Answer My Question

1102 Kata
Satu keluarga itu makan dalam diam. Kali ini Marry tak meributkan anak-anaknya yang datang terlambat. Dia tahu mereka sehabis berpesta kemarin di kolam renang. Wanita itu hanya melihat sekilas dari kejauhan. Tak mau mencampuri urusan mereka. Semakin lama, sepertinya semakin tidak perduli dengan apapun yang terjadi. Mungkin hatinya telah membeku saat suaminya berpaling hati. "Kudengar kau menangani kasus korupsi." Mata Jack terarah ke wajah putra sulungnya. "Belum aku terima, Dad," jawab Kenhart sambil mengoles selai cokelat ke rotinya. Dia makan dengan lahap. Entah itu sudah yang ke berapa lembar masuk ke dalam perut. "Hati-hati. Berhubungan dengan pejabat pemerintah bisa mencelakakan," tegur Jack. Dia sendiri sudah tahu seluk beluknya. Karena itulah, harusnya Kenhart bekerja dengannya. Jack tidak mau anaknya terlibat kasus atau skandal apapun. Namun, dia juga tak bisa memaksa. Secara diam-diam dia memantau, memastikan semua baik-baik sesuai harapan. "Kau sendiri bagaimana, Ray? Apa kuliahmu lancar?" Jack berpaling kepada putra bungsunya. Matanya mendelik saat melihat Raymond makan dengan sembarangan. Selai berceceran di tangannya, dan langsung dijilat begitu saja. Sungguh menjijikkan. Putra bungsunya itu memang kadang suka bertingkah aneh, sekalipun untuk beberapa hal lebih penurut di banding dengan yang lain. "Tentu saja lancar. Nilaiku selalu memuaskan. Jika beruntung dalam beberapa semester ke depan, aku akan mengikuti program pertukaran pelajar ke negara lain," ucapnya. Semua orang tersentak. Tak menyangka Raymond ternyata berprestasi. "Mengapa kau tidak menceritakannya kepadaku?" tanya Marry. Terkadang dia merasa seorang diri di rumah ini. Ibu mertua yang sudah tua, tak mungkin selalu diajak bercerita. Suami yang sibuk bekerja dan bersenang-senang diluar dan hampir tak pernah memerdulikannya. JUga anak-anak yang sibuk dengan pekerjaan. Dulu suasana rumah ini begitu hangat. Ketika anak-anak masih kecil dan membutuhkannya. Dia seperti ratu yang selalu dicari dan dibutuhkan. Kini, semua telah berubah. Mungkin inilah takdir seorang wanita malang sepertinya. Berlimpah harta namun kekurangan cinta. Jika boleh memilih, dia rela menukar semua yang ada demi kehangatan yang dulu pernah ada. "Itu masih wacana, Mom. Nanti jika aku benar mendapatkannya, aku akan mengajakmu serta," ucap Raymond, yang membuat rasa haru menyusup di bilik hati Marry. "Kau tak mengajak kami sekalian?" tanya Kenhart. "Tentu saja. Aku dengar di negara itu gadisnya cantik-cantik. Kalian pasti senang," ucap Raymond santai. Lalu seketika semua terdiam. Kenhart memberi kode kepada adiknya agar tak menyinggung wanita lain di saat makan. Sekalipun Marry tahu kelakuan mereka, mereka tetap menjaga perasaan. "Di mana Tiffany? Biasanya dia yang menyiapkan sarapan," tanya Jack tiba-tiba. Kenhart tersedak. Kopinya hampir saja menyembur. Melihat itu Richard tersenyum geli. "Tiffany terluka. Kakinya bengkak karena terjatuh di taman bunga. Dia beristirahat sementara waktu." jawab Marry cepat. Dia tidak akan menceritakan apa yang terjadi antara keponakan dan putra sulungnya, karena hanya mendengar sekilas. Sepertinya setelah ini Kenhart harus menjawab semua pertanyannya. "Jaga dia baik-baik. Jangan sampai terjadi sesuatu hal. Bagaimanpun, dia masih keluargamu." jack menatap istrinya tajam. "Tentu saja. Dia sangat cantik. Aku tidak rela jika dia diganggu orang lain. Apalagi para buaya yang mengincar mangsa." Mata Marry menatap satu persatu putranya dengan tajam. Itu sebagai tanda, bahwa jangan ada satupun yang berani berbuat kurang ajar kepada Tiffany. Raymond terdiam. Harusnya dia berhak mendekati gadis itu. Namun melihat Kenhart yang tampaknya menyukai, dia memilih mengalah. Kenhart sendiri berpura-pura mengambil segelas air putih untuk membasahi tenggorokannya. "Aku pergi," ucap Jack setelah menyelesaikan makannya. "Kau mau kemana?" tanya Marry dengan raut wajah kecewa. Dia sudah merelakan suaminya menikah lagi. Berharap dia masih mendapat sedikit perhatian. Namun, semua pupus. Jack sepertinya sudah tak menganggapnya ada. Ranjang mereka dingin, sudah tak ada kehangatan semenjak Jack mengenal wanita itu. "Kau tahu aku pergi kemana," jawabnya santai, lalu melenggan pergi begitusaja. Bagi Jack, istri keduanya lebih berarti dari apapun di banding dengan yang lain. Marry menghentikan makan. Sebelum pergi, dia mengucapkan sesuatu. "Ken. Datanglah ke kamarku. Ada yang ingin aku biacarakan." Kenhart menghela napas panjang. Setelah Marry menghilang terdengarlah tawa dari mulut kedua adiknya. "Berhenti mentertawaiku," ucapnya kesal. Dia membanting sendok di piring. Sejak dulu, kedua adiknya sennag sekali menggoda. Mungkin karena dia terlalu kaku dan sulit diajak bercanda. Hidupnya terlalu serius dan monoton. "Sepertinya kau akan mendapatkan ceramah dari mom karena telah menggoda keponakannya," kata Raymond. "Bukan menggoda, dia membawanya ke kamar," Richard menjawab ucapan adiknya dengan santai. Mata Raymond terbelalak, tak menyangka kakak sulungnya berbuat senekat itu. Kenhart berbeda dengan mereka. Sepertinya dia benar-benar menyukai Tiffany jika sampai berbuat seperti itu. Tapi, mengapa begitu cepat? Apa yang menarik dari seorang gadis desa? Wajahnya saja bahkan pucat karena tak memakai pemerah bibir. "Diam, atau pisau roti ini aku lempar ke jantungmu," ucap Kenhart keras. Dia tidak suka dengan ucapan Richard. Apalagi rasa kesal karena adiknya itu merebut Tiffany dan menggendongnya saat masuk ke dalam, belum juga hilang. "Jangan terlalu serius, Ken. Bersantailah." Richard memangdangnya dengan rasa kasihan. "Dan jangan mengolokku, Rich," balasnya. "Kau pasti marah karena aku menggendongnya tadi," kata Richard. Kali ini dia serius. Sepertinya Kenhart benar-benar menyukai seupupu mereka. Ada kecemburuan dari nada suara kakaknya. "Hei, kalian kenapa? Apa aku ketinggalan sesuatu?" tanya Raymond kebingungan. Tak biasanya mereka seperti ini. Sepertinya ini serius. "Aku akan menemui Mom. Kau bergosiplah dengan dia," Kenhart meletakkan kain lap setelah membersihkan mulutnya. Kaki jenjangnya melangkah menuju kamar Marry. Sementara itu dua Andersons yang lain sibuk bercerita tentang tadi. Mereka sepakat untuk tidak akan menganggu Tiffany demi Kenhart. Kadang, cinta itu bisa datang dengan cepat tanpa kita ketahui atau rencanakan. *** Lelaki itu mengetuk pintu sebelum masuk, sekalipun kamar itu pernah menjadi tempat tidurnya saat kecil. Marry mematikan telavisi dan menegakkan punggung saat melihat putranya datang. "Duduk di dekatku, Ken. Kita sudah lama tak saling bicara." Dia menepuk sofa empuk berwarna marun tempatnya duduk. "Apa yang ingin kau tanyakan, Mom?" tanya Kenhart dengan malas. Dia menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Entah mengapa kali ini, dia merasa lelah. "Kau menyukai dia?" tanya Marry tanpa basa-basi. Kenhart tak mau menjawab. Dia masih tetap memejamkan mata, rasanya ingin tertidur kembali. "Tadinya aku ingin menjodohkan Tiffany dengan Raymond. Mereka seumuran." Mata Kenhart terbelalak saat mendengar itu. "Tiffany gadis baik. Keluarga kita perlu seorang wanita terhormat untuk melanjutkan keturunan. Bukan wanita penghibur yang biasa kalian bayar," katanya ketus. Sudah saatnya dia bicara. Dia ingin menghentikan semua kebiasaan buruk lelaki Anderson di rumah ini, terkecuali suaminya. Marry bukanlah tipikal wanita yang gila harta dan martabat. Ada banyak gadis keturunan pejabat dan bangsawan yang mengicar ketiga putranya. Namun, dia menolak karena tahu pergaulan mereka. Harapnya, jika para putranya menikah dengan wanita baok-baik, kegilaan yang terjadi di rumah ini akan berkahir. "Ya, aku menyukainya," jawab Kenhart. "Tapi aku tak tahu apa dia juga menyukaiku. Matanya berbinar saat melihat Richard," lanjutnya dengan nada kesal. Marry tertawa. Sepertinya dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan putranya ini. Baru kali ini Kenhart resah karena seorang wanita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN