Terpikat Seorang Gadis.

1438 Kata
Pov Justin Sebastian. Aku bersembunyi di balik pakaian yang bergantung berjejer, ketika hampir saja Marco Fernandes melihatku yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Raut wajahnya terlihat jelas sedang celingak-celinguk mencari sesuatu. “Huh, hampir saja,” gumamku lirih, lalu mengintip dari cela pakaian tempatku bersembunyi. Dua anak buahku pun nampak kebingungan dengan tingkah anehku yang seperti ini. Namun, mereka tetap tidak akan berani bertanya kepadaku. “Ada apa, Honey? Apa yang sedang kamu cari?” Terdengar suara gadis di samping Marco begitu lembut dan perhatian. Tanpa sadar, bibirku membentuk lengkungan tipis dengan sorot mataku yang tak mau berpaling dari wajah cantik dan teduhnya gadis itu. “Oh, tidak ada apa-apa, Sayang. Aku hanya merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan kita saja,” sahut Marco dengan gelengan kepala. Filingnya sangat tepat sekali, Marco mencurigai keberadaanku yang memang sedang memperhatikan mereka. Lebih tepatnya, aku sedang memperhatikan gadis cantik di sampingnya. Baru kali ini, daya tarik seorang gadis mampu memikat hatiku dengan begitu mudahnya. Terlihat wajah panik gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti sedang mencari apa yang dikatakan oleh Marco Fernandes. “Di mana, Honey?” “Sudah, lupakan saja, Sayang! Sekarang, apa lagi yang akan kamu beli, huem?” Marco merangkul pundak gadis itu dengan mesra. Tak tahu kenapa, aku sangat tidak rela melihat teman lamaku menyetuh gadis itu. Apalagi ketika teringat dengan apa yang dia lakukan seminggu yang lalu di club milikku dengan gadis yang berbeda. Kedua tangaku mengepal dengan sangat kuat. Wajahku memerah, seakan ingin meledakan api kemarahan. Padahal, tidak sepantasnya aku menjadi seperti ini. Apa yang terjadi denganku, aku pun tidak mengerti. Mereka nampak meninggalkan butik pakaian, beralih ke toko perhiasan. Aku mengikuti mereka sedikit berjarak, agar mereka tidak curiga seperti sebelumnya. Aku dibuat penasaran dengan Marco dan gadis cantik yang berada di sampingnya tersebut. Aku seperti penguntit yang tidak memiliki pekerjaan, mengikuti mereka yang asik berpacaran. Kedua anak buahku pun hanya mengikutiku saja dengan setia apa pun yang aku lakukan. Apa yang mereka lakukan, tak lepas dari pandangan kedua mataku. Namun, aku tidak bisa mendengar percakapan mereka, dengan jarakku yang berada di luar toko perhiasan. Sedang asik menguntit, ponselku memekik panggilan masuk. Aku pun segera melihat siapa yang menghubungiku. “Louis…,” gumamku lirih. “Ada apa, Louis?” “Kamu sedang di mana, Justin? Ada insiden kecil baru saja terjadi di markas.” “Aku akan ke sana.” “Okay.” Aku kembali memasukan ponselku ke dalam saku celana. Kemudian, memberikan perintah kepada salah satu anak buahku untuk mengikuti ke mana pun Marco dan gadis itu pergi. Terutama gadis yang telah membuatku terpikat. Aku ingin menyelidiki sosok gadis itu lewat anak buahku. Latar belakang keluarganya, pekerjaannya, statusnya, dan identitas aslinya. Anak buahku pun mengangguk patuh mengikuti apa yang aku katakan. “Siap, Tuan.” Tak lagi berkata, aku dan satu anak buahku pun bergegas meninggalkan pusat perbelanjaan, untuk kembali ke markas. Aku mempercayakan semuanya kepada anak buahku yang mampu melaksanakan satu perintahku tersebut. *** Di markas. Sesampainya di markas, aku dikejutkan dengan kondisi ruanganku yang sedikit berantakan. Semua anak buahku nampak sibuk. Sementara asisten pribadiku, sedang asik memainkan ponselnya. Aku memperhatikan kegiatan anak buahku yang sedang merapihkan dan membersihkan ruangan kerjaku dengan wajah murka. Kemudian, netraku menatap penuh tanya ke arah asisten pribadiku. “Katakan, siapa yang sudah berbuat onar dan berani mengacak-acak markas kita, Louis?” Louis tersenyum tipis sambil berjalan ke arahku dengan terkekeh lirih. “Hanya orang tidak penting, Justin. Mereka mencarimu hanya ingin meminta jatah dolar yang kita bekukan. Ya, hanya itu saja,” jelasnya santai. “Jorge Martin?!” “Heem…., menurutmu siapa lagi orang yang tidak pernah jera dengan apa yang sudah kita lakukan, Justin?” “Pria tua itu, sudah bosan hidup rupanya.” Aku menggertakan gigi graham dengan kesal. Bosan dengan nama pria tua yang membandel dan selalu berbuat onar di markas besarku. “Tenang, kawan! Aku sudah memberi hadiah p3luru pada kakinya, tadi. Aku pastikan, untuk seminggu ke depan, dia tidak akan berani muncul di hadapan kita untuk berbuat onar lagi.” “Oh, syukurlah,” ucapku tersenyum samar. “Sebenarnya, bisa saja aku memberi hadiah p3luru di dahinya. Tapi, aku masih memberi kesempatan hidup lebih lama untuknya.” “Good job, Louis!” seruku merangkul pundaknya. Hahahaha….. Kami tertawa lepas, diikuti oleh beberapa anak buahku yang berada dalam satu ruangan ini. Aku dan Louis pun berbincang ringan dalam ruangan ini, sambil ditemani beberapa anak buah yang baru selesai menyelesaikan pekerjaan mereka. “Bagaimana kabar, Opah Carlos? Apa beliau masih terus memaksamu untuk menikah?” tanya Louis, tiba-tiba membahas masalah kakekku. “Ya, begitulah,” sahutku tanpa minat. Louis tertawa kecil, sambil mangut-mangut. “Opah Carlos sangat menginginkan cucunya untuk segera menikah. Menurutku, itu hal yang wajar, Justin. Apa kamu tidak ingin melihatnya bahagia, huem?” Aku terdiam sejenak. Memikirkan kata-kata Louis, aku teringat dengan gadis cantik yang bersama teman lamaku di pusat perbelanjaan tadi. Tanpa sadar, bibirku membentuk lengkungan senyuman tipis. “Ck, diajak ngobrol malah bengong. Apa yang sedang kamu pikirkan, Justin?” dengus Louis nampak geleng-geleng kepala melihatku. Aku yang ketahuan melamun oleh Louis, hanya bisa cengengesan sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. “Aku memiliki teman kecil, seorang gadis cantik Amerika, Justin. Bagaimana jika aku kenalin sama kamu? Apa kamu mau mencobanya, huem?” Aku menghentikan tawaku, lalu menoleh ke arah Louis dengan raut wajah tegang. Tidak biasanya Louis memberiku tawaran seperti ini. Aku sampai terkejut dibuatnya. “Namanya, Maria Alexander. Usianya, tiga puluh satu tahun. Dia, gadis yang sangat cantik dan ramah. Dalam waktu dua hari ke depan, dia akan berada di tengah-tengah kita.” Aku tak bisa berkata-kata. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan. Aku tidak mungkin mengatakan kepada Louis, jika aku sedang tertarik dengan seorang gadis yang sedang menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Terlebih lagi, laki-laki itu merupakan teman lamaku sendiri. “Hei…., jawablah! Kenapa kamu diam saja, Justin?” tegur Louis nampak kesal dengan sikapku. “Eh, terserah kamulah, Louis,” sahutku asal saja. Pasalnya, aku belum memiliki alasan yang jelas untuk menolak gadis yang ditawarkan olehnya itu. “Kok, terserah? Apa jangan-jangan kamu sudah menemukan gadis baru yang ingin kamu ajak bersandiwara lagi di depan Opah Carlos, huem?” Lagi, aku jadi cengengesan tak jelas di hadapannya. Namun, aku buru-buru mengangguk kecil. “Ya. Tapi, masih dalam pantauanku,” ungkapku malu-malu. Louis terdiam beberapa saat, sambil memperhatikanku dengan tatapan tajam. “Sampai kapan kamu akan main kucing-kucingan dengan Opah Carlos, Justin? Ingat, kesehatan Opah Carlos itu sangat penting!” “Ya, aku mengerti. Kesehatan Opah Carlos, memang sangat penting dan menjadi nomor satu untukku. Tapi, aku tidak bisa menikah sungguhan dengan gadis mana pun, sebelum aku mencapai tujuanku untuk menemukan p3mbunuh kedua orang tuaku, dan mereka harus menerima balasan yang setimpal atas perbuatannya.” “Heem, baiklah!” gumamnya pasrah. Aku sudah yakin, Louis akan mengerti dengan penjelasanku. Semua yang kami lalui beberapa tahun belakangan ini, bertujuan untuk mengungkapkan ketidakadilan dan kejahatan yang dilindungi oleh lembaga hukum dan aparat Negara yang bisa dibayar dengan materi semata. “Thanks, kawan!” ucapku lega. *** Menjelang malam, aku dan Louis meninggalkan markas besar. Sementara anak buahku, menjalankan tugasnya masing-masing sesuai dengan perintah kami. Ada yang berjaga di markas, ada yang berjaga di beberapa titik tempat hiburan club malam, ada juga yang berjaga di kediaman aku dan Louis. Setelah berpisah dengan Louis, aku pun segera mengeluarkan ponselku untuk segera menghubungi anak buahku yang tadi siang aku perintahkan untuk mengikuti Marco dan gadis yang berada di sampingnya. “Hallo, bagaimana hasil penyelidikan yang kamu lakukan? Apa yang kamu temukan dengan gadis itu?” tanyaku sungguh tidak sabaran. “Ya, Tuan. Gadis itu bernama Nona Areta Wilson Leonel. Usianya, menginjak angka dua puluh lima tahun. Nona Areta, merupakan salah satu ahli waris dari keluarga Leonel. Sejak kecil, Nona Areta sudah menjadi anak piatu yang ditinggalkan oleh Ibunya. Tidak berselang lama, Ayahnya menikah lagi dengan seorang janda yang memiliki satu putri. Mereka tinggal bersama dalam satu atap. Namun, menurut info yang saya temukan, sejak Nona Areta menjadi CEO di perusahaan keluarga mendiang ibunya, Nona Areta membeli apartemen untuk tempat istirahat pribadinya sendiri.” Aku cukup menyimak dengan tenang apa yang anak buahku sampaikan. “Terus, apa status gadis itu dengan Marco Fernandes? Kekasihnya atau selingkuh4nnya?” “Mereka sepasang kekasih yang sudah bertunangan, Tuan. Dalam waktu dekat ini, mereka akan segera melangsungkan pernikahan.” Deg! Aku cukup tersentak dengan apa yang baru saja kudengar. Ternyata, gadis yang membuatku terpikat itu merupakan kekasih sekaligus tunangan teman lamaku yang sudah berkhianat tanpa sepengetahuannya. Aku tidak akan membiarkan gadis itu menikah dengan pria brengs3k seperti Marco yang berselingkuh di belakangnya. “Menarik…,” gumamku lirih sambil mengulum senyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN