"Aaa!"
Suara teriakan membangunkan tidur lelap Kenhart. Kelopak matanya terbuka dan mendapati Tiffany sedang menunjuk ke arah wajahnya sambil memegang selimut dengan erat.
Apakah ini seperti kasus pemerkosaan dimana sang korban diberi obat tidur, kemudian paginya tersadar bahwa kesuciannya terenggut?
Sungguh menggelikan.
"Apa yang kau lakukan padaku, Tuan?" tuduhnya dengan wajah garang.
Kenhart tersentak. Bukankah mereka hanya tidur bersama. Benar-benar tertidur dan tak melakukan apapun.
Gadis itu sedang terluka, bagaimana mungkin dia melakukan itu?
Kenhart memang pemangsa, tapi bukan pemaksa. Mungkin si cantik ini mengalami amnesia dalam semalam.
"Apa kakimu sudah sembuh?"
Kenhart bertanya dengan kepala yang masih terasa berat, mengabaikan pertanyaan tadi.
Setelah kesalah pahaman ini berakhir, apakah dia boleh tidur kembali?
Tiffany tersadar dan membuka selimut. Benar, ada balutan di kaki, lalu teringat apa yang terjadi kemarin. Seketika rasa malu menjalar di wajahnya, karena mengira Kenhart telah berbuat yang tidak-tidak.
Bantal itu masih ada di tengah sebagai pembatas. Itu berarti, tidak terjadi apapun tadi malam.
"Maaf, aku telah menuduhmu, Tuan," ucapnya lirih.
Tiffany berpura-pura melipat selimut itu dan merapikan tempat tidur. Lalu merapikan rambutnya dengan ujung jari. Pastilah dia terlihat kumal karena baru bangun tidur.
Kenhart seketika tergelak. Gadis di hadapannya ini benar-benar lucu dan menggemaskan. Andaikan boleh, tentu saja dia sudah menarik dan memeluknya dengan erat. Lalu melakukan semua yang kaum adam inginkan dari si hawa yang molek seperti ini.
Lagi, Kenhart mengabaikan ucapan itu dan berjalan menuju kamar mandi. Dia ingin membersihkan diri pagi-pagi. Sekalipun ini hari libur, sepertinya dia harus tetap kelihatan segar. Apalagi ada Tiffany di sini.
"Tunggu, Tuan. Biarkan aku masuk duluan." Suara Tiffany menghentikan langkahnya.
Gadis itu terlihat gelisah di tempat tidur. Apa sebaiknya Kenhart menawarkan sesuatu yang menyenangkan untuk mereka? Mandi bersama misalnya.
Tentu saja idenya akan ditolak. Jangan bermimpi kau, Anderson.
Kenhart membalik badan. Mungkin mereka bisa berbagi tempat. Dia menggosok gigi di wastafel, sementara Tiffany mandi. Namun, bagaimana cara gadis itu mandi jika lututnya masih sakit?
Bukankah luka yang belum mengering jika terkena air akan terbuka lagi?
Tiffany berusaha bangun dan berjalan pelan, nyeri dan harus terpincang saat menggerakkan tungkainya. Dia hampir terjatuh, saat dengan cepat Kenhart menangkap tubuhnya dan membantu berjalan.
Mereka terlihat romantis, seperti sepasang pengantin yang baru saja menghabiskan malam pertama.
Kenhart membantu membukakan pintu. Mata Tiffany terbelalak untuk yang kesekian kalinya, ketika melihat isi di baliknya.
Ada dua ruangan bersekat dengan dinding kaca. Sekilas terlihat seperti tempat khusus menyimpan pakaian. Di sebelahnya barulah kamar mandi yang cukup luas.
Pantas, dia hanya melihat sebuah lemari kecil di kamar. Sepertinya semua pakaian milik tuannya ditempatkan di sini.
"Kau! Masuk ke sebelah sana. Mandi dan tutup tirainya. Aku akan memakai wastafel," titahnya. Kenhart langsung mengambil sikat gigi dan hendak membersihkan mulut.
Tiffany tampak ragu lalu berkata. "Tuan tidak akan mengintip, bukan?"
Mata Kenhart terbelalak. Lama-lama dia bisa gila jika selalu dicurigai hal yang sama.
Atau, apa sebaiknya dia benar-benar melakukan yang ada dipikiran gadis itu?
Bukankah itu menyenangkan?
"Apa kau mau, di saat lututmu luka ada seseorang lelaki yang menodaimu, Nona?" Matanya mendelik.
Kali ini Kali ini Kenhart berjalan mendekati Tiffany. Lupakan aroma mulutnya yang mungkin tercium tidak enak saat bangun tidur. Ucapan si polos ini membuatnya geram.
"Aku mau mandi saja sekarang."
Tiffany membuka tirai yang menyekat ruangan itu, lalu menutup pintu kaca. Dia membuka pakaian dan mulai membersihkan diri. Ada peralatan mandi lengkap dengan handuk di bagian atas.
Tangannya bergerak memutar keran. Airnya tidak mengalir. Lalu bagaimana dia mau mandi? Jika meminta tolong kepada Kenhart itu tidak mungkin. Tubuhnya hanya berbalut handuk. Bisa saja lelaki itu melakukan hal tak senonoh.
Entah kenapa bayangan tentang para bujangan Anderson yang suka bermain-main dengan wanita selalu melintas. Tiffany tidak mau menjadi salah satu korban mereka.
Kemarin, Tiffany sempat melihat pandangan aneh dari dokter wanita bernama Helena itu. Pastilah dia salah satu pacar Kenhart. Mereka tampak akrab dan mesra. Itu terlihat dari gesture tubuhnya.
Tiffany memposisikan dirinya duduk, kemudian melihat ke arah kaki. Ini tidak boleh basah. Jadi dia harus berhati-hati jika menyiram. Tapi, airnya saja tidak ada dan ini membingungkan.
"Apa kau sudah selesai? Lama sekali." Kenhart menggerutu. Tubuhnya sudah gatal dan ingin berendam juga.
Tiffany terdiam. Harus menjawab apa, diapun tak tahu.
"Tif. Apa kau pingsan di dalam sana?" tanya Kenhart penasaran dan mendekat ke arah tirai. Jika kain itu dibuka, masih ada pintu kaca yang buram, jadi dia tidak akan melihat apapun di sana.
"Ken, aku tidak bisa membukanya," kata gadis itu setengah berteriak.
"Apa yang tidak bisa?" Lelaki itu menggelengkan kepala.
Sepertinya dia memang harus bergabung di dalam. Gadis itu tentu saja tidak mengerti cara menggunakan kamar mandi dengan design seperti ini.
Milik maid hanya menggunakan keran air biasa yang diputar dan langsung mengucurkan air. Itu juga hanya ada dua dan dipakai bersama-sama.
"Biarkan aku masuk, Tif. Pakailah handuk agar aku tak melihatmu," ucapnya. Tirai sudah dibuka dan kini dia berada tepat di depan pintu.
Lama menimbang akhirnya Tiffany menyerah. Kepalanya muncul sedikit sedangkan tubuhnya masih berlindung.
Kenhart tersenyum senang saat melihat sebagian kulit mulus itu. Dia sudah terbiasa melihat banyak wanita.
Mengapa kali ini rasanya berbeda?
Sekalipun tertutup handuk, lekuk gadis itu terlihat indah dan sempurna, membuat pikirannya liar melayang entah kemana.
"Itu." Tiffany menunjuk. Ada beberapa keran yang membuatnya semakin kebingungan, yang mana diputar, digeser, atau ditarik. Entahlah.
"Biar aku saja."
Dengan cepat Kenhart memutar dan mengucurlah air hangat ke dalam bath-up. Lalu dia mengisi sabun yang mengeluarkan banyak busa. Bau harum seketika memenuhi ruangan itu.
Tiffany terpekik kegirangan. Ini terlihat seperti film di televisi. Dimana seorang gadis cantik berendam di dalam busa sabun melimpah juga bunga-bunga.
Ah, ternyata memang nyaman sekali menjadi orang kaya.
"Mandilah."
Kenhart melipat tangan di d**a. Tersenyum geli melihat kelakuan yang norak itu. Bagaimana dia bisa menyukai gadis seperti ini?
Jika Tiffany dijadikan istri, tentu saja dia harus membayar seorang untuk mengajarinya menjadi seorang wanita berkelas.
Istri? Pikiran macam apa ini, Ken.
"Kau masih di situ, Tuan."
"Apa kau keberatan jika aku melihat?" tanya Kenhart sambil mengulum senyum licik. Rasanya senang sekali menggoda gadis ini.
Tiffany terdiam. Memikirkan apa yang harus dia ucapkan untuk mengusir lelaki ini. Salahnya juga, harusnya tadi tak perlu meminta bantuan. Biarlah sedikit lama, asal sabar pasti bisa menaklukan keran-keran itu.
"Kalau begitu kau saja yang mandi. Aku akan kembali ke kamar." Tiffany hendak melangkah saat tubuhnya ditahan oleh tangan bssar itu.
"Bagaimana jika kita mandi bersama?"
Kenhart mengedipkan mata, yang seketika membuat Tiffany kembali ketakutan.