Bunyi alarm yang memekakkan telinga membangunkan Kenhart dari tidur lelapnya. Dia meraih benda itu dengan malas kemudian mematikannya. Matanya melirik ke arah jarum jam dan terkejut saat mendapati angka sembilan tertera di sana. Itu berarti dia terlambat bangun dan sarapan di meja sudah tidak ada.
Ini hari kerja. Akan ada banyak laporan dan kasus baru yang masuk untuk dibela. Ditambah dengan keinginan Christian untuk menangani para pejabat yang korupsi, sudah pasti beban pikirannya akan bertambah.
Di kehidupan real para milyarder, ada banyak urusan yang harus diselesaikan. Dengan beban pekerjaan dan permasalahan hidup yang menumpuk, pelariannya sudah bisa ditebak kemana. Klub malam, wanita, dan minuman keras. Semua lelaki Anderson melakukan itu, tak terkecuali ayah mereka.
"Apa perasaanmu sudah lebih baik, Ken?" tanya Marry dengan wajah penuh selidik. Kenhart memang selalu menjadi prioritas utamanya, karena itulah dia lebih perhatian. Bukan berarti dia tidak menyayangi yang lain, hanya saja Kenhart memang berbeda. Mungkin karena putra pertama. Sesuatu yang pertama itu selalu spesial bagi seorang wanita, bukan?
"Apa roti bawang masih ada? Aku berharap ada semangkuk cream soup sebagai temannya. Juga kopi panas." Dia menarik kursi dan melihat seisi meja makan. Benar saja, sudah bersih. Tersisa beberapa macam buah yang ditempatkan dalam keranjang besar, sebotol orange juice dan beberapa batang cokelat. Sepertinya para maid sudah menyimpan sisa makanan di dalam lemari es.
"Akan aku tanyakan Tiffany. Kau tunggu sebentar." Marry berjalan ke belakang.
Mendengar nama pujaan hatinya disebut, mata Kenhart berbinar. Setahunya, kepala pengurus dapur yang paling tahu mengenai letak makanan dan mengatur semuanya.
"Mom ..." panggilnya sebelum Marry benar-benar menghilang.
Wanita itu menoleh dengan kernyitan di dahinya.
"Bolehkan aku sarapan ditemani oleh Tiffany," pintanya, namun menyimpan detak jantung yang berlompatan di d**a.
Wanita itu melambaikan tangan dan berjalan ke dapur bersih yang jaraknya hanya beberapa meter dari ruang makan mereka.
Kenhart dengan sabar menunggu, sembari tangannya meraih ponsel dan mengutak-atiknya. Pagi hari begini, memang kopi panas yang paling cocok menemani. Dia butuh asupan kafein sebagai penyemangat kerja.
Setelah membaca beberapa email masuk, dia mengambil surat kabar hari ini yang terletak di ujung meja. Lipatan kertasnya udah tidak rapi, itu berarti ayahnya sudah membaca duluan. Sudah dipastikan lelaki tua itu akan pergi setelah perut kenyang. Dan dia tahu kemana tujuan Jack jika pagi-pagi berangkat bekerja. Sudah pasti ke rumah sang istri baru kemudian baru ke kantor. Seorang gadis belia seusia adiknya yang paling kecil. Kenhart pernah melihat mereka di sebuah pusat keramaian, dan itu menggelikan.
"Ini sarapanmu, Tuan."
Suara halus seorang wanita menyentaknya. Sepertinya, senyum manis Tiffany juga makanan di tangannya menjadi sarapan yang cukup menyenangkan pagi ini. Lelaki itu mengulum senyum. Sepertinya, kali ini Marry berpihak kepadanya. Para maid di sini jarang diizinkan masuk ke ruang makan jika hanya berdua saja.
"Kemana, Mom?" Dia pura-pura bertanya.
"Bibi kembali ke kamar, Tuan," lirih gadis itu sambil menunduk.
Dia masih merasa asing sekaligus sungkan jika berhadapan langsung dengan para Andersons di rumah ini. Apalagi sejak kejadia kemarin. Jangankan berdua dengan Kenhart, berbicara dengan bibinya sendiri pun, dia malu. Apalagi Tuan Jack. Pamannya itu selalu tampak dingin sehingga membuatnya takut. Juga Richard dan Raymond, semuanya membuat dia merasa tak nyaman. Takut jika salah berucap atau berbuat sehingga diusir dari rumah ini. Hanya grandma yang disukai. Beberapa kali dia diminta menemani wanita tua itu di kamarnya.
"Bagaimana kakimu?"
"Sudah lebih baik."
"Apa kau sudah meminum obat yang aku kirimkan?" Kenhart menitipkan obat Tiffany yang tertinggal di kamarnya kepada salah seorang maid.
Gadis itu mengangguk, kemudian menunduk.
"Duduk, Tif," perintah Kenhart. Menikmati lezatnya sarapan sambil menatap wajah cantik ini, harusnya tidak boleh disia-siakan.
"Tapi, Tuan ..." Mata lentik berwarna hazel itu menatap Kenhart dengan ragu-ragu. Tangannya memilin ujung baju yang dipakainya. Sebuah dress simple selutut berwarna merah muda.
"Duduk dan temani aku makan!" Kali ini suaranya sedikit tegas dan mengintimidasi.
Gadis itu tersentak, lalu dengan cepat bertanya. "Di ma--?"
"Di pangkuanku!"
Kata-kata Tiffany terpotong saat Kenhart memotong ucapannya, kemudian lelaki itu menarik tubuhnya. Kini, dia benar-benar ada di pangkuan lelaki tampan itu. Tubuhnya bergetar. Kenhart sendiri malah tersenyum geli sambil memualai sarapannya. Dia tak perduli sekalipun ada CCTV yang memantau kegiatan mereka saat ini.
Ibunya pasti tertawa menyaksikan perbuatannya. Sungguh memang gila keluarga ini.
"Ini kau yang memasak?" Lelaki itu bertanya sembari mengunyah roti dengan pelan. Sebelah tangannya memeluk pinggang ramping gadis itu. Sebelahnya lagi mencocol roti ke dalam cream soup yang harum dan lezat.
"Bu-bukan, Tuan. Itu ... kepala dapur yang memasak. Aku hanya menghidangkan ini atas permintaan Bibi," ucapnya jujur. Pipi yang merona itu membuat Kenhart menjadi gemas.
Lalu keheningan tercipta beberapa saat. Kenhart asyik menghabiskan makanannya sambil beberapa kali melirik wajah dipangkuannya yang sejak tadi tertunduk malu. Tiffany sendiri hanya bisa pasrah menunggu semua ini selesai sambil merapal doa dalam hati agar sang tuan tak berbuat aneh kepadanya.
"Mengapa kau mau bekerja di sini?" Lelaki itu kembali bertanya setelah semua potong roti dan semangkuk cream soup utu tandas ke dalam perutnya. Kali ini dia meneguk kopinya sedikit demi sedikit. Sengaja, agar banyak waktu yang tercipta bersama gadis ini.
"Aku mencari uang," jawabnya polos.
"Kau tidak melanjutkan kuliah?"
"Kami miskin. Tak punya biaya."
Lelaki itu mengangguk mengerti. Ada banyak orang di luar sana yang tidak mampu. Jangankan untuk membiayai pendidikan, bahakn untuk makan saja mereka kesulitan. Untuk itulah semua kasus penipuan atau korupsi yang melibatkan rakyat miskin tak pernah diterimanya sekalipun menghasilkan uang yang sangat banyak.
"Kau cantik. Carilah pria kaya yang mau menikahimu. Kau bisa memeras harta keluarganya untuk membantu keluarga." Katanya setelah lama terdiam/
"Tidak ada pria kaya yang menyukai gadis miskin dan buruk rupa, Tuan. Itu hanya ada di dongeng Cinderella dan cerita di film. Pada kenyataannya mereka akan memilih wanita sederajat." Tiffany menyambung ucapan lelaki itu. Entah mengapa mereka malah saling bertukar cerita.
"Ada, jika kau mau bersamaku. Dan kita bisa membuat kisah baru dalam suatu cerita," jawab Kenhart begitu saja, lalu tersentak dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Apa dia benar-benar menyukai gadis ini hingga berani mengatakan itu?
Tiffany semakin gelagapan, apalagi ucapan Kenhart tadi sungguh tidak masuk di akal. Dengan cepat dia turun dari pangkuan lelaki itu dan berpamitan. "Tuan, aku harus ke belakang. Ada pekerjaan yang belum selesai."
"Nanti sore, apa kau ada waktu?" Kenhart mencoba menahannya.
"Ada apa?"
"Temani aku," ucapnya dalam sambil menatap itu dengan tajam. Itu berarti dia harus ditemani dan Tiffany tidak boleh menolaknya dengan alasan apapun.
"Kemana?"
Lelaki itu tak menjawab, hanya mengulum senyum ... licik. Dia sudah mengatur rencana, agar gadis ini jatuh cinta kepadanya.