
Emosional dan dingin, Julian Liberia di kenal sebagai Kaisar tanpa ampun. Dia menghunus pedang tanpa berpikir dua kali.
Hari ini adalah kemenangan Kerajaan Liberia yang kesekian kalinya. Kerajaan yang mereka hancurkan pun menyerahkan Putri Alice Ebis, satu-satunya Putri di Kerajaan itu, dan dia di kenal sangat manja.
Wajah sang putri di tutupi oleh cadar, hingga semua orang berpikir dia memiliki wajah yang jelek. Belum lagi wangi darah yang melekat pada tubuhnya membuat sang putri di anggap kotor oleh orang-orang Liberia.
Namun sudah menjadi tradisi, kerajaan yang kalah akan memasukkan putri atau keluarga bangsawan terdekat menjadi selir di Kerjaan Liberia. Walaupun Kaisar belum tentu datang pada mereka, tetap saja keberadaan para putri akan di anggap sebagai bentuk kekalahan.
“Aku menginginkan Putri Alice Ebis malam ini! Silahkan siapkan segalanya.”
Perintah itu membuat para Menteri Kiri dan Menteri Kanan terkejut, padahal selama ini Kaisar Julian sangat enggan mendekat pada Permaisuri ataupun para Selir yang ada di Kerajaan.
Bahkan desas-desus yang beredar Permaisuri sempat murka dan menyiksa para Selir karena berpikir Kaisar menghabiskan malam di sana.

