Bab 4.

1005 Kata
Pov Alice Ebis Negeri kami kalah, itu semua karena ayah memang tak menyangka Liberia akan menyerang. Padahal aku sudah memperingatkan berkali-kali. Kaisar bengis yang memimpin Liberia saat ini tidak peduli dengan kawan ataupun lawan. Rasanya begitu sesak, apalagi saat aku melihat Negeri kami rata dengan tanah.  Di keluargaku, aku adalah putri sesungguhnya. Ayah tidak memiliki anak laki-laki. Akulah pemimpin negeri Ebis yang di bumi hanguskan. Aku di minta mengalah oleh ayah karena dia tidak ingin aku membawa rakyat untuk mati sia_sia.  Negeri Ebis sangat damai, tak ada yang bisa di ungkapkan untuk surga dunia ini. Bahkan kuda berlari dengan bebas bak kupu-kupu. Tanpa ikatan atau cambuk sebagai bentuk kepatuhan. Aku mundur, dan tunduk bukan berarti kalah. Selama rakyat Ebis masih hidup, maka kami masih memiliki harapan untuk pergi dari sini. Hari ini aku bertemu dengan Kaisar Liberia, Julian Liberia. Tubuhku bergetar hebat, dan tangisku pecah bukan karena takut, terlebih karena aku marah diriku sendiri. Aku juga ingin berusaha sebisa mungkin dia tak datang menghampiri diriku, dia tak datang melihat wajahku terus menerus seperti yang para dayang katakan. Julian tidak menemui Permaisuri dan Selirnya, dia tergila-gila dengan pekerjaan dan pedangnya. Dia tergila-gila membunuh dan menundukkan kerajaan lain. Dia tak butuh wanita di sisinya, pria ini sangat kuat menggenggam posisi sebagai Kaisar. Julian terkenal dengan caranya sendiri. Tapi sayang, semuanya terasa aneh bagi diriku, tiba-tiba kaisar memanggil dan meminta aku untuk bersiap. Aku pikir ini lucu saja, bukankah dia tidak peduli dengan wanita?! Dia memaksa untuk bertemu denganku, padahal sudah jelas kan yang belum menikah. Aku yakin setelah ini kehidupan tenang, akan menjadi kacau karena ulah permaisuri dan para selir yang mengira aku mendominasi kaisar. Aku tidak bisa menolak, saat ini tubuhku telah sempurna walaupun tidak di mata mereka. Pintu gerbang terbuka lebar, aku dipersilahkan masuk menuju kamar kaisar. Aku melihat dia sedang mengotak atik senjata. Dia memanggilku agar lebih mendekat. Aku pun menolak saat dia ingin menyentuh tubuh ini. Tidak akan aku biarkan dia bertindak sesuka hati. Tapi sayang kekuatan yang aku miliki tak sebanding dengan dirinya. Pakaian ini sobek, tubuhku kini telah polos tanpa sehelai benang pun. Dia meminta aku untuk berputar seolah memeriksa segalanya. Aku melihat raut wajah Kaisar. Dia tampak kecewa dengan tubuhku yang biasa-biasa saja. "Tidurlah di sini malam ini, aku tidak ingin kau keluar dengan rasa malu." Ucapnya padaku dengan santai. Suara Barito yang sok berkarisma tidak terdengar sama sekali. "Apa kau ragu?! Aku akan melakukan apapun setelah kita menikah, ini hanya soal menunggu waktu, bukan?!" Aku mengangguk, berjalan menuju ranjang. Aku percaya pada Kaisar, dan jujur aku tak kuasa lagi untuk berdiri di hadapannya. Tubuh ini terasa sangat limbung, tak kuasa untuk berdiri, keadaanku tidak baik. Apa semua ini karena aku terlalu banyak menangis?!  Oh ya ampun, aku harus memiliki kekuatan lebih untuk bertahan hidup. Untungnya peliharaan Kaisar seperti mengerti dengan keadaan tubuhku. Dia datang mendekat dan menjilati diri ini. Kaisar bilang namanya Anabella, dia macan dahan dengan bulu keemasan. Terlihat anggun dan rupawan. Dia adalah macam dahan betina, aku tak menyangka bisa bertemu hewan npeliharaan sebesar ini. Kaisar pun bermain bersama Anabella, dan aku pun mulai memejamkan mata setelah menyantap beberapa makanan milik Kaisar. Aku merasa ada yang mendekat padaku, aku yakin itu Kaisar. Tapi entah kenapa hati ini tidak terlalu gelisah, aku yakin dia tidak akan mengingkari janji. "Tidurlah, besok kita akan menikah, lalu kau harus memuaskan segala keinginanku. Semua tentang dirimu ingin aku ketahui, percayalah padaku, Alice. Terkadang takdir itu sulit untuk ditebak, maaf karena rakyatmu harus mati di tanganku." Aku mendengar permohonan maaf itu samar-samar, karena tubuh ini sungguh lelah. Besok paginya, aku membuka mata lalu melihat begitu banyak orang di hadapanku. Mereka sudah siap membantu untuk menjalankan pernikahan yang megah. Tapi tiba-tiba seorang wanita yang sangat cantik dengan kasar menendang pintu kamar Kaisar. Dia menatapku dari atas sampai ke bawah, dia terlihat sangat marah dan ingin menerkam diriku. "Itu adalah jubah yang aku kenakan saat menikah dengan Kaisar, aku tidak Sudi jubah itu dipakai oleh MU. Letakkan kembali di tempatnya, terserah dia mau menggunakan jubah yang mana. Tapi tidak milikku " "Yang Mulia permaisuri anda salah paham, jubah yang anda miliki bercorak Naga, sedangkan ini bercorak burung Phoenix. Jubah ini sengaja yang mulia Kaisar tempah dalam waktu satu malam." Jawab kepala dayang padanya. "Kami hanya menjalankan perintah saja, jika permaisuri ingin marah silakan temui Kaisar, itu yang beliau sampaikan kepada kami. Tidak ada satupun yang boleh mengganggu pesta pernikahannya." Wajah permaisuri semakin murka, aku lihat dia menatap wajahku dengan lantang. Kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun. Aku tahu ini menyakitkan baginya, tapi aku juga tidak bisa menolak keputusan Kaisar. Sungguh aku hanya ingin menjadi selir yang terbuang. Aku tidak ingin melihat wajah Kaisar lagi setelah pernikahan ini. "Yang Mulia Permaisuri, saya tidak akan melampaui anda. Saya adalah wanita dari negeri yang dikalahkan, tidak ada hebatnya saya dibandingkan anda. Jadi di sini saya bermohon untuk tidak menyulitkan pelaksanaan pernikahan ini." Aku mengatakan itu dengan hati yang sangat tulus, tapi sepertinya permaisuri malah menganggap aku sedang mengejeknya. Entah dunia apa ini, sampai orang lain hanya memikirkan tentang dirinya saja. "Kau menghinaku? Kau mencoba menghinaku?! Kau itu sampah yang dibawa negeri lain atas kekalahannya. Aku tidak akan pernah merelakan Kaisar untukmu. Hinaanmu hari ini akan aku perhitungkan, ingat kehidupan selir tidak akan pernah di atas permaisuri. Dan satu lagi, aku tidak akan memaafkanmu jika malam pertama ini kau habiskan dengan Kaisar." Aku menelan saliva, mungkin benar apa yang mereka katakan. Desas-desus selama ini tidak salah. Kaisar memang tidak pernah datang ke kamar permaisuri, melihat raut wajahnya yang mengancam. Sebenarnya hanya perasaan sepi dan kecewa. Aku sangat yakin permaisuri begitu mencintai Kaisar. "Maaf Nyonya, sebaiknya kita menyiapkan diri untuk pesta. Saya tidak ingin Kaisar menyalahkan kami, hukuman Kaisar sangat berat." Aku mengalah, tidak ada orang yang boleh terluka karena diriku lagi. Aku juga ingin melihat berapa banyak selir yang dimiliki oleh kaisar. Mereka akan datang di acara ini, aku pun bisa menghitung. Atau aku bisa mencari teman bicara di sana. Pelayan pun mulai membersihkan tubuhku. Mereka melakukannya dengan berhati-hati dan sangat rapi, akupun merasakan wangi bunga menempel di kulit ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN