7. Edukasi 1

1906 Kata
"Tumben ya Maya belum kesini?" Tanya Keisha pada Kindi dan Naira yang tengah duduk santai di bangku depan kelas. Mereka ini memang kebiasaannya seperti ini jika pagi, berkumpul terlebih dahulu sebelum jam masuk kelas. Mau itu di kantin, taman atau di depan kelas sekaligus. Kindi menggeleng pelan, sedangkan Naira menggedik kan bahu nya tak tahu. "Paling bolos lagi tuh anak," ucap Kindi sembari menyeruput ice teh kesukaan nya di pagi hari. Memang Kindi itu anak nya aneh, jika kebanyakan orang di pagi hari akan meminum teh hangat, Kindi malah kebalikannya. Meskipun sudah Naira, Keisha atau Maya ingatkan untuk tidak terlalu mengonsumsi Ice tetapi anak itu tak pernah mendengarkan nya. Menurutnya, sehat atau sakit nya badan bukan di atur oleh makanan tetapi oleh Tuhan yang maha Esa. Bijak sekali memang anak itu. Atau malah kesan nya pasrah? "Gue chatt dulu kali ya, siapa tahu kan emang dia beneran mau izin kemana gitu." Ucap Naira membuat mereka semua mengangguk setuju. Naira mulai membuka handphone, memasuki w******p dan langsung chatt dengan Maya. Naira - May, lo dimana? - Mau masuk gak lo?" - Lo gak apa-apa kan?" "Gimana?" Tanya Keisha. Naira menggelengkan kepalanya pelan, belum di balas tapi ceklis dua sih. Mungkin lagi di jalan, atau lagi ngapain gitu. "Hum iya deh, tunggu aja." Jawab Naira. Tring Naira segera melihat ke layar handphone, kala ada suara notifikasi yang terdengar. Maya - Gak penting! Naira mengerutkan kening nya bingung, membuat dia terdiam dan berpikir ada apa dengan Kenzi? "Eh itu yang balas Maya bukan sih?" Tanya Keisha penasaran. Untuk menutupi semuanya, termasuk dengan balasan Maya padanya. Naira jadi berbohong. Naira menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan kok. Ini dari mamih gue," jawab Naira membuat mereka semua mengangguk. "Loh itu kan Maya." Kindi menunjuk ke arah depan, di sana terdapat maya berjalan seorang diri memakai dress mini seperti biasanya. Wanita paling feminim di antara mereka bertiga adalah Maya, tetapi menurut mereka bukan hanya feminim Maya juga orang nya agak pendiam. Berbeda dengan Naira, Kindi dan Keisha. Mereka bertiga sangat aktif, bak cacing kepanasan. "May, lo kemana aja sih? Ini hampir kelas loh" tanya Naira. Tetapi respond yang di berikan oleh Maya di luar ekspektasi mereka. Biasanya juga Maya tak pernah bersikap seperti itu, lalu mengapa sekarang? Maya segera melenggang pergi ke dalam kelas, karena kebetulan ia juga melihat pak dosen berjalan ke arah nya, lebih tepat nya ke arah kelas nya. Mereka semua melihat ke arah Maya dengan tatapan tak percaya, "Kenapa tuh anak?" Tanya Kindi. Naira dan Keisha menggelengkan kepala tanda tak tahu, karena tak biasanya Maya seperti itu. Se marah-marah nya Maya wanita itu biasanya tak akan bersikap jutek. Dia akan memilih menceritakan apa yang membuatnya kesal, tetapi lihatlah sekarang? Jangan kan menceritakan atau berkeluh kesah, menyapa saja rasanya enggan untuk Maya lakukan. Mereka bertiga memutuskan untuk masuk ke dalam kelas, karena pak dosen juga sudah semakin mendekat. Tetapi ada yang janggal, banyak orang yang memakai baju serba hitam di lengkapi masker hitam di belakang pak dosen. Ingin sekali Naira melihat lebih jelas, tetapi tangannya di tarik cukup keras oleh Keisha. Lagi dan lagi, Naira di buat terkejut oleh sikap Maya. Awalnya wanita itu duduk di sampingnya, tetapi lihatlah sekarang, Maya berpindah duduk di bangku yang paling belakang. "Loh, kenapa sih ini?" Tanya Naira yang semakin kebingungan. Kembali, Kindi dan Keisha menggelengkan kepalanya. "Ayo duduk sekarang." Dosen itu datang sembari memberikan instruksi. Mereka semua duduk di tempatnya masing-masing kecuali Maya, di lihat wanita itu hanya menunduk sembari membaca sebuah buku tentang Hukum. Naira di buat terkejut karena orang-orang berseragam hitam itu mendatangi juga kelasnya bersama dengan dosen. Tetapi pria-pria itu hanya dua orang saja. Lalu sisanya kemana? Apakah ke kelas lain? ** Kedatangan Kenzi dan tim nya ke kampus sudah jelas untuk bimbingan kepada seluruh Mahasiswa dan mahasiswi, karena marak nya obat terlarang, p********n, serta Pela.cur dan kekerasan seksual yang sudah masuk ke dalam kota mereka. Itu tak boleh di biarkan, sehingga pihak kantor sepakat untuk memberikan edukasi langsung kepada seluruh sekolah dan Universitas yang berada di kota tersebut. Beruntung Universitas di kota ini hanya ada dua sehingga team yang di keluarkan tidak terlalu banyak. Kenzi segera membagi tugas dengan team nya, dia kebagian fakultas Hukum dan akan memberikan edukasi di sana seorang diri, tetapi saat dia akan melangkah maju dia di tahan oleh Aldi. Pria itu hanya mengikuti pak dosen yang bernama Reno, yang akan mengantarkan Reno ke tempat lain. Saat Kenzi masuk ke dalam kelas, dia sangat terkejut karena Naira yang di anggap sebagai anak SMA ada di kelas ini. Bahkan Aldi saja masih mengenali anak itu, ralat bukan anak-anak ternyata. Setelah kepergian pak Reno dan Aldi, Kenzi segera berjalan agak ke depan lalu memperkenalkan dirinya. "Pagi teman-teman semuanya." Ucap Kenzi mengawali kata dengan menyapa se-ramah apa yang ia bisa tetapi hasilnya tetap saja dingin, bahkan mereka menjawab sapaan Kenzi dengan canggung. "Hai pak." Ucap mereka semua, entah mengapa kompak memanggil dengan sebutan 'Pak' "Baik, pertama-tama perkenalkan nama saya Kenzi. Panggil saja kakak jangan bapak oke?" Mereka semua menjawabnya dengan serentak. "Saya disini akan memberikan edukasi tentang beberapa hal yang sekarang sedang terjadi di kota, apa sebagian sudah ada yang mendengar?" Kenzi mencoba untuk ramah sebisa mungkin, tetapi aura dingin nya masih terpancar. Mahasiswa atau mahasiswi menggeleng kan kepalanya pelan. "Untuk hari ini, saya akan memberikan edukasi tentang MARAKNYA KEKERASAN SOSIAL SERTA BANYAK NYA PS.K" Maya yang mendengar kata itu sedikit malu, dia terus menunduk bahkan dirinya tak tahu apakah Kenzi melihatnya atau tidak. Kejadian tadi pagi sangat memalukan, tetapi Maya tak akan pernah kalah begitu saja untuk mendapatkan Kenzi. "Kekerasan seksual adalah perbuatan menyerang, merendahkan, atau melecehkan seksualitas seseorang dan dilakukan secara paksa. Bentuknya tidak harus selalu kekerasan fisik maupun nonfisik, tetapi yang tidak sesuai dengan kehendak dan tidak ada persetujuan dari korban." Ucap Kenzi, sembari matanya terus menatap Maya dan Naira secara bergiliran. Sebenarnya pikirannya sekarang ini bercabang, entah mengapa nama Naira dan Maya memenuhi otak nya. Tetapi sebisa mungkin dia harus fokus. "Dalam penanganannya, kasus kekerasan seksual harus ditangani dengan perspektif korban. Artinya, melihat kasus dari kedudukan dan juga dampak yang terjadi kepada korban. Pengadaan layanan juga harus melihat kemungkinan trauma yang dialami korban sehingga tidak perlu menuntut korban untuk melaporkan kejadian yang ia alami. Hal yang diperlukan adalah mendengarkan dan bertanya apa yang dapat dibantu, yang terpenting adalah jangan berbuat suatu hal yang mendahului kehendak korban." Sambung Kenzi. "Apakah disini ada yang pernah mengalami kekerasan seksual? Kalau memang ada jangan takut, jangan bimbang dan jangan patah semangat, karena sesuatu bisa di perbaiki. Semuanya tidak ada kata terlambat!" Sambung Kenzi, perkataannya mampu menampar Maya. Tetapi wanita itu, asik dengan buku nya. saat ini kasus kekerasan seksual yang terungkap di Indonesia ibarat ‘gunung es’. Puncak gunung es adalah kasus yang terlaporkan lebih sedikit dibanding kasus yang belum terungkap, yakni dasar gunung es. Menurut hematnya, penyebab korban enggan melapor kasus kekerasan seksual yang ia alami karena kurangnya dukungan, lemahnya payung hukum, kurang pengetahuan ke mana harus melapor, serta potensi mendapatkan victim blaming dari lingkungan." "Dampak yang dialami penyintas kekerasan seksual sangat berbahaya dan bahkan mengancam masa depan. “Biasanya berupa dampak fisik dalam bentuk luka, disfungsi alat reproduksi, dan juga dampak psikologis yang jangka panjang. Sebagian besar korban mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder—red) yang membuatnya sulit menjalani keseharian selanjutnya." "Ada juga dampak sosial budaya, misalnya dikucilkan, dia juga mungkin menjadi sulit bersosialisasi, dan juga terjadi dampak ekonomi, misalnya kinerja menurun dan bahkan dipecat,” tambah Lintang pada diskusi tersebut. Lintang turut menyampaikan langkah-langkah penanganan jika seseorang melihat ada sebuah kekerasan seksual. Dalam dunia penanganan kekerasan seksual dikenal sebagai Bystander Intervention, yang meliputi direct, distract, documentate, dan delegate. Direct adalah mengintervensi tindakan kekerasan seksual yang sedang terjadi secara langsung. Distract adalah melakukan distraksi kepada pelaku ketika ia melakukan tindakan tidak terpujinya. Documentate adalah mendokumentasikan kejadian yang sedang terjadi dalam bentuk foto, video, ataupun kronologi sebagai barang bukti untuk dilimpahkan lembaga yang berwenang. Terakhir, delegate, mendelegasikan penanganan kekerasan seksual kepada pihak yang lebih kapabel dan aman." "Hal terpenting dalam melakukan Bystander Intervention adalah memastikan memiliki keamanan yang cukup dan kemampuan ketika mengalami serangan dari pelaku maupun orang disekitar kejadian tersebut. Selain itu, penting untuk tidak menyebarkan identitas korban ke publik karena berpotensi menjadi backfire terhadap keamanan korban." "Di sisi korban, jika mengalami kekerasan seksual, hal yang terpenting dilakukan adalah tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Korban dapat meminta bantuan saksi yang berada disekitar kejadian untuk mengumpulkan bukti, sertakan lampiran dampak fisik yang dialami. Kemudian cari lembaga pendampingan anti kekerasan seksual atau juga bisa ke lembaga bantuan hukum terdekat untuk melaporkan kejadian." "Apakah sampai sini sudah paham?" Tanya Kenzi, membuat mereka semua mengerti. Perkataannya yang ringan sangat gampang sekali di terima oleh otak mereka. "Nah, cukup sekian edukasi dari saya untuk satu bulan ke depan setiap hari minggu, saya akan terus memberikan edukasi. Jangan lupa hati-hati selama di jalan, jangan sampai pulang larut malam dan kehabisan bensin." Naira menggaruk tengkuknya yang tak gatal, itu seperti menyindir dirinya yang tempo lalu pernah pulang kemalaman, beruntung ada Kenzi jika tidak entah bagaimana nasib nya. "Sampai sini apakah ada pertanyaan? Agar lebih jelas?" "Maaf kak," mahasiswi mengacungkan jari telunjuk nya untuk bertanya. "Bagaimana cara menghindari kekerasan seksu.al?" Tanya Maria membuat Kenzi mengangguk. "Untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti: Selalu waspada, terutama saat sedang berada di tempat publik, termasuk di kendaraan umum Bekali diri dengan semprotan merica atau alat pembela diri lainnya Lakukan perlawanan, salah satunya dengan memukul kelamin pelaku Waspadai orang yang tidak dikenal Bekali diri dengan pengetahuan seputar kekerasan seksual" ucap Kenzi. "Sedangkan jika Anda merasa telah mengalami kekerasan seksual, beberapa hal di bawah ini sebaiknya dilakukan. Jangan menyalahkan diri sendiri Jangan langsung membersihkan anggota tubuh setelah kejadian Kumpulkan barang-barang yang bisa menjadi alat bukti Segera laporkan ke pihak berwajib Datang ke layanan kesehatan dan layanan kekerasan seksual Cari dukungan orang-orang terdekat" "Ada lagi pertanyaan?" Tanya Kenzi. Naira juga mengacungkan jempolnya. "Ya Naira silahkan mau bertanya apa?" Mereka semua melongo tak percaya saat Kenzi mengetahui nama Naira sedangkan tidak mengetahui nama yang lainnya. Kenzi menyadari kecerobohannya, dan dengan cepat menutup mulutnya. "Cieeee Naira sama pak Kenzi." Naira membulatkan mata tetapi ada rasa senang juga. "Sudah sudah.." Kenzi merelai karena tak ingin ada kelanjutannya yang membuat gosip ini menjadi booming dalam sekejap. "Silahkan," ucap Kenzi pada Naira. Sedangkan Maya, hatinya sudah panas karena mendengar Naira di jodoh-jodohkan dengan Kenzi, pria idaman nya. "Jika ada saudara, teman, atau bisa di sebut orang terdekat yang mengalami itu dan bercerita. Sebaiknya sikap atau tindakan apa yang harus kita lakukan?" Tanya Naira. "Baik pertanyaan yang menarik," jawab Kenzi sembari tersenyum, karena wanita itu lebih menggemaskan jika sedang serius. "Apabila ada kerabat, teman atau saudara yang bercerita kepada Anda bahwa dirinya sudah menjadi korban kekerasan seksual, lakukanlah langkah-langkah di bawah ini. Dengarkan cerita korban Jangan menstigma korban Beri informasi mengenai hak-hak korban Jangan tinggal diam Ikut kegiatan advokasi Dukung lembaga layanan korban kekerasan seksual" "Bagaimana Naira, apa jawabannya memuaskan?" "Sangat memuaskan pak, Terimakasih." Jawab Naira masih memanggil pak sedangkan Kenzi tak suka dengan panggilan itu. Naira sungguh tak menyangka, jika Kenzi akan bersikap ramah seperti ini, dia melihat sosok lain dari Kenzi saat seperti ini. Tetapi wibawa dan karismatik nya tetap terpancar, aura ketampanan nya tak pernah luntur dari penglihatan Naira, mungkin dari penglihatan sebagian orang juga. Menurut Naira, Kenzi sangat keren sekali. Ia tak akan pernah melepaskan Kenzi untuk siapapun termasuk Maya, jika memang benar wanita itu menyukai Kenzi. Naira tak ingin menjauh atau bahkan mundur dari Kenzi, menurut nya Kenzi adalah cinta nya. Ia jatuh hati pada Kenzi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN