aku tak berbuat apa-apa, Mom. Berhentilah menuduh." Suaranya melemah. Sejak dulu, ibunya terlalu posesif. Berbeda perlakuan dengan saudaranya yang lain. Di seberang sana, Marry menarik napas panjang. Dia sudah bisa membaca keinginan putranya yang satu ini. Sejak pertama kali Tiffany datang dan menyajikan sarapan, semua mata tertuju pada gadis itu. Hanya saja, ada sesuatu yang berbeda di mata putra sulungnya. Kenhart terlihat berbinar. Itu belum pernah dia temukan saat putranya itu bersama wanita lain. Dia tahu, sejak memutuskan untuk membawa putri bungsu sepupunya itu, salah satu bujang Anderson pasti akan menyukainya. Marry pikir si bungsu Raymond yang akan tertarik karena mereka seumuran. Tak menyangka jika itu si sulung. Marry juga menceritakan itu kepada Raymond, karena sempat berniat menjodohkan mereka. Rasanya tak pantas jika Kenhart yang berusia matang menyukai seorang gadis muda seumuran adiknya. Marry pikir, Kenhart akan menyukai wanita-wanita dewasa seperti beberapa teman kencannya. "Kembalikan dia malam ini, Ken. Aku tak mau kau berbuat sesuatu saat dia tertidur," lirih Marry. Dia mencoba membujuk. Putranya yang satu ini sedikit keras kepala. Apa yang dia inginkan harus dituruti. "Kami hanya tertidur biasa, Mom. Tiffany belum bisa berjalan. Kakinya bengkak. Tapi aku sudah mengobatinya," jawab lelaki itu sopan. "Aku akan mengembalikannya besok pagi," lanjutnya. "Kau menyukainya?" tanya Marry blak-blakan. Dia harus memastikan agar tidak salah menduga. Begitu kata iya terucap dari bibir Kenhart, wanita itu kembali menarik napas panjang. "Tolong biarkan dia di sini sampai besok pagi. Pakaiannya masih utuh. Aku tak mengizinkan tanganku menyentuh apapun. Aku hanya ingin dekat dengannya," pinta lelaki itu kepada ibunya. Marry memutuskan panggilan setelah mendengarkan penjelasan putranya. Mata Kenhart beralih melihat sosok mungil yang sedang terlelap dari balik selimut. Ah, andaikan saja dia boleh menyentuhnya. Tangannya bergerak mengelus anak rambut yang terjuntai di kening. Tiffany begitu manis saat kedua kelopak matanya tertutup. Ingin rasanya dia menarik selimut itu dan .... Kenhart segera bangkit dari tempat tidur. Panggilan tadi membuatnya terbangun dan belum bisa membuat matanya terpejam kembali. Dia berjalan mendekati lemari pendingin, membukanya pelan agar tak terlalu menimbulkan suara, memeriksa isinya. Ada beberapa jenis buah-buahan dan dia sedang tak berselera. Matanya turun ke bawah, Ada berbotol-botol minuman kaleng kegemarannya. Juga snack yang terbuat dari kulit ikan salmon yang sedang disukai warga kota ini. Dia meminta para maid menyediakannya. Sepertinya ini enak. Kenhart mengambil sekaleng beer merek ternama dan membuka bungkus snack itu. Mencicipi sedikit rasanya yang ternyata cukup enak di lidah. Tangannya mengambil ponsel dan membuka akun media sosial. Sepi postingan karena dia jarang membuat status apapun disitu. Akun itu dibuat karena formalitas. Kenhart tak perlu memamerkan segala macam kekayaan keluarga mereka. Semua orang di kota ini juga sudah tahu. Untuk akun kantor pengacara, ada staf khusus yang menangani. Dia malas jika harus berbalas pesan dengan siapapun. Pekerjaan yang cukup sibuk membuatnya tak punya banyak waktu bermain drama di dunia maya. Hanya saat liburan ke suatu tempat dia mengunggah beberapa foto. Itupun sesekali saat mood-nya sedang baik. Selebihnya, hanya tersimpan di galeri ponsel. Matanya kembali menatap ke arah tempat tidur dimana Tiffany tergeletak dengan dengkur halus yang terdengar. Dalam benaknya berpikir, kapan dia bisa menyentuhnya dengan bebas Apakah harus mengikat janji suci dulu? Tentu saja, gadis desa seperti Tiffany pasti menginginkan hal itu. Tak mau berpikir banyak, Kenhart segera menghabiskan camilannya malam ini. Langkahnya pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan mulut. Kenhart kembali ke atas tempat tidur dan berbaring dengan santai. Tangannya melingkar di pinggang ramping milik Tiffany. Lalu matanya terpejam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN