Pagi telah menyapa suara alarm dari handphone milik Kenzi mampu membangunkan Kenzi dari tidur nyenyak nya. Kenzi melenguh, mengerjapkan matanya beberapa kali guna menetralisir cahaya yang masuk ke retina. Mata nya tak sengaja menangkap sosok wanita berkulit eksotis tertidur di kasur dengan sangat nyenyak. Tetapi ada yang menganggu sekaligus menjanggal di penglihatan Kenzi, wanita itu hanya memakai baju dalam; seperti bikini di tempat tidur nya.
Tidur tengkurap, tanpa selimut. Memperlihatkan kaki nya yang jenjang, b****g nya juga sangat sintal serta lekukan pinggang nya sangat sempurna. Kenzi menelan ludah nya susah payah, segera menundukkan pandangan takut jika hal-hal yang tidak di inginkan terjadi.
Tetapi, sekuat tenaga Kenzi menahannya. Sangat sulit, libido nya naik dan Kenzi sempat bingung menahan untuk tidak nafsu atau bagaimana cara menghentikannya, sedangkan di depan sana di suguhi pemandangan yang cukup indah.
Tanpa pikir panjang, Kenzi segera berlari ke kamar mandi. Melepaskan celana serta baju, menuntaskan hasrat nya seorang diri dengan tangan lincah nya. Sekalian mandi saja, pikir nya. Sial! mengapa libido nya sangat mudah sekali berdiri!
Sedangkan Maya, tersenyum penuh kemenangan. Sebelum Kenzi bangun dirinya memutuskan untuk membuka hampir seluruh pakaiannya, dia benar-benar terpikat oleh Kenzi memikirkan bagaimana jika Kenzi berada di atas nya, menggempur nya sampai diri nya meminta ampun atau sampai Kenzi berkata 'Aku membutuhkan mu lagi dan lagi' mungkin itu sesuatu yang paling indah bagi Maya. Perkataan yang Maya dambakan.
Maya sedikit kecewa, karena Kenzi malah pergi ke kamar mandi tetapi itu tak membuat nya putus asa. Sebisa mungkin dia akan terus membuat Kenzi jatuh ke pelukan nya, walau dengan cara yang sangat salah. Soal Naira? Biarkan saja. Maya sudah tak peduli, yang terpenting dirinya menginginkan Kenzi walau harus menyingkirkan Naira, itu tak menjadi masalah besar bagi nya, bukan?
Hasrat keinginan yang belum Maya tuntaskan membuat sesuatu di bawah sana basah sebelum melakukan, Hanya mendengar suara desahan Kenzi di kamar mandi saja membuat dia pusing bukan main. Dirinya menginginkan sesuatu itu sekarang, sesuatu yang akan menenggelamkan nya pada kenikmatan lagi dan lagi.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, Kenzi baru saja membuka pintu kamar mandi. Dengan wajah polos, Maya buru-buru duduk, mengacak-acak rambut nya.
"Kenapa kamu berpakaian seperti itu, Maya?" Nada Kenzi terdengar tidak suka dengan dirinya.
"Umhh, itu maaf. Aku memang sudah terbiasa tidur seperti ini, kalau aku tidak membuka baju aku tak akan bisa tidur malam." Alibi Maya, padahal sebenarnya Maya sangat tidak kuat terhadap dingin, tetapi demi Kenzi dia akan melakukan semuanya, termasuk mengorbankan sesuatu yang sangat berharga di tubuh nya. Apakah benar ini bisa di sebut cinta? Atau hanya obsesi semata saja.
Beruntung, celana pakaian yang di pakai nya senada berwarna merah maroon, kontras sekali dengan warna kulit nya yang tidak terlalu putih. Sehingga Maya berpikir, Kenzi akan masuk ke dalam perangkap nya dan harus ada perjuangan yang ekstra.
"Seharusnya kau memakai selimut! Dan besarkan AC! Tidak seperti ini caranya Maya." Gertak Kenzi, masih menampilkan nada yang tak suka. Kenzi beberapa kali menelan kembali saliva, karena melihat buah da.da Maya yang begitu bulat.
"Umhh, aku kegerahan kenzi. Lagian seperti ini sudah biasa, bukannya di pantai juga kamu pasti banyak menemukan nya?"
Kenzi menghela nafas kasar, dia duduk di sofa sambil memijit pangkat hidung nya. Pusing menerjang kepalanya begitu saja.
Perlahan tapi pasti, Maya tersenyum sinis. Wanita tanpa rasa malu itu turun dari tempat tidur merapikan rambut se punggung nya, berjalan perlahan layak nya seorang model, ah lebih tepat nya seperti seorang pe.lacur yang akan menggoda mangsa nya supaya bisa di puaskan.
"Apa kau tergoda dengan ku, hum?" tanya Maya tanpa rasa hormat.
Sementara dengan Kenzi, pria itu bukan lah pria yang bodoh. Dari semalam perkataan Maya simple padahal mengandung beberapa arti ke-dewasaan. Umur Kenzi tak semuda apa yang Maya bayang kan, begitu pun dengan pikiran nya. Apalagi profesi dirinya sebagai polisi, membuat Kenzi harus cerdas dalam menyikapi beberapa hal.
Kenzi menyimpan jari di dagu, saat Maya meleok-leokkan tubuh nya yang tidak seberapa itu. Kenzi tak menahan dia hanya ingin tahu saja sampai mana Maya bisa menggoda nya. Ingin bermain-main kah dengan Kenzi? Tidak semudah apa yang Maya bayang kan.
Saat Maya sudah berada di depan Kenzi, jujur saja Kenzi cukup tertantang untuk menikmati rasa tubuh itu; sekalian membuat Maya jera. Tetapi dia masih tau diri, tahu dosa dan tahu pekerjaan nya seperti apa. Dia tak boleh gegabah hanya karena seorang wanita. Dia tak ingin mengotori tubuh nya, nama nya serta keluarganya. Karir yang ia bangun selama kurang lebih delapan tahun tak ingin lenyap begitu saja. Masuk nya tak mudah, mempertahankan nya pun tak mudah juga.
"Aku tahu, kamu juga menginginkan ku bukan?" Tanya Maya dengan percaya diri nya, mata nya meleok seperti ingin di puji jika dirinya sangat lah sexy.
Kenzi hanya tersenyum, senyum sinis tetapi sangat terlihat manis bagi Maya.
"Tadi aku tak sengaja mendengar, desahan mu sangat menganggu pendengaran ku."
Maya tanpa rasa malu nya, mengangkang di depan Kenzi. Tugas Kenzi sekarang hanya menikmati peran, sampai mana Maya akan seperti itu.
"Boleh juga nih cewek," batin Kenzi dengan senyum miring nya.
Kenzi menikmati permainan yang sama sekali tak membuatnya nafsu. w************n itu menggoda layak nya seorang ja.lang. Seperti sudah berpengalaman saja dalam bidang ini, padahal notabe nya Maya masih anak kuliahan. Masih semester lima, merusak generasi bangsa saja bukan?
"Kenzi aku menginginkanmu!" Ucap Maya dengan suara desahan yang bagi Kenzi sangat memuakkan sekaligus menjijikkan.
Tidak ada yang lebih buruk daripada wanita yang menggoda pria secara terang-terangan.
Pernahkah mendengar kata w************n? Definisi w************n adalah seperti Maya sekarang, yang dengan lancang menggoda Kenzi di tempat nya sendiri. Padahal harus nya Maya malu, sudah di tolong tetapi tak tahu di untung.
Kenzi tersenyum miring, sembari melihat Maya yang tangan nya sudah beraksi memegang payuda.ra nya sendiri, sangat menjijikkan sekali bagi Kenzi. Bagaimanapun juga derajat wanita lebih tinggi, dulu ada seseorang yang mengangkat derajat wanita dengan susah payah. Tetapi sekarang, lihatlah? Wanita yang ada di depan nya tak menghargai perjuangan pahlawan-pahlawan terdahulu. Jika tak bisa menghargai orang yang telah berjuang, maka hargailah diri sendiri. Wanita layak nya emas permata, intan yang berharga, bintang yang berkerlip dengan manja. Sangat susah untuk di temukan sangat sulit untuk di dapatkan. Harus menyelam ke dasar laut, harus terbang ke angkasa untuk meraihnya dan itu sangat susah sekali. Tetapi wanita seperti Maya, tak tahu jika dirinya berharga sehingga terjual seperti perak yang murah.
"Kenzi... Kenapa kau tak menjawab ku? Humm? Ayolah, kita bermain di kasur. Aku janji, akan memuaskan mu kapan pun kau inginkan."
Maya semakin tersenyum miring, lihatlah tangan wanita itu sudah masuk, menerobos permata nya. Merusak bagaikan sesuatu layaknya yang sudah di rusak.
"Saya jijik liat kamu, Maya!" Ucap Kenzi dengan senyum miring yang selalu ia pertahankan.
"Aku sexy, banyak pria yang menginginkan ku." Jawab Maya dengan senyum menggoda.
Cuihhhh
Kenzi meludah ke arah depan, "Kamu tetap saja menjijikkan. Bagai wanita yang sudah berpengalaman, yang sudah di coba oleh banyak pria hidung belang."
"Aku memberikan semuanya untuk mu, percayalah!" Ucap Maya dengan wajah melas.
"Tapi kamu gak beda jauh sama jala.ng, ja.lang saja di bayar mahal sedangkan kamu telah menggoda laki-laki yang salah, tanpa mengharapkan bayaran apapun. Sangat memalukan sekali Maya!" Ucap Kenzi, perkataannya tenang tetapi penuh penekanan.
Maya murka, "Tak usah banyak bicara, aku sudah menjanjikan semuanya. jika kau akan sangat puas berhubungan badan dengan ku." tegas Maya.
"Ingat Maya! Saya adalah seorang polisi. Lihatlah, di sana ada CCTV." Kenzi menunjuk arah sudut kamar ini, di ikuti oleh mata Maya.
"Di sana juga ada CCTV." Ucap Kenzi sembari menunjuk ke arah lain. "Pun di sana juga ada!"
Maya di terkejut dengan apa yang Kenzi katakan. "Sa..sa_"
"Maya! Saya bisa saja menyebarkan foto dirimu ketika b***l seperti ini, sembari menggoda aparat. Dan kamu bisa di keluarkan dari kuliah, bisa juga terjerat hukum, saya bisa juga membuat masa depan mu hancur, tetapi saya tak sejahat kamu, saya masih punya hati." Ucap Kenzi membuat Maya membulatkan matanya.
"Ka..kamu!" maya menunjuk Kenzi dengan jari telunjuknya, membuat Kenzi semakin tak suka.
Kenzi bangun dari duduk nya, menghampiri Maya dengan gerakan lambat.
"Maya Adirina Yustiani."
Maya membulatkan matanya terkejut dengan apa yang Kenzi katakan barusan. Bagaimana bisa Kenzi mengetahui namanya panjang nya, ia tak pernah memberikan identitas kepada Kenzi.
"Maya, Come on! Umur mu masih kecil, masih di dua puluh tahun. Apa kau mau mengorbankan masa muda mu untuk menjadi seorang penggo.da? Apa kau ingin masa depan mu nanti menjadi seorang wanita pemuas nafsu pria be.jat?" Kenzi berdiri di hadapan Maya.
"Maya! Aku tak pernah tergoda pada seorang wanita yang sama sekali tak berpendidikan seperti mu." Kenzi tersenyum miring, "Apa kau sekarang sedang menjadi bibit, agar cita-cita menjadi pela.cur mu sukses di kemudian hari?" Tanya Kenzi, membuat Maya membulatkan matanya.
Perkataan Kenzi mampu membuat dirinya terdiam; membeku. Sangat sulit menyusun kata yang bagus untuk membalas perkataan pedas pria yang berada di hadapannya. Pria itu berpikir seolah-olah paling bijak saja.
"Sekarang benahi pakaian mu, dan silahkan pergi dari sini. Soal mobil mu kamu bisa menghubungi pihak kantor dan urus sendiri." Ucap Kenzi kembali membuat Maya menahan segala bentuk emosi nya.
Maya mulai berdiri, memunguti pakaiannya satu persatu, dan memakannya dengan segera. Ia menginginkan sebuah percintaan panas tetapi malah ucapan panas yang ia dapat kan. Lihat saja, Kenzi akan bertekuk lutut padanya dan akan memohon mohon padanya. Segala cara akan Maya lakukan agar Kenzi jatuh ke pelukannya. Maya bersumpah untuk itu!
Sedangkan Kenzi dia memilih untuk mandi, di bawah guyuran air shower dia berpikir, bagaimana jika dirinya tadi kebablasan dan malah tidur denga Maya. Sungguh itu adalah di luar pemikirannya, bagaimana bisa wanita tergoda dengan dirinya yang sangat cuek, ah apakah mereka menyukai Kenzi karena kecuekan?
Gara-gara Maya, dirinya harus mandi dua kali pagi ini. Sial! berungung cuaca mendukung.
**
"Ndan, kok muka nya kusut banget sih?" Tanya Aldi membuat Kenzi hanya berdehem kecil. Pagi ini memang mood nya sangat berantakan sekali.
"Kenapa sih? Kayak gak di kasih jatah aja sama pacar."
Mata Kenzi segera menatap tajam ke arah Bayu yang berbicara barusan, candaan mereka sangat tidak sesuai dengan keadaan.
"Hehe, maaf big bos." ucap Bayu, membuat Kenzi menghela nafas dengan kasar.
"Oh beneran gak di kasih jatah." kembali Bayu melontarkan ucapan nya, membuat Kenzi melotot.
"Kaburrrr.." Bayu berlari entah kemana, takut jika Kenzi akan mengamuk. Tidak lucu kan jika dirinya dan Kenzi bertengkar di kantor polisi.
"Ayo berangkat, kita harus udah ada di kampus buat ketemu rektor terlebih dahulu." ucap Kenzi, membuat mereka menganggukkan kepala dan segera menyiapkan tim yang sudah di tentukan sebelumnya.
*
Tidak ada yang lebih buruk daripada wanita yang menggoda suami/pacar orang lain. Seharusnya sebagai sesama wanita bisa saling menghargai, menikmati hubungan dengan orang lain jika sudah ada janji suci pernikahan.
Mencari pasangan adalah hak segala bangsa. Akan tetapi tak harus merampas hak milik bangsa lain juga kan?