bc

18 B'Day

book_age12+
34
IKUTI
1K
BACA
HE
student
drama
no-couple
lighthearted
female lead
others
school
like
intro-logo
Uraian

Kisah kakak beradik yang harus terpisah selama balasan tahun lamanya, dan harus kembali dipertemukan di suatu perguruan tinggi, dan mereka tidak saling mengenal satu sama lain.

Dyandra sosok seorang kakak yang cuek yang mencari keberadaan sang adik yang berpisah dengannya sejak kecil.

Putri, sosok yang dicari oleh Dyandra selama ini yang ternyata ada disekitar Dyandra.

Sejak awal Dyandra memang curiga pada Putri, namun dia tidak begitu yakin dengan kecurigaannya.

Hingga akhirnya, kebenarpun terungkap dan menunjukan rahasia yang sesungguhnya diantara Dyandra dan Putri.

Ternyata, bukan hanya Dyandra, tetapi Putri juga mencari keberadaan Dyandra dan keluarganya selama ini.

Tepat dihari ulang tahun putri yang 18 tahun akhirnya semua kebernaran pun terungkap dan Putri kembali bersama Dyandra dan keluarganya.

***

“Terimakasih atas semua anugrah terindah yang telah Engkau berikan diumurku yang ke18 tahun ini. Terimakasih karena Engkau telah mempertemukanku dengan keluargaku kembali.” Ucap syukur Putri.

chap-preview
Pratinjau gratis
Liburan Usai
Sudah hampir satu minggu ini Dyandra berada di rumah kedua orang tuanya. Memang sudah menjadi kebiasaan bagi Dyandra untuk pulang ke rumah setiap kali liburan di akhir semester. Kali ini Dyandra tidak pulang sendirian, dia ditemani oleh teman seperjuangannya Andy, yang juga ikut untuk berlibur ke tempat dimana orang tua Dyandra tinggal. Andy ini memang sangat dekat dengan Dyandra, sampai-sampai semua teman-teman mereka di kampus pun selalu menyebarkan rumor jika diantara Dyandra dan Andy itu memiliki hubungan yang lebih dari hanya seorang teman. Tapi percayalah, hubungan mereka itu hanya sebatas teman dan tidak ada hubungan yang lebih dari itu. Mereka berdua hanya memiliki hobby yang sama, pemikiran yang sama, keanehan yang hanya bisa di mengerti oleh mereka berdua dan yang pasti tujuan mereka pun sama, yaitu menjadi seorang seniman khususnya dalam bidang fotografi dan seni lukis. Dan harus di ketahui juga jika Andy dan Dyandra memang sudah berteman sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Itulah kenapa sebabnya mereka berdua sering terlihat bersama. Pagi ini, Dyandra sedang mengemas barang-barang bawaannya di kamar. Berhubung besok lusa mereka sudah mulai masuk kuliah, jadi mereka putuskan untuk kembali pulang hari ini. Saat Dyandra sedang sibuk melipat baju-bajunya ke dalam tas, Dyandra tidak sengaja menjatuhkan sesuatu dari dalam lemari tersebut. Dyandra mengalihkan pandangannya dan ternyata yang jatuh itu adalah foto seorang gadis kecil yang lucu. Putri, itulah nama gadis kecil yang ada di dalam foto itu. Putri adalah teman masa kecil Dyandra. Putri ini juga sudah Dyandra anggap seperti adiknya sendiri. Tapi sayang, mereka harus berpisah karena keadaan. Dyandra perlahan mulai meraih foto yang kini tergeletak di atas lantai. Perasaan pedih yang sempat dia rasakan dulu pun kini kembali muncul hingga membuat matanya mulai berkaca-kaca. “Put, kamu apa kabar? Kamu dimana? Udah sebesar apa kamu sekarang?” gumam Dyandra. Dyandra arahkan kakinya ke belakang, dia memilih untuk duduk di atas sebuah tempat tidur dan fokus memandangi foto yang dia pegang sambil mengenang tentang kisah masa kecilnya. Tiba-tiba Andy dengan permisi datang sambil terkekeh, dia terlihat sedikit antusias namun berubah heran dalam sekejap saat mendapati sang sahabat yang sedang duduk termenung sambil menatapi sebuah foto di tangannya. “Ndro, kenapa?” Mendengar Andy, Dyandra pun cepat-cepat menghapus air matanya. Dia tidak mau jika Andy tahu bahwa dia sedang menangis. Karena selama ini, Dyandra terkenal dengan julukan si jagoan yang tidak cengeng. “Nggak kok Ndy, aku nggak apa-apa.” Jawab Dyandra memaksakan senyum di wajahnya. Andy masih heran, dia sama sekali tidak percaya dengan jawaban yang Dyandra lontarkan. Matanya bahkan tidak beralih dari wajah Dyandra yang masih terlihat begitu sedih walaupun dia berbohong mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Andy pun duduk di sebelah Dyandra, lalu perlahan dia merebut foto yang sedang Dyandra pegang. Setelah dia dapatkan fotonya dari tangan Dyandra, Andy pun menyipit-nyipitkan kedua matanya untuk melihat gambar seorang anak kecil di dalam foto itu dengan lebih jelas. “Ini siapa? Kamu bukan sih Ndro?? Kok nggak mirip ya?” tanya Andy yang lalu menarik dagu Dyandra untuk dia bandingkan dengan foto anak kecil yang sedang di pegang olehnya. “Bukan!” Dyandra pun menepis tangan Andy dengan tanpa santai hingga membuat Andy pun keheranan. “Itu temen masa kecil aku. Dia juga udah aku anggep kaya adik aku sendiri. Bahkan Mama sama Papa juga udah sayang banget sama dia.” Jelas Dyandra. “Oh... aku kira ini kamu, tapi nggak mirip, yang ini lucu soalnya beda sama...” Perkataan Andy pun menggantung sementara matanya menatap Dyandra dengan tatapan yang meledek. Dyandra yang faham maksud Andy pun langsung mendelik sinis ke arah Andy yang sekarang sedang terkekeh. Dan saat Andy sadar dengan sikap Dyandra yang sudah mulai berubah pun langsung menghentikan kekehannya. Dari pada suasananya berubah menjadi peperangan, akhirnya Andy berinisiatif untuk mengalihkan perhatian Dyandra dengan beberapa pertanyaan. Karena sedikit ngeri untuk Andy jika Dyandra sudah menunjukan wajahnya seperti itu. “Hmm, terus dia sekarang kemana, Ndro?” tanya Andy serius sekarang. Mendengar pertanyaan Andy, Dyandra hanya bisa mengangkat kedua bahunya pertanda jika dia emang tidak tahu dimana keberadaan Putri sekarang. “Dulu, sebelum pindah kesini, aku sempet tinggal di suatu tempat Ndy, Pokoknya tempat itu banyak banget kenangannya.” Jelas Dyandra. “Hmm...” Andy hanya diam menanti cerita Dyandra selanjutnya. “Terus, waktu itu aku punya temen masa kecil, namanya Putri. Dia tinggal sama Mamanya di sebelah rumah, mereka tinggal cuma berdua karena Mama sama Ayahnya udah lama pisah, Mama sama Mamanya Putri emang udah sahabatan juga sih dari kecil, makanya Mama udah anggap Mamanya Putri itu kaya sodara sendiri.” “...” Andy masih setia untuk mendengarkan cerita Dyandra. Dyandra pun mencoba mengingat kembali dan menceritakan kisah masa lalunya yang hampir saja dia lupakan itu pada Andy. “Tiap hari aku sama Putri maen bareng, tidur bareng, ngapa-ngapain bareng pokoknya kita selalu sama-sama udah kaya anak kembar. Tapi, pas ulang tahun Putri yang ke-3 tahun, Mamanya Putri kecelakaan dan meninggal di rumah sakit.” Andy yang mendengarkan terusan cerita Dyandra pun menunjukan wajah terkejutnya. “Hah! Terus-terus?” “Ya, kata Mama sih, Mamanya Putri sempet ngasih amanat sebelum Mamanya Putri meninggal. Dia minta supaya Mama selalu jagain Putri dan sayangin Putri kaya anaknya sendiri.” “...” “Dan selepas kejadian itu Putri tinggal di rumah bareng aku, Papa sama Mama. Tapi… beberapa bulan kemudian tantenya dateng buat bawa Putri pulang ke rumah neneknya. Dan, kamu tau nggak Ndy?” “Nggak tau!” Dyamdra pun mendelik. “Ya, nggak tahu lah Ndro. Kamu kan belom cerita! Emang kenapa sama Putri?” Dyandra pun menghela nafasnya sesaat sebelum akhirnya dia melanjutkan kembali ceritanya. “Aku liat anak umur tiga taun itu nangis karena nggak mau ninggalin rumah. Tantenya yang cerewet itu malah bawa paksa Putri. Dan beberapa hari setelah itu, Mama sakit, dia terus manggil-manggilin nama Putri. Aku sama Papa sempet cari tau keberadaan Putri ke rumah neneknya, tapi katanya Putri sama neneknya udah pindah dan nggak tau pindah kemana.” Jelas Dyandra menundukan kepalanya. “Lah terus... nggak jadi ketemu dong sama Putri?” Dyandra pun menggelengkan kepalanya. Andy hanya terdiam, apalagi saat ini dia melihat sang sahabat yang berada di hadapannya terlihat begitu sangat sedih dan kehilangan. “Kayaknya berat banget ya buat jauh dari tuh anak, Ndro?” “Ya, bukan cuma aku sih Ndy… Papa, bahkan mungkin Mama yang paling terpukul atas semua ini. Dia selalu nyalahin dirinya sendiri karena nggak bisa pegang amanat dari Mamanya Putri. Makanya karena Papa nggak mau liat Mama makin larut dalam kesedihannya, akhirnya kita sekeluarga pindah kesini.” Andy pun perlahan mencoba mengusap-ngusap bahu Dyandra dengan ekspresi wajah yang juga ikut menunjukan rasa sedih. “Ndro, aku yakin kok, kamu bisa ketemu lagi sama Putri kecil kamu ini suatu saat nanti.” Kata Andy mengacak-ngacak rambut Dyandra menjadi berantakan. “Ish! Apaan sih ah!” amuk Dyandra menepis tangan Andy yang sedang terkekeh. Dyandra pun langsung merapihkan kembali rambutnya yang berantakan akibat ulah Andy. “Yaudah makanya jangan galau kaya gini ah! Jelek banget mukanya kaya gitu. Udah beres kan packingnya? Cabut sekarang yok! Nanti keburu siang lagi.” Ajak Andy sambil beberapa kali melihat ke arah jam di tangannya. Dyandra tidak menjawab pertanyaan Andy sebelumnya, dia hanya merespon dengan delikan mata sambil meniru cara bicara Andy dengan wajah menyebalkan. Kali ini, Andy juga ikut mendelik ke arah Dyandra. Dia sangat kesal jiga Dyandra sudah mengejeknya seperti itu. “Yaudah, ayok sekarang buruan!” Dengan rasa jengkel, Andy pun langsung menarik tangan Dyandra dengan sangat rusuh. Namuni eratan tangan Andy tersebut berhasil di tepis oleh Dyandra. “Iya bentar! Dikit lagi! Udah deh, mendingan kamu tunggu aja di depan. Bentar lagi aku beres kok.” “Yaudah buruan. Jangan lama-lama!” “Iya! Bawel banget sih heran!” Andy pun pergi meninggalkan Dyandra. Sementara Dyandra kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. *** Di halaman rumah, Andy sedang mengobrol dengan Papa dan Mama Dyandra sambil menunggu Dyandra yang masih sibuk dengan barang bawaannya di dalam. Tidak begitu lama, Dyandra pun keluar dengan sangat sibuk mengatur tali tasnya yang terlepas. “Ma, Pa, Iyan pamit ya...” kata Dyandra. “Ya, Papa sama Mama berdua lagi dong?” jawab Papa Agung. “Liburan semester selanjutnya kan Iyan pulang lagi Pa.” "Iya, tapi kan masih lama Yan." Protes sang Papa. "Sabarlah Pa, Iyan kan pergi buat ngejar ilmu supaya jadi orang sukses. Doain nih anaknya biar sukses." Kata Dyandra sambil menepuk-nepuk dadanya sombong. Sang Mama pun hanya tersenyum melihat tingkah anak semata wayangnya. "Iya sayang, Mama sama Papa selalu doain Iyan kok. Supaya Iyan jadi anak yang soleh dan pinter." Kata Mama Devina merespon Dyandra. "Andy juga jangan lupa di doain ya Om, Tante..." sambar Andy yang juga ingin di doakan. "Udah pasti semuanya Tante doain kok." Jawab Mama Devina. "Nggak usah di doain Ma. Anak Mama kan Iyan, bukan dia!" protes Dyandra. "Eh!" Andy pun hanya bisa mendelik ke arah Dyandra yang saat ini sedang menjulurkan lidahnya beberapa kali ke arah Andy. Sebelum pamit, Dyandra dan Andy pun bertengkar. Mereka sedikit berdrama saling menyikut dan mendorong satu sama lain hingga membuat Mama Devina dan Papa Agung pun tertawa melihat tingkah keduanya yang terlihat seperti anak kecil yang sama-sama tidak mau mengalah. "Om, Tante, anaknya nih!" kata Andy mengadu. "Tukang ngadu!" sewot Dyandra menepuk lengan Andy sangat keras. "Ah, Udah ah buruan cabut! Andy pamit ya Om, Tante." Kata Andy langsung menarik tangan Mama Devina dan Papanya Agung untuk mencium tangan mereka. Namun, belum juga Andy mencium tangan orang tua Dyandra, tangan Dyandra sudah dengan sangat kasar langsung merebut tangan kedua orang tuanya dari tangan Andy. "Iyan juga pamit ya Ma, Pa..." Andy hanya bisa mendelik melihat ke arah Dyandra dengan tatapan yang menunjukan bahwa dia sangat kesal. "Iya, kalian hati-hati di jalannya ya, liburan nanti pada kesini lagi biar Om ada temen lagi buat mancing." Kata Papa Agung menepuk-nepuk bahu Andy. "Iya om tenang aja Om, pasti kok." Jawab Andy pasti. "Idih!" Dengan tatapan sarkasnya Dyandra merasa heran melihat keakraban Andy dan Papanya. Andy yang menyadari sikap Dyandra pun bisa tertawa. Dia sangat tahu bahwa saat ini Dyandra sedang cemburu karena Andy dan Papanya yang mulai akrab. "Yaudah, Mama sama Papa hati-hati di sini ya, Iyan berangkat nih." "Iya sayang." Dyandra dan Andy pun akhirnya pergi dengan sangat rusuh. Sudah sangat di maklumi oleh Papa Agung dan Mama Devina jika mereka berdua itu memang sering bertengkar setiap harinya. Namun di balik pertengkaran mereka berdua, mereka bahkan sangat cocok dalam segala hal. Saat Andy dan Dyandra berjalan semakin jauh, Papa Agung dan Mama Devina pun hanya bisa tersenyum memperhatikan keduanya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali menatap keduanya. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook