Player

1021 Kata
Tiffany melirik berkali-kali, memastikan saat dia berganti pakaian dan mata elang itu tak mengintipnya. Kenhart sendiri tampak cuek saat memasang kaus dan short pants, membuat wajah gadis itu merona menahan malu. Ya Tuhan, mereka seperti sepasang suami istri atau kekasih yang tinggal bersama. "Aku akan kembali, Tuan. Aku harus mengurus grandma. Bibi bisa marah nanti," katanya setelah menyisir rambut dan menyemprotkan sedikit parfum. Aroma khas lelaki tercium dari tubuhnya. Tak mengapa, daripada bau asam karena tak berganti pakaian seharian. "Ini sudah terlambat untuk sarapan Tif. Mom pasti akan marah," jelasnya. "Tapi, kau tak perlu takut, dia sayang kepadaku." Lelaki itu menatapnya intens. "Aku akan bicara kepada kepala dapur, paling tidak ada roti dingin segelas s**u cokelat." Gadis itu balas menatap. Kali ini dia harus tegas. Jika tidak, mungkin selamanya dia akan tinggal di kamar ini. "Aku bisa saja memesankan makanan untuk sarapan kita." Dia masih berusaha menahan. Tidur bersama wanita ini sungguh menyenagkan. Sekalipun dia hanya bisa memeluk dari belakang. "Jangan menahanku, Tuan. Aku tidak mau diusir karena dituduh menggodamu," katanya. "Jika itu terjadi, maka kita akan dibawa ke depan altar," ucap Kenhart santai. Dia berjalan mendekat dan menarik gadis itu dalam sekali hentakan. "Aku menyukaimu, Tif," bisik Kenhart tanpa ragu. Tangannya mulai bergerak, mengusap pipi dan bermain di bibir mungil itu. Tiffany berusaha mengelak, namun ujung dagunya ditahan. Kini, mata mereka bertautan. Deru napas Kenhart yang menggebu menyentuh pori-pori kulitnya. Lelaki itu mendekat sehingga kedua hidung mereka bersentuhan. Sedikit saja dia memiringkan wajah, maka bisa dipastikan Tiffany akan menjadi miliknya. Bibir gadis itu bergetar, membuat putra sulung Anderson itu tak sabar ingin mencicipi. Dengan lembut Kenhart menyentuh dan membelai. Ini terasa manis, dan dia ... suka. Lelaki itu seperti mendapatkan suntikan energi sekalipun perutnya belum terisi. Aroma Tiffany seperti uap kopi yang disesapnya setiap pagi. Harum dan memabukkan. Sungguh, dia menggilai wanita ini. Rengkuhan Kenhart semakin erat. Sementara itu tangannya mulai bekerja. Tubuh mungil Tiffany meronta, merasa tak nyaman dengan perlakuan tuannya. Sungguh, Kenhart telah berbuat lancang dengan mencuri sentuhan pertamanya. Melihat itu Kenhart semakin semakin berkuasa. Dia tidak ingin ini berakhir begitu cepat. Naluri kelelakiannya bangkit. Ingin menaklukan dan mendapatkan. Kelinci ini begitu lezat, dan tempat tidur ada di sebelah sana. Tinggal mengangkatnya ke dalam gendongan dan menyelesaikan semua. "Aaaa!" Tiffany berteriak kesakitan saat lelaki itu tak sengaja menyenggol lututnya. Krnhart terlalu bersemangat, sehingga lupa pada kondisi kaki yang belum sepenuhnya sembuh. Suasanya yang tadinya panas, kini berubah menjadi isak tangis. Gadis itu kembali merasakan nyeri. "Bawa aku kembali. Kau jahat kepadaku, Tuan," isaknya. Pupus harapan. Akhirnya dengan terpaksa dia menuntun gadis itu berjalan ke luar. Lagi pula ini waktunya sarapan. Marry akan pasti akan bertanya mengapa mereka belum muncul. Untunglah sejak tadi belum ada panggilan yang berdering. Ini hari libur, dan dia tidak mau diganggu sama sekali. Sepenting apapun yang ingin disampaikan, mereka hanya boleh mengirimkan pesan. "Hei, kakakku membawa seorang gadis ke kamarnya." Hampir saja Kenhart mengumpat ketika melihat Richard yang keluar bersamaan dengan mereka. Sepertinya, sang adik mempunyai tujuan yang sama, menuju ruang makan. Matanya melotot. Richard tertawa geli melihat reaksi kakaknya itu. Namun, tiba-tiba dia tersadar akan sesuatu. "Tiffany?" Mata si tengah Anderson itu terbelalak melihat siapa yang sedang bersama kakaknya. "Tuan Rich," sapa gadis itu. Tangannya masih memegang bahu Kenhart dengan kuat. Kakinya pincang saat berjalan. "Apa yang terjadi kepada kakimu?" tanya Richard penasaran. Matanya melirik gadis itu dari atas hingga ke bawah. "Dia terjatuh dan aku menolongnya." Kali ini Kenhart yang menjawab. Dia tak mau berlama-lama berbicara dengan adiknya. Akan ada banyak pertanyaan jika dia meladeni ucapan Richard. Untunglah Raymond tak nampak. Saat melewati kamarnya tadi, terlihat sepi. Mungkin masih tertidur atau sudah duduk rapi di meja makan. Adik bungsunya itu paling penurut. Melihat itu, tanpa diminta, tiba-tiba saja Richard meraih tubuh Tiffany dari pelukan kakaknya. "Bukan begitu caranya memeperlakukan wanita, Ken." Dia langsung membawa Tiffany menuju rumah inti sambil berjalan menggendongnya. Membuat gadis itu merona dalam sekejap. Jantung gadis itu berdebar kencang melihat ketampanan putra kedua Andersons ini. Kenhart sendiri hanya terpana tanpa bisa melakukan apapun. Dengan wajah cemberut, dia berjalan di belakang mereka. Tidak mungkin dia merebut gadis itu. Bisa terjadi kericuhan dan akan menimbulkan banyak pertanyaan dari yang lain. Dalam hati mengumpat, mengapa adiknya selalu beruntung. Mungkin, diam-diam dia merasa rendah diri. "Sampai disini." Richard menurunkan Tiffany sebelum pintu masuk. Dia tak mau menjadi bahan omelan ibunya. Sementara itu, Kenhart sudah mendahului mereka masuk. Dia kesal melihat mata Tiffany yang berbinar saat melihat wajah adiknya. "Terima kasih, Tuan Rich," ucapnya pelan. Mencoba menyeimbangkan badan. Gara-gara tersenggol tadi, lukanya kini terasa nyeri kembali. "Tif..." "Ya?" "Apa yang kau lakukan di kamar Ken?" tanya lelaki itu. Kedua bola matanya menatap tajam. "Tidak ada. Tuan Ken hanya membantu mengobati kakiku dan memanggilkan dokter," jawabnya jujur. "Kami para pemangsa. Berhati-hatilah," ucapnya sebelum meninggalkan gadis itu dan masuk ke dalam. Gadis itu berbelok ke pintu samping. Sesampainya di dapur semua orang bertanya, mencari tahu apa yang dilakukannya bersama tuan muda mereka. Gadis mungil itu menceritakan sesuai dengan apa yang terjadi. Walaupun ada bisik-bisik tak nyaman terdengar, tapi dia mengabaikan. "Kau tidur dengan tuan muda Ken, Tif?" bisik maid yang menemaninya ke taman waktu itu. Mereka cukup dekat, karena seumuran. "Aku hanya menumpang tidur di kamarnya." Dia mengambil roti, duduk di kursi dan mulai makan. Tak mungkin mengatakan bahwa Kenhart telah lancang menyentuhnya. "Nyonya tak mengatakan apapun saat tadi aku mengantarkan sarapan mereka. Hanya grandma yang menanyakan dimana keberadaanmu." Berdua mereka duduk menikmati sarapan yang terlambat. Setelah tuan rumah selesai makan, barulah mereka mendapatkan bagian. Bisa saja pagi-pagi mengambil roti tanpa sepengetahuan kepala dapur jika perut sudah terasa perih. Itu tidak dilarang. Ada banyak stok makanan di dapur dan mereka bebas. Hanya saja, makanan sisa hidangan tuan mereka rasanya lebih lezat karena diberi bumbu lengkap. "Sepertinya Tuan Kenhart menyukaimu." "Aku tidak tahu. Tak mau bermimpi lalu terjatuh." "Kalian mempunyai hubungan darah. Bisa saja nyonya menjodohkan. Kudengar, para wanita yang dikenalkan belum ada yang direstui." Pagi ini mereka bergosip. Untunglah pekerjaan sudah selesai, jadi sedikit bisa bersantai. "Kumohon jangan bicara itu lagi. Kakiku masih sakit dan ... ya ampun! Obatku tertinggal di kamarnya." Gadis itu menepuk dahi. Lalu bagaimana ini? Apa dia harus kembali ke kamar itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN