5. Maya dan Kenzi

1710 Kata
"Babay pak pol, hati-hati dijalan ya!" ujar Naira sembari melambaikan satu tangan pada Kenzi yang baru saja menaiki mobil. Kenzi akan kembali pulang setelah mengantarkan Naira dan juga mamih Naira, Popi. Kenzi membawa mobil sendiri, sedangkan Naira membawa mobil dengan mamih nya yang menjadi penumpang. Anggap saja pengawalan secara pribadi. Kenzi hanya mengangguk dan tersenyum kecil, dia segera menghidupkan mesin mobil dan mengendarai nya. Sampai mobil Kenzi tak terlihat lagi, Naira baru masuk ke dalam rumah. "Naira, cepat mandi!" ujar Popi, saat Naira baru saja menginjakkan kakinya didalam rumah. Naira mendengus kesal tetapi masih menjawab. "Iya, Mih sabar dong hmm." jawab Naira. Naira menaiki tangga untuk sampai ke lantai dua, dimana kamarnya berada. Dia akan membersihkan badan nya terlebih dahulu sebelum berisitirahat. *** Kenzi bersenandung kecil sembari mengendarai mobil, mengikuti alunan lagu lewat radio yang di putar di mobilnya. Mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Avenger Sevenfold berasal dari Amerika serikat yang dibentuk pada tahun 1999, Kenzi jadi memikirkan sosok wanita mungil saat bait demi bait itu terdengar indah di telinganya, siapa lagi kalau bukan Naira. A lonely road, crossed another cold state line Miles away from those I love purpose undefined While I recall all the words you spoke to me Can't help but wish that I was there And where I'd love to be, oh yeah Kenzi bersenandung dengan merdu mengikuti bait demi bait lagu, suara nya memang tak bisa di ragukan lagi. Dear God the only thing I ask of you is To hold her when I'm not around When I'm much too far away We all need that person who can be true to you But I left her when I found her And now I wish I'd stayed 'Cause I'm lonely and I'm tired I'm missing you again oh no Once again Kembali lagu yang sudah lama itu membuat mood Kenzi naik dalam seketika. There's nothing here for me on this barren road There's no one here while the city sleeps And all the shops are closed Can't help but think of the times I've had with you Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah Wanita itu sangat ceria dan menggemaskan menurutnya, kecantikan natural Naira tak bisa lagi diragukan. Tapi sangat disayangkan, Naira masih Sekolah Menengah Atas. Ia tak mungkin mencintai wanita di bawah umur tetapi di lain hatinya mana mungkin juga dia menyukai Naira lebih dari sekedar rasa suka karena wanita itu sangat menggemaskan, kalau sampai Kenzi menaruh perasaan bisa ia yakini teman-temannya pasti akan menganggapnya sebagai p*****l. "Ngapain juga gue mikirin bocah itu." Kenzi bermonolog, dia menepis kasar pikiran tentang Naira yang hinggap di benaknya. "Gak boleh dibiarkan nih, kayak yang gak ada cewek lain aja sih lo, Ken!" kembali, Kenzi bermonolog. Meyakinkan hati agar tak terus menerus memikirkan Naira. Dia memutar stir dan belok ke arah kiri, niatnya dia akan menginap di apartemen miliknya, karena kalau pulang akan memakan banyak waktu di perjalanan. Cit- Kenzi menginjak rem mendadak, kepalanya sampai terhuyung ke depan. Untung saja, dia mengenakan sabuk pengaman. Jika tidak, dia tak tahu bagaimana nasib badan dan kepalanya yang membentur stir. "Ah sial!" Kenzi segera turun dari mobil dengan perasaan kesal dan marah bercampur menjadi satu. Dia berjalan ke arah depan, terkejut karena menemukan wanita yang tergeletak begitu saja di depan mobilnya. Kenzi mengernyit bingung, sebelum mendekati wanita itu dia melirik ke kanan dan ke kiri. Kenzi berbalik arah ke dalam mobil, untuk mengambil senjata yang akan ia masukkan ke dalam jaket, berjaga-jaga dengan sekitar. Maraknya p********n dengan cara seperti ini memang sudah tak asing, dimana ada seseorang yang pura-pura tergeletak di tengah jalan, dan akhirnya ada beberapa orang temannya yang membatu. Kenzi berjalan ke arah wanita itu, dia menyingkap rambut yang menutupi wajah wanita itu. Kenzi mengernyit bingung, karena ada darah di pelipis si wanita itu. Tanpa menunggu banyak waktu lagi, dia segera mengangkat wanita itu dan memasukkannya ke dalam mobil, jok belalang dengan susah payah. * "Bangun." ujar Kenzi, dia sudah membersihkan darah di pelipis wanita itu. Sekarang ini, dia sedang berusaha membangunkan wanita itu dengan kayu putih. Niatnya akan pergi ke rumah sakit harus tertunda, karena jarak yang begitu jauh. Jadilah, dia lebih memilih wanita itu untuk ia bawa ke apartemen nya, karena apartemen miliknya sudah sangat dekat di tempat kejadian tadi sekitar tiga menit sampai. Lenguhan dari bibir sang wanita itu, membuat Kenzi tersenyum. Akhirnya wanita itu bangun, tanpa harus ia bawa ke rumah sakit. "Awsh-" ringis wanita itu sambil memegangi pelipisnya, dia melihat sekeliling dan ternyata bukan dirumahnya. Seketika, Maya terkejut ia takut jika ia di apa-apakan oleh penjahat yang mencegatnya tadi. "Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Kenzi, seakan membuyarkan keterkejutan wanita yang berada di hadapannya. Wanita itu segera melihat ke asal suara. Seketika dia membulatkan mata, dan menatap tak percaya ke arah pria yang berada didepannya. "Kamu masih ingat nama kamu, kan?" Kenzi kembali melontarkan pertanyaan. Dia hanya mengetesnya jika wanita itu tak hilang ingatan, karena akan sangat merepotkan jika hal itu terjadi. "Ma-maya." jawab wanita itu gugup, membuat Kenzi mengernyitkan dahi bingung. "Oke Maya, rumah kamu dimana?" tanya Kenzi, berniat akan mengantarkan Maya ke rumahnya. Karena sangat tak mungkin dia berduaan dengan wanita asing di dalam satu ruangan. "Di permata." jawab Maya, jawabannya membuat Kenzi membulatkan matanya. "Butuh waktu satu jam, ya." Maya mengangguk. "A-aku boleh menginap disini, kan? Rasanya lelah sekali." Kenzi mengerutkan kening, nampak berpikir sejenak sebelum dia memutuskan sesuatu. "Ya, dan saya akan pulang ke rumah. Besok kamu bisa meninggalkan apartemen ini." jawab Kenzi membuat Maya mengangguk. "A-aku tidak bisa tinggal disini sendirian, bisa tidak kamu tetap disini. Aku ti-tidak akan macam-macam." ujar Maya, terbata-bata. Kenzi yang akan beranjak segera menunda niatnya, dan menatap Maya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Beberapa detik berlalu, Kenzi tertawa cukup nyaring membuat Maya, mengerutkan kening. "Seharusnya pria yang berbicara seperti itu, ah apa kamu seorang wanita succubus yang penuh nafsu?" tanya Kenzi, menaik turunkan alisnya. Membuat kadar ketampanannya semakin tinggi, bahkan Maya tak sabar untuk memeluk Kenzi. Dalam ke pura-puraan nya, Maya nampak tersenyum polos, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. "Ya, kamu benar. Kalau kamu berbuat macam-macam, aku tinggal melaporkanmu ke kesatuan, pasti kamu akan dipecat menjadi polis." jawab Maya. "Ah padahal aku ingin sekali, kamu macam-macam padaku." sambungnya, namun perkataan terakhirnya hanya ia ucapkan dalam hati. Maya masih waras, untuk tidak berbicara hal yang tak sopan seperti itu dihadapan Kenzi yang notabene adalah aparat. Kenzi tersenyum kecil, wanita yang ada dihadapannya memang cantik, stylish, modis, dan menarik dia adalah tipe-Nya. Tetapi, meskipun Maya adalah tipe dirinya, Kenzi tak tertarik pada Maya. Akhir-akhir ini ada satu nama yang membuat Kenzi terus menerus memikirkannya. "Jadi, bagaimana kamu tahu kalau saya adalah polisi?" Pertanyaan dari Kenzi, membuat Maya gelagapan. Dia menunduk, dan menggaruk rambutnya sedikit. Memikirkan kata-kata yang pas untuk didengar. Tak mungkin juga, kalau dirinya mengagumi Kenzi, karena sahabatnya, Naira. "Ah itu.." Maya menjentikkan jari telunjuknya. "Aku kenal di i********:, bukannya kamu sudah famous disana? Followers mu begitu banyak." sambung Maya. Kenzi mengangguk-anggukan kepalanya, dan mengangguk mengerti. Memang banyak sekali orang yang mengikuti dirinya di i********:. Entah teman, rekan, bahkan orang asing yang katanya sangat mengidolakan dirinya. Bahkan Kenzi juga bingung dan sempat berpikir, kenapa dirinya begitu digilai para wanita. Apakah karena tampan? Atau malah karena jabatan dan seragamnya? "Boleh pinjam handuk? Aku ingin mandi." ujar Maya dengan hati-hati. Tanpa menjawab, Kenzi segera beranjak. "Handuk ada di lemari. Kalau begitu, saya permisi dulu keluar." Maya segera menoleh cepat ke arah Kenzi. "Sudah ku bilang, aku tak bisa sendirian ditempat asing." jawab Maya sambil memanyunkan bibirnya kesal. "Saya hanya akan mencari makanan. Mandilah dengan tenang!" jawab Kenzi dingin. Karena mendengar nada dingin yang seperti itu, Maya tak bisa mengelak lagi. Bahkan Kenzi, sudah melenggang pergi. "Ashhh, sial! Gagal rencana gue, buat bikin Kenzi tergoda." ujar Maya, menghentak-entakan kakinya kesal. Dia segera pergi ke kamar mandi. "Lihat aja nanti. Kamu akan menjadi milik aku." lirih Maya, lalu segera membuka baju untuk mandi. Badannya begitu lengket. ** Saat Maya keluar dari kamar mandi, menggunakan baju yang lengkap; sama seperti tadi. Dia tak melihat ada Kenzi. Maya berpikir Kenzi belum pulang. Beberapa menit menunggu, akhirnya Kenzi datang dengan membawa satu kantong kresek. "Makan." jawab Kenzi, nada suaranya masih terdengar dingin. Daripada Maya terkena masalah, lebih baik dia menuruti keinginan Kenzi terlebih dulu. Kenzi duduk di sofa sambil memainkan handphone nya. "Apa, kamu gak akan makan?" tanya Maya. Kenzi menggeleng, "Sudah." Maya menghela nafas, pria yang ada dihadapannya begitu dingin. Awas saja nanti, akan Maya pastikan Kenzi bertekuk lutut dan tergila-gila padanya. "Bagaimana, caranya mengurus mobilku?" tanya Maya, hati-hati. Dia sampai lupa dengan mobilnya yang dibawa oleh para penjahat. "Besok lapor ke kantor polisi, jelaskan kronologis nya bagaimana. Kalau saya ada disana, saya akan membantumu." jawab Kenzi, berbicara tanpa melihat lawan bicaranya sedikitpun. Maya mengangguk. "Terimakasih, kalau saja gak ada kamu. Gak tahu bagaimana nasibku." Setelah mendengar pembicaraan dengan nada tulus seperti itu, barulah Kenzi menatap Maya yang wajahnya sudah terlihat lebih segar. "Sudah sewajarnya." jawab Kenzi. "Bagaimana dengan makan mu? Sudah selesai?" tanya Kenzi. Satu burger dan ayam KF* sudah Maya santap dan ia habiskan. "Aku akan tidur di sofa." ujar Maya, namun Kenzi segera menggeleng pelan. "Saya yang akan tidur di sofa, silahkan tidur di kasur." jawab Kenzi. Perlakuan Kenzi yang manis, tanpa sadar menjadikan Maya semakin terobsesi untuk memiliki Kenzi. Maya mengangguk, lagi mengucapkan kata terimakasih. Setelah itu, dia pergi ke kasur. Tidur tanpa menggunakan selimut. Beberapa menit kemudian, Kenzi mulai pegal. Sedari tadi, dirinya berselancar di handphone. Dia melirik ke arah Maya, dan segera membulatkan matanya. Kenzi buru-buru mengalihkan anestesinya, agar tak melihat lekuk badan Maya yang memang menurutnya sangat bagus, bak model profesional. Nafas Kenzi memburu, bisa-bisanya baju Maya tersingkap sampai memperlihatkan punggung mulusnya. Kenzi normal, melihat itu tentu saja dia pasti akan tergoda. Berdua di apartemen, dengan seorang wanita cantik dan sexy, pasti sebagian orang akan memanfaatkan situasi seperti ini. Tetapi, tidak dengan Kenzi. Kenzi tak akan menjadi b******k, hanya karena wanita itu tak sengaja bajunya tersingkap saat tidur. Kenzi masih berpikiran waras, kalau harus melakukan hal gila seperti itu. Daripada berpikiran yang tidak-tidak, Kenzi memutuskan untuk segera merebahkan tubuhnya di sofa, dia tidur terlentang dengan menutup mata menggunakan kedua tangannya. Apartemen Kenzi kamarnya tak terpisah. Sengaja Kenzi menggabungkan semuanya, terkecuali kamar mandi agar lebih simple, dia tak suka dengan ruangan yang tertutup menurutnya itu sangat pengap sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN